Oleh: Ida Raihan | 10 Februari 2016

Menilik Isi Tas Akhboy Akhtong

Isi tas

Kao kunci dan buku bank kadang-kadang saja.

Sewaktu zaman saya kecil dulu, di kampung, tas hanya digunakan oleh mereka yang bepergian jarak jauh. Yang membutuhkan tempat untuk menampung pakaian atau barang bawaan dalam jumlah banyak. Kebanyakan juga berupa tas jinjing. Jarang terlihat orang memiliki tas tangan atau tas ransel kecuali anak sekolah. Itu pun bisa dihitung dengan jari, karena musimnya saat itu masih tas selempang.

Nah, seiring berjalannya waktu, dan saya telah merasakan menjadi anak rantau, mulai saya lihat tas banyak digunakan oleh hampir semua orang. Baik cowok maupun cewek. Dan ketika saya kembali ke kampung halaman, tas juga mulai marak dipakai oleh ibu-ibu yang hendak kondangan atau ke pasar. Jika dulunya amplop atau dompet hanya dikempit di bawah ketiak atau digulung dengan sapu tangan, kini mereka tidak lagi menggunakan cara jadul itu. Cara yang lebih anggun telah mereka ketahui. Yaitu membawa tas.😀 Baca Lanjutannya…

Oleh: Ida Raihan | 28 Januari 2016

Menanti Di Tepi Neraka

Cerpen: Ida Raihan
Ida RaihanIni sudah tahun ketujuh. November ke tujuh.
Kau pasti ingat, dan memang harus ingat. November tahun ketujuh ini meskipun bukan lagi milik kita, kau tetap tidak boleh lupa. Karena pada saat seperti ini, ditujuh tahun yang lalu, kau pamerkan sebuah surga. Surga yang kau bilang untuk wanita yang taat pada suaminya. Surga yang kau bilang bisa kumasuki dari pintu mana saja yang kusuka. Begitu manis kau menjanjikannya. Menurutmu itu adalah sabda nabi kita. Aku percaya, karena aku juga sering membaca sabda-sabda nabi mulia kita itu. