Lomba Resensi Zikrul Hakim

Category: Books
Genre: Romance
Author: Ida, Pipiet, Awy Dan Leyla.
Lomba Resensi 5 Buku Penerbit Jendela (Grup Zikrul Hakim)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam kreatif!

Buku saat ini bukan hanya sekedar bahan bacaan pengisi waktu luang semata. Lebih dari itu buku memiliki peran tersendiri sebagai sesuatu yang menginspirasi serta menyebarkan hal-hal positif yang tentunya berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penerbit yang konsen menghadirkan buku-buku inspiratif dan berkualitas, Jendela (Grup Zikrul Hakim) terus memberikan alternatif bacaan yang segar, menghibur, inspiratif dan tentu saja mencerahkan pembacanya. Ini dibuktikan dengan buku-buku yang telah terbit dan berhasil menarik animo masyarakat luas.

Beberapa buku yang baru saja diluncurkan belakangan ini juga tak kalah menarik, 5 buku inspiratif yang siap memberi warna berbeda pada dunia perbukuan di negeri ini.

Kelima buku tersebut adalah Orang Bilang Aku Teroris (Pipiet Senja), Cintaku di Negeri Jackie Chan (Ida Raihan), Catatan Cinta dari Mekkah (Awy Ameer Qolawun), Aku Tidak Membeli Cintamu (Desni Intan Suri) dan Catatan Ibu Bahagia (Leyla Hana).

Untuk itu kami mengajak pembaca sekalian untuk berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku Jendela (Grup Zikrul Hakim) dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta adalah WNI berdomisili di mana pun
2. Membuat resensi dari 5 buku yang disebutkan di atas (boleh salah satu/semuanya) dengan ketentuan panjang naskah 2-3 halaman folio, margin 3 (atas, bawah, kanan, kiri), jarak spasi 1,5, font Times New Roman
3. Naskah dikirim ke email pipiet_senja@yahoo.com cc: remonagus@yahoo.com dalam format attachment (bukan di badan email) disertai biodata dan nomor yang bisa dihubungi dan mencantumkan LOMBA RESENSI PENERBIT ZIKRUL HAKIM GROUP_NAMA PESERTA (contoh: LOMBA RESENSI PENERBIT ZIKRUL HAKIM GROUP_TANIA PUTRI) pada subject email dan juga melampirkan bukti pembelian buku berupa scan struk pembelian.
4. Selain dikirim via email, peserta wajib mempublikasikan naskah resensi di internet. Boleh melalui blog, website atau catatan/note Facebook dengan men-tag atau share ke akun Pipiet Senja dan Remon Agus serta menyebarkan info lomba ini (boleh terpisah/menyatu dengan naskah lomba) kepada minimal 10 orang atau ditampilkan di blog atau website masing-masiing. Bisa juga link naskah resensi dicantumkan pada situs www.zikrulhakim.com di bagian buku tamu.
5. Lomba ini dilaksanakan mulai 14 Maret 2012 dan ditutup pada 16 Mei 2012 pukul 24.00 WIB
6. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Adapun pemenang lomba ini akan diambil 5 pemenang dengan hadiah sbb:
Pemenang pertama :P aket buku senilai Rp. 750.000,-
Pemenang kedua :P aket buku senilai Rp. 600.000,-
Pemenang ketiga :P aket buku senilai Rp. 500.000,-
Pemenang keempat :P aket buku senilai Rp. 400.000,-
Pemenang kelima :P aket buku senilai Rp. 300.000,-

Serta ada hadiah spesial untuk siapapun yang naskah resensinya dimuat di media cetak (koran/majalah).

Selamat membaca buku-buku terbaik dari Jendela (Grup Zikrul Hakim) dan berbagi kesan kepada masyarakat literasi Indonesia..

Selamat berkarya!

PJ Jendela (Grup Zikrul Hakim)

[On The Way Home] Kutemukan Wajah Tuhan

By: Ida Raihan

 

 

“Tak ada lagi dirimu.” Rasa sepi mula menyusup meskipun berada di keramain ribuan manusia. Saat seperti itu ingin sekali ditelepon seseorang. Seseorang yang mau menemani perjalanan panjang meskipun hanya berbentuk suara (emang suara ada bentuknya?). Ingin menghubungi teman terdekat yang pernah membantu kesulitan diri ini ketika barumenginjakkan kaki dikotaJakarta, tetapi ingat ia pernah berpesan, tak ingin lagi mendengarku menyebut-nyebut sosok ‘dirimu’. Ingin menelepon sahabat yang yang dulu tempat curhat, tapi ingat dia sudah berucap, ‘Jika kamu masih ingin bersahabat denganku, maka lupakan dia!” Maka sendiri disana, di pojok kapal sambil menyaksikan pulau yang hampir ditinggalkan. Mengingat setahun yang lalu, saat ‘dirimu’ masih menemani perjalananku. Airmata hampir menitik ketika tiba-tiba teringat sebuah firman, ‘Maka di mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.’ [Al-Baqarah: 115]

Seketika aku mendongak. Gelap di depan membuatku yakin di sanalah wajah Allah. Tersenyum menatapku. Dia akan selalu ada untukku. Dia akan selalu menemaniku. Debur ombak menghantam badan kapal. Angin laut kencang menerpa. Begitu kuat, mengibarkan semua pakaianku, hingga aku merasa kwalahan mencegahnya.

“Tidurlah. Selamatkan pikiranmu. Jangan menangis, jangan bersedih. Mimpi indahmu tetap menunggu untuk kau jemput. Jangan lagi mengingat luka yang membuatmu hancur. Allah ada bersamamu. Jangan berharap ada teman lagi. Allah menemani.” Bibir yang kedinginan akhirnya mengalah. Berusaha menundukkan hati. Diikuti langkah kaki menuju ruangan di dalam kapal Ferry. Pilihan hidup, atau tepatnya takdir, memang mengharuskan untuk tidak bergantung atau berharap pada siapapun, mahluk Allah. ketika orangtua merasa khawatir dengan anak perempuannya yang akan menyeberang lautan sendirian, aku berusaha meyakinkan mereka, bahwa semua akan baik-baik saja.

“Perbanyak baca sholawat. Dzikir.” Teringat pesan ibu saat kantuk kembali menjalari syaraf-syarat di kedua mataku. Pesan itu disampaikan beliau ketika kukabari aku akan pulang ke Lampung.

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannasiir..” Bergumam memantapkan hati saat memasuki ruangan seraya menyebarkan pandangan untuk melihat kursi yang kosong. Hampir semuanya penuh, oleh kaum Adam yang sebagiannya sedang ngobrol, sebagiannya lagi pulas. Jam menunjukkan angka 23:20pm. Sebaris kursi yang diapit dua orang pria di depan dan belakang tampak masih kosong.

“Aku lelah, Allah. Aku ngantuk. Hanya ini satu-satunya tempat. Maka jagalah aku.” Gumamku lagi seraya mendekati kursi yang kosong. Akupun duduk disana, pria yang di depanku menatap beberapa saat, aku tidak peduli. Lagi-lagi membaca doa perlindungan kepada Allah.AgarIamenjagaku.

“Hei!” aku hampir kehilangan kesadaran ketika tiba-tiba seorang pria berperawakan kecil hitam membangunkanku. Lalu duduk di barisan kursi di depanku.

“Bagaimana kamu tau aku di sini?” Tanyaku, menatapnya. Dia adalah kondektur bus yang kutumpangi malam itu.

“Aku melihat jilbabmu.” Sahutnya.

“Aku tidak ada teman.”

“Aku menemanimu.” Sahutnya tulus. Kutatap sekali lagi wajahnya. Masih sangat belia. Dari pertama aku memasuki busnya sejak dari terminal Lebak Bulus, pria ini sudah tampak tulus melayani. Dan dia begitu cekatan membetulkan saat bus mengalami kerusakan di jalan.

“Berapa umurmu?” Tanyaku lagi.

“Dua puluh satu, mungkin.”

“Mungkin?”

“Aku lahir tahun 1991.”

“Bulan? tanggal?”

“Tidak tau!”

“Kamu anak jaman sekarang. Bagaimana kamu bisa tidak tau angka kelahiranmu?”

“Ibuku meninggal ketika usiaku 2 tahun. Aku ikut paman. Disekolahkan, tetapi anak paman juga adalima. Jadi enam denganku. Terkadang kami berantem, jadi aku melarikan diri dari rumah.”

“Ayahmu?”

“Dia menikah lagi dengan pegawai negeri.”

“Oh.” Kami mengobrol sambil berjalan menuruni tangga menuju dek bawah. Di mana angkutan umum, dan semua jenis kendaraan berada.

“Aku hidup di jalanan dan bus, sejak usia enam tahun. Tapi aku bisa baca dan menulis alakadarnya.” Lalu panjang lebar ia menceritakan pengalaman hidupnya. Dari mengikuti sopir bus, bantu-bantu. Hingga melamar kerja di perusahaan tempatnya jadi kondektur saat ini. Saat itulah, aku mulai jatuh hati kepadanya. Tepatnya pada perjalanan hidupnya. Aku ingin tahu seluk beluk kehidupan para sopir dan kondektur.

Ide bagus untuk tambahan cerita buat novelku. Aku membatin.

 

 

Bintaro, Kamis, 5 April 2012 (22:23pm)

http://qqcakep.multiply.com

http://idaraihan.wordpress.com

[Aku Dan FLP] Pertemuanku

Oleh: Ida Raihan

Lahir di keluarga yang suka membaca merupakan sebuah berkah tersendiri bagiku. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan melihat ayah dan ibu membaca buku. Bersyukur sekali, karena kesukaan kedua orangtua itu, menurun kepada kami anak-anaknya. Terutama aku.

Ketika melihat kakak-kakakku membaca buku perjuangan, aku selalu duduk di sampingnya ikut menyimak meskipun ketika itu belum mengenal huruf. Hingga sampai hafal halaman berapa yang bunyinya apa.

Selain suka membaca, aku termasuk pembaca yang memiliki kejelian dalam memperhatikan bentuk tulisan, sehingga ketika aku mulai bisa menulis, akupun sangat suka ikut-ikutan menulis. Menulis untuk diri sendiri dan tak pernah memberikannya kepada siapapun. Jangankan mengirimnya ke media, menunjukkan ke orang lain saja tidak kulakukan. Namun, aku merasa sangat bahagia ketika ada yang menemukan tulisanku tersebut. Membacanya, lalu mengomentari bahwa ia menyukai tulisanku. Aku jadi sering membuat cerita-cerita pendek yang kemudian sengaja kubiarkan tergeletak begitu saja agar dilihat oleh teman lalu dibacanya. :D

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku telah hijrah ke negaraHong Kong. Tepatnya tahun 2004, aku bertemu dengan dua orang yang berasal dari Jawa Timur. Sundari dan Atik namanya. Kami sangat akrab. Setiap libur jalan-jalan bersama. Memburu tempat-tempat menarik untuk dikunjungi bersama, makan bersama. Kami senantiasa tertawa bahagia.

Hingga suatu ketika, saat kami sedang memesan soto di sebuah taman di daerah Hong Kong, seorang wanita yang tidak kukenali duduk di sampingku, dengan membawa sebuah koran berbahasaIndonesia. Saat itu tahun sudah memasuki angka 2005.

“Boleh aku pinjem korannya, Mbak?” Tanyaku ketika itu. Serta merta perempuan itu mengulurkan korannya kepadaku. Mulailah aku membuka-buka koran tersebut. Dan baru berhenti ketika membaca judul besar-besar berbunyi, ‘BMI Hong Kong Menerbitkan Buku’. Aku terhenyak membaca itu. Nama Wina Karnie dan beberapa temannya disebut-sebut. Juga sebuah komunitas bernama FLP.

“FLP?” Gumamku pelan. Ini pasti berhubungan dengan Pena. Batinku. BMI Menulis… membuat buku… seketika aku teringat dengan hobyku menulis.

Mengapa mereka bisa? Siapa Wina Karnie dan teman-temannya? Bekerja sebagai apa dia di sini? Mengapa bisa membuat buku? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi ruang memoriku. Tak terasa, airmataku menitik oleh rasa yang membuncah di dada. Keinginan yang begitu kuat untuk bertemu Wina Karnie dan kawan-kawannya.

“Aku harus mencari FLP.” Bisikku lagi. “Tapi di mana?”

“Duh… segitu seriusnya, ampek menangis.” Tiba-tiba, Mbak Ati, temanku mengagetkan. Seketika aku mengangkat kepalaku. Menatapnya. Kusadari pandanganku mengabur. Akhirnya, dengan lirih, sambil mengusap airmata di pipi, aku berucap, “Aku juga ingin menulis begini, aku bisa…”

Sore itu juga aku pulang ke rumah. Beruntung sekali si pemilik koran tidak keberatan ketika korannya kuminta. Kugunting potongan berita tersebut, satu yang masih kuingat. FLP. Aku harus menemukannya. Begitu tekatku.

Memasuki 2006, aku yang suka sekali keluyuran ke mall, pantai, dan taman-taman indah bersama Sundari, pergi ke Taman Lai Chi Kok – Mei Foo, Hong Kong. Tanpa disangka-sangka, disanaaku bertemu dengan seorang akhwat shalihah bernama Hartatik. Dialah yang kemudian mengenalkan aku dengan organisasi bernama Majelis Muslimah Mei Foo.

“Dari pada waktu habis untuk bersenang-senang, keluyuran tidak jelas, mendingan bergabung dengan organisasi. Mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat. Untuk bekal akhirat.” Begitu kurang lebih Mbak Hartatik menasehati. Aku yang memang tumbuh di keluarga yang relijius, langsung menerima tawaran Mbak Hartatik untuk gabung di Majelisnya.

Tidak lama bergabung dengan majelis ini, aku diangkat menjadi sekretaris organisasi. Sehingga secara otomatis, aku sering mendapat tugas untuk menghadiri rapat-rapat kegiatan yang diadakan oleh berbagai organisasi diHong Kong.

Hingga awal 2007. Sepulang dari menghadiri rapat, aku mampir di kios pelayanan jaringan telepon ‘Peoples’ untuk membayar tagihan bulanan. Pada saat itulah seseorang mengulurkan selembar kertas padaku. biasanya jika mendapatkan kertas seperti itu, aku langsung memasukkannya ke dalam tas untuk dibaca jika sudah sampai di organisasi atau rumah. Tetapi, entahlah, mengapa saat itu mataku langsung saja menatapnya. Dan…

Allahu Akbar!

Di atas kertas selebaran itu, kutemukan sebuah tulisan yang terdiri dari tiga huruf saja. ‘FLP’! Tiga huruf yang selama dua tahun ini mengendap di ruang memoriku. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung mendekati para jilbaber yang salah satunya baru saja mengulurkan kertas tersebut.

“Mbak, ini apa ya?” tanyaku. Hatiku sudah berdebar tidak karuan. Inilah yang kucari-cari selama ini. Di sinilah sosok Wina Karnie yang ingin kutemui!

“Ini FLP, Mbak. Forum Lingkar Pena.” Begitu jawaban salah seorang yang kemudian kuketahui bernama Andina Respati.

“Komunitas kepenulisan.” Yang lain menimpali.

“Apakah aku bisa ikut disana? Saya ingin jadi penulis” Tanyaku tidak sabar.

“Bisa banget, Mbak. Gabung aja.”

“Bagaimana caranya?” Hatiku semakin deg-degan. Lalu mereka, para jilbaber itu, sambung menyambung menjelaskan. Bagaimana agar aku bisa bergabung dengan komunitas mereka, bagaimana agar aku bisa sampai di sekretariatan mereka.

“Tapi…” Bisikku meragu.

“Kenapa, Mbak?”

“Aku tidak memiliki pendidikan sekolah yang cukup.” Ucapku sedih. Takut sekali jika pendidikan akan menjadi masalah untuk komunitas ini. Yang ada di pikiranku ketika itu, seorang penulis haruslah cerdas. Dan, orang cerdas adalah mereka yang sekolahnya tinggi, berpendidikan cukup. Namun, kelak, di kemudian hari, aku tahu bahwa semua itu adalah salah besar. Siapa pun bisa menulis, siapa pun boleh menulis. Apalagi, aku sudah yakin sejak awal, bahwa aku berbakat. Aku mampu. Dan yang terpenting dari antara semua itu, adalah kemauan. Adabakat jika tidak ada kemauan sama saja, nol.

Akhirnya, sore itu aku pulang dengan kegembiraan yang tak dapat kulukiskan lagi. Aku senyum di sepanjang jalan. Ramah pada semua orang. Meyakini, sebentar lagi aku adalah anggota FLP. Aku akan menjadi salah satu dari komunitas penulis itu. Dan aku akan menjadi penulis. Seperti Wina Karnie.

Tiga Minggu kemudian (FLP HK hanya mengadakan pertemuan dua kali dalam sebulan, sehingga aku harus bersabar menunggu selama itu, karena di Minggu ketiga setelah pertemuan itu, FLP mengadakan acara bersama Kang Abik, aku ikut serta menjadi panitia, tetapi belum terdaftar sebagai anggota) aku resmi tergabung dengan komunitas FLP. Tepatnya Minggu, 4 Maret 2007. Bahagiaaa tak terkira.

Untuk bergabung di FLPHong Kong, setiap pendaftar diwajibkan menyerahkan sebuah tulisan. Akupun coba-coba membuat cerpen lagi (kelak di tahun 2010, cerpen pertama yang kubuat sejak bergabung di FLP itu kuikutkan pada lomba menulis cerpen yang diadakan oleh komunitas wirausaha Alif Al-Khairiyah Hong Kong, kerja sama Pro U Media. Alhamdulillah ianya mendapat juara dua). Aku senang tulisanku dibaca oleh teman-teman FLP. Lalu dikritisi. Sejak itu akupun mulai produktif, tulisanku mulai sering dimuat di berbagai majalah dan koran di Hong Kong danTaiwan. Aku juga ditawari untuk menjadi kontributor di salah satu tabloid berbahasa Indonesia di Hong Kong.

Usai pertemuan hari itu, aku pulang dengan membawa banyak buku karya anak FLP. Subhanallah… darisanakuketahui, ternyata di FLP bukan hanya ada Wina Karnie. Tetapi disanaada sosok wanita terkenal yang sudah pernah kubaca profilnya di majalah (Kalau tidak salah ingat di majalah Hidayah), bernama Helvy Tiana Rosa. Ada yang bernama Pipiet Senja, Sinta Yudisia, Asma Nadia, Rahmadiyanti Rusdi, Irfan Hidayatullah, Habibburrahman El-Shirazy, dan banyak lagi lainnya. Yang karya-karyanya sudah bertebaran di mana-mana. Dalam hati aku bertanya, dapatkah kelak aku mengenal mereka? Dekat dengan mereka, lalu seperti mereka?

Maha Suci Allah, yang mendengar impian hamba-hamba-Nya. Impianku untuk bisa bertemu dengan para penulis senior yang kusebutkan di ataspun tercapai. Karena FLP memberiku kepercayaan untuk menemani tamu-tamu yang diundang dariIndonesia. Aku bisa bertemu dengan Kang Irfan Hidayatullah, Kang Abik (bahkan beserta bintang film dan sebagian produser film KCBnya), Mbak Asma Nadia, Mbak Dee (Rahmadiyanti Rusdi). Aku yang menjemput sebagian mereka dari Bandara. Mengantar jalan-jalan di beberapa tempat wisata diHong Kong. dan kembali mengantar ke bandara saat pulang.

Bahkan, aku bisa berkomunikasi dengan Mbak Sinta Yudisia di tengah malam saat kedua mataku sulit terpejam. Beliau tetap membalas SMSku meskipun di jam nyenyaknya orang tidur. Subhanallah…

Aku juga bisa dekat dengan sosok bernama Pipiet Senja. Beliaulah yang memberikan inspirasi bagiku untuk terus semangat dalam menjalani kehidupan ini. Tegar bak karang saat dihadapkan dengan ujian. Menjadi muslimah tangguh yang tidak menyerah dengan segala bentuk cobaan.

Tapi, aku belum pernah bertemu dengan Mbak Helvy Tiana Rosa. Semoga suatu saat nanti… ya.. aku mendamba…

 

 

Bintaro, 17 February 2012 (11:50)

 

Terkadang Polisi Juga baik

Beberapa waktu lalu aku pernah memasang status yang intinya, mengolok Polisi yang kujumpai di jalan daerah Pondok Labu. Ketika itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari Setu Babakan menuju Bintaro. Saat di antara kemacetan jalan, tiba-tiba suara sirene diperdengarkan, tampaklah serombongan polisi lewat. Terpaksa sopir angkot yang sedang kutumpangi meminggirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Namun di luar dugaanku, tiba-tiba ada suara susulan seperti benda yang dipukul., Seketika aku menoleh ke depan, dan masih kelihatan seorang polisi yang berlalu dekat angkot yang kutumpangi menyempatkan memukul spion angkot tersebut hingga melesak ke dalam. Si sopir hanya diam sambil membetolkan kembali letak spionnya setelah si polisi berlalu.

“Kenapa dengan polisi itu, Bang?” Tanyaku penasaran.

“Mukul.”

“Masalahnya?”

“Kurang minggir kali.”

“Gila tuh polisi!” Teriakku. Rasanya aku tidak terima dengan perlakuannya yang sok kuasa. Padahal angkot yang kutumpangi udah sangat-sangat mepet di tepian. Apalagi coba?

Dan hari ini, aku merasa tidak adil jika hanya menceritakan pengalaman tidak mengenakkan saja tentang polisi. Karena aku juga memiliki pengalaman yang baik dengan mereka.

Pagi, cuaca Bintaro yang cerah tiba-tiba diberondong dengan runtuhnya air hujan. Padahal biasanya jika mau hujan selalu ditandai dengan mendung yang menghitam pekat. Agak heran aku keluar ruangan tuk melihat.

“Mudah-mudahan akan berenti ketika jam istirahat.” Aku membatin seraya menoleh ke temanku.

“Gak jadi lagi kita mau jalan.” Ucap teman yang kotoleh barusan. Aku masih berharap hujan akan reda, karena sudah berkali-kali berencana mau pergi ke penjual snack terdekat, untuk membeli cemilan, selalu gagal karena hujan.

Jam istirahat tiba. Bersyukur sekali, Allah kabulkan keinginan hatiku. Hujan benar-benar reda. Bermodal pinjem motor dari teman, kami berangkat ke toko snack. Sayang sekali apa yang ingin kucari tidak ada. Akhirnya kami putuskan pergi ke Pasar Modern untuk cari makan siang. Bakso Bakar jadi pilihan. Namun aku memesan Bakso Jumbo, sementara temanku pesan Bakso Super.

Setelah kenyang dengan bakso ukuran besar, kami langsung pulang. Di perjalanan tiba-tiba ada yang menyalib motor yang kami tumpangi.

“Wuuuuai…” Teriak temanku yang memegang kendali *kemana-mana pasti dia yang nyetir. Maklumlah, aku belum bisa nyetir sendiri L *.

“Kejar, Mbak!” Seruku dari boncengan.

“Jangan, bahaya, Ida.” Balasnya. Hmm… akupun mengalah. Tunggu aja kalau aku udah bisa bawa motor sendiri. Batinku. Motor kami berhenti di perempatan lampu merah. Hampir semua pengendara motor memakai helm. Bisa dikata hanya aku dan temankulah orang yang tidak memakai helm. Seketika aku teringat kejadian beberapa hari sebelumnya. Kami juga sedang bermotor berdua. Tetapi saat itu cuaca sangat panas. Tidak seperti hari ini yang hujan. Aku dan temanku nyengir-nyengir menengadahkan tangan untuk menutupi matahari agar tidak menyengat wajah *Udah pake Ponds mahal, kalau tetap menghitam karena sengatan mataharikangak lucu*. Tiba-tiba ada yang berdehem di dekat kami. Serasa tiada sejengkal. Kamipun menoleh, dan baru sadar bahwa ternyata kami berdampingan dengan mobil patroli yang di dalamnya ada banyak pria berseragam polisi semua. Dan sedang memperhatikan kami.

“Panas ya, Neng?” tanya salah seorang dari mereka melalui jendela. Aku hanya nyengir kuda. Sadar bahwa kami sama-sama tidak memakai helm.

“Makanya lain kali pake helm ya.” Lanjutnya ramah.

Oh.. my God. Selamat! Padahal jika ini terjadi di kampungku, sudah pasti kami akan kena tilang! Dan ujung-ujungnya keluar uang puluhan bahkan ratusan rupiah!

Karena pengalaman inilah, aku berkata, “Ternyata, terkadang polisi juga baik.”

Ida Raihan

Bintaro, Jum’at, 6 January 2012 (23:01)

http://qqcakep.multiply.com

http://idaraihan.wordpress.com

BUku Soloku, Novel, Cintaku di Negeri Jacky Chan

Book

Diterbitkan penerbi Jendela-Zikrul Hakim

Sinopsis

Ia tidak pedulikan ketika usianya mencapai julukan perawan tua. Demi adik-adiknya ia mengesampingkan keinginannya untuk segera menikah. Ia nekat pergi ke negeri Jacky Chan demi sejumlah uang untuk menebus pendidikan adik-adiknya yang ketika itu sangat mahal. Dan ia juga dendam terhadap pemerintahan negaranya sendiri.Indonesia.

Namun, kehidupan diHong Kongtelah mengubah semuanya. Ia yang berasal dari desa yang sangat udik, mengalami perubahan. Kemajuan zaman dan perkembangan technology yang begitu pesat tidak meninggalkannya menjadi yang terbelakang. Kehidupan permayaan telah menjadi bagian dari hidupnya. Computer, chating, browsing, blogging, writing telah menjadi bagian dari rutinitasnya sehari-hari. Seolah-olah di sanalah ia hidup. Disanaia bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai lingkungan. Bahkan dari manca negara.

Ia tidak lupa cita-citanya. Ia menangis ketika melihat seragam sekolah. Teringat akan keinginannya menjadi mahasiswa kedokteran yang tidak pernah ia kecap sebelumnya. Yang hanya ia hayalkan saja. Hingga suatu hari, pertemuannya dengan salah seorang di permayaan, bernama Herman telah mendobrak hasratnya kembali. Hinaan pria itu telah menjadi api penyemangat dalam jiwanya. Ia ingin membuktikan kepada dunia. Bahwa ia tidak hanya layak dihina sedemikian rupa. Dalam tangisnya ia bersumpah akan membuat dunia membuka mata. Bahwa ia mampu seperti mereka… iapun melanjutkan sekolahnya. Melalui jalur kejar paket yang disediakan oleh pemerintahIndonesiadi negeri rantausana.

Azura namanya. Gadis dengan usia hampir kepala tiga itu nekat mengikuti pelajaran yang telah lama ia lupakan. Ia memulai dari nol lagi. Dan meskipun dengan susah payah memaksa otaknya, akhirnya ia berhasil peroleh ijazah SMA nya.

Di Hong Kong, Azura juga dipertemukan dengan gadis misterius, yang menjatuhkan diri dari jembatan layang di atas Victoria Park. Yang kemudian meninggalkan sebuah amanah berat baginya. Menghantui malam-malamnya hampir selama satu tahun. Diselingi kisah perdebatan politik yang berakhir meyakitkan. Berdampak pada cintanya yang mulai ia perhatikan. Ditinggalkan orang yang ia butuhkan. Dihadapkan dengan dua sosok yang memiliki kelainan. Bahkan hingga penawaran menjadi istri kedua seseorang…

Bagaimana kisah selanjutnya? Temukan dalam buku, Cintaku di Negeri Jacky Chan’ karya Ida Raihan.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Silahkan dibeli dan dibaca. Insya Allah penuh inspirasi :)

Ida Raihan

http://qqcakep.multiply.com

http://idaraihan.wordpress.com

Bintaro, Selasa, 3 January 2012 (08:36)

2012 Penuh Rasa Iri

By: Ida Raihan

 

Tahun 2012 sudah mula berjalan. Hari ini, Minggu, 1 January 2012 sudah mendekati akhir (pukul 22:44 saat menulis ini). Itu artinya satu hari akan segera berlalu.

Target hari ini, membuka blog, email, jejaring sosial 2 jam dapat terlaksana. Membaca belum sempat buka buku. Pasalnya hari ini, ketika kebanyakan orang enak istirahat di rumah masing-masing atau di hotel, aku sudah bangun pagi-pagi untuk mandi dan berangkat kerja. Hujan yang datang sejak sebelum malam tahun baru masih juga mengguyur bumi Tangerang. Khususnya di daerah Bintaro dan sekitarnya. Menimbulkan dingin yang serius.

Terantuk-antuk dengan tubuh yang enggan bangkit dari peraduan, perut yang enggan dimasuki makanan, aku dan temanku berangkat naik mobil di antar suaminya. Meninggalkan daerah Pondok Kacang menuju Bintaro di bawah guyuran hujan. Rasanya ingin mengeluh, ‘Mengapa orang lain bisa pergi berlibur di tahun baru, aku harus masuk kerja?’

Kantuk yang masih menempel di mata inilah yang menyababkanku iri kepada mereka-mereka. Maklum, meskipun aku tidak ikut merayakan kehadiran malam tahun baru semalam, aku tetap mencicipi pemandangan kembang api di atassana. Langit menjadi gempita dengan suara-suara ledakan yang memakan milyaran rupiah untuk menciptakan suara dan pemandangan indah di langit itu.

Aku masih sangat ngantuk dan mendambakan tumpukan selimut tebal yang menutupi tubuhku dengan hangatnya. Cuaca sepertinya memang hadiah special bagi mereka orang-orang kaya yang tak dipusingkan dengan urusan dunianya. Karena memang sudah tersedia. Air yang terus-menerus tumpah dari langit sangat mendukung untuk menikmati istirahat setelah semalam begadang merayakan pesta tahun baru. Betapa beruntungnya orang-orang kaya.

Sedang aku? Aku harus berjuang melawan kantuk dan malah, untuk hadir di tempat kerja.

“Da, aku masih ngantuk.” Wajah temanku kelihatan sangat loyo. Karena semalam iapun tidur terlambat.

“Samala.” sahutku.

Semalam jelang pukul 00:00 aku naik ke atap rumah temanku. Duduk di atasnya. Berdiri di atas esbes yang menjadi pelindung bagi rumah. Menikmati hentakan-hentakan keras yang ditimbulkan oleh suara kembang api.. Ini merupakan kali pertama dalam hidupku menikmati pemandangan langitIndonesiadi malam tahun baru. Satu tahun sebelumnya. Aku berada di perjalanan dari Lampung keJakarta. Dan dua tahun sebelumnya, aku berada di negaraHong Kong.

Satu jam saja aku berada di atap rumah. Turun setelah puas merekam kejadian di langitsana. Lalu langsung menuju tempat tidur. Dan tersenyum ketika beberapa teman memberikan ucapan tahun baru yang disertai doa tulus. Di antaranya ada juga ucapan singkat dari seseorang yang pernah membuatku sebal kepadanya, ‘met thn baru say ttd heru :-D ’( 01-01-2012. 00:15)

Saling berbalas SMS dengan teman-teman, akhirnya aku baru bisa tidur setelah pukul dua pagi. Dan pagi-pagi sudah harus bangun dengan tubuh lemas tanpa gairah.

 

 

 

 

Ida Raihan

http://qqcakep.multiply.com

http://idaraihan.wordpress.com

Bintaro, Minggu, 1 January 2012. (00:00)

Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui, Atau Sekali Tepuk Langsung Tumbang?

 

 

 

Pada tanggal 3 Desember lalu, sempat membaca pengumuman di millist, tentang diadakannya beasiswa pelatihan menulis skenario. Akan dipilih tujuh orang yang beruntung. Dengan syarat menulis kepada pihak penyelenggara, alasan-alasan mengapa seseorang layak mendapatkan beasiswa tersebut. Dengan semangat tinggi akupun ikut menulis. Lengkap dengan alasan-alasannya. Setengah lembar tulisan yang jumlahnya sekitar 200 kata sesuai permintaan panitia, kusiapkan. Namun sayang sekali, begitu tulisan selesai edit dan beniat segera mengirimkannya, ternyata alamat email yang dimaksud sudah terdelete dari inbox millist. Terpaksa keinginan itu batal.

Tidak lama kemudian, muncul lagi info yang intinya sama. Bertempat di daerah yang sama. Ciputat. Kalau sebelumnya pengisi materinya adalah Pak Sokat Rachman, kali ini akan diisi oleh Aditya Gumay. Dan akan mendapatkan tempat duduk bagi 40 peserta pendaftar pertama. Maka Tanpa berpikir panjang lagi, akupun segera mengirim pendaftaran. Sial kedua, pendataranku tidak mendapatkan respon. Akhirnya petualangpun selesai. Tak ada lagi keinginan tuk mengikuti workshop kepenulisan skenario akhir-akhir ini. Berharap aka nada Dewifortune di lain masa J

Sampai tiba hari ini, Minggu 18 Desember 2011, salah seorang kenalan mengajak untuk turut hadir dalam acara penyerahan hadiah lomba cerpen yang diadakan oleh FLP Wilayah, di daerah Ciputat. Aku benar-benar hadir meskipun keadaan badan kurang sehat. Padahal waktu bangun pagi masih seger buger, karena itulah usai sholat subuh pergi marathon bersama beberapa teman penghuni asrama.

Pukul 08:30-an sudah sampai di depan UIN. Adabeberapa remaja putri berjilbab sedang berdiri di halte. Diam-diam aku mengawasi mereka. Semua terlihat santai. Mungkinkah mereka juga akan datang ke acara tersebut?

Setelah cukup lama mengawasi, akhirnya aku mendekati mereka dan bertanya tentang acara perkumpulan para penulis. Semua menggeleng. Tidak tahu.

“Masih diperjalanan, Say. Masih jauh. Ida masuk duluan aja ya?” Begitu lebih kurang jawaban seorang perempuan manis bernama Nisa Salwa setelah kuhubungi di ponselnya.

Semula berniat menunggunya, tetapi dia tetap ingin agar aku masuk duluan. Sekitar 10 menit aku masih menunggu. Namun akhirnya, kuputuskan juga.Adabaiknya menuruti apa kata Nisa. Karena, capek juga kelamaan berdiri di Halte. :-p

Tak ada pilihan selain menghubungi teman yang mengajakku tuk datang di acara tersebut. Sial, pulsa abis semua-mua (tiga kartu), jadi gak bisa menelepon lagi. Akhirnya hanya bisa berkirim SMS. Apesnya lagi, beliaunya gak jelas banget kasihnya petunjuk sebelah kiri atau kanan IIQ? Mau tanya lagi gak enak, karena mengira beliau udah memulai acara. Takut ngeganggu.

Akupun kehausan di pinggir jalan. L

Setelah merasa capek mencari-cari, dan setelah membeli minuman, kukeluarkan HP E63 yang sempat hilang pada 13 Desember lalu. Mengetik kalimat, “Adayang bisa jemput gak? Kalo gak ya sudahlah, Ida putar haluan saja ke acara demo buruh di Istana.” Belum sampai tulisan itu terkirim, tiba-tiba sudah ada yang memanggil tak jauh di depanku, dibatasi gerobak penjual buah.

“Ida Raihan.”

“He…” senyumku segera mengembang. Dan rasa lelah hilang. Tak lama kemudian sampailah kami di tempat. Acara belum dimulai. Baru ada beberapa gelintir manusia saja di aula. Entah pukul berapa acara dimulai. Karena panggilan perut, aku bersama Nisa Salwa pergi mencari makan. Dan ketika kembali pukul sebelas lebih, acara sudah dimulai. Dan sudah memasuki sambutan panitia. Dilanjut oleh dewan juri (Sakti Wibowo dan Arul Khan) yang mengupas tulisan-tulisan hasil lomba. Di lanjut lagi pengumuman yang masuk 9 besar. Lalu juara 1-3, penyerahan hadiah, dan doa. Acarapun usai sebelum pukul 13:00. Bersama dua teman anggota FLP Ciputat, aku menuju masjid tuk menjalankan sholat dzuhur. Usai sholat dzuhur di Aula tinggal dua orang saja. Salah satunya adalah ketua FLP Ciputat. Mas Gufron.

“Wedew… Idakanbelum pamit. Kok udah pada ninggalin tempat gitu aja sih. Katanya mau rapat.”Adasesal dalam hatiku.

Akhirnya atas ajakan Mas Gufron, kami melangkah menuju sekretariat FLP, di Pesanggrahan. Ternyata merekapun tidak ada disana. Ugh… ada rasa gak nyaman sekali. Ngapain aku jauh-jauh datang kalau yang ngajakin aja nyuekin begini? Ditinggalin begitu saja tanpa kata? Parrah! Bener-bener parrah!

Aku orangnya memang cerewet jika ngobrol di dunia maya. Tetapi, jika bertemu, aku berubah menjadi pendiam. Jadi mana bisa aku langsung akrab dengan teman-teman baru disana? Apalagi mereka semua anak-anak muda yang rata-rata kelahiran setelah tahun 90-an.Kangak nyambung banget ngobrol ama mereka. Lagi, aku bukan anggota FLP Indonesia. Terakhir jadi anggota FLP Hong Kong adalah setahun lebih yang lalu. Tepatnya Oktober 2010. Sampai di sini, aku merasa sedih. Lain kali kalau nggak bawa teman dari rumah, mendingan nggak usah ngadirin acara beginian, Ida. Nggaka da teman yang bisa diajak berbisik-bisik. Akupun tumbang. Hikz…

Beruntungnya, di luar dugaanku, ternyata disanaada Pak Sokat Rachman dan Pak Arul Khan, yang akan mengisi pelatihan penulisan skenario. Sebelumnya sama sekali tidak menyangka jika acara yang pernah kuincar sejak di millist itu, diadakan di pesanggrahan FLP Ciputat itu, saat aku berada disanapulak. Akhirnya setelah mendengar ucapan Kang Arul Khan yang mengijinkan semuanya mengikuti, akupun memutuskan untuk mengikuti pelatihan tersebut. Karena aku tidak tau mau kemana. Pulang, pasti hanya akan bertemu dengan tembok yang bisu. Karena semua teman masuk kerja. Pukul 17:30, acara selesai.

 

 

 

Ida Raihan

http://idaraihan.wordpress.com

http://qqcakep.multiply.com

Bintaro, Minggu, 18 Desember 2011 (21:24)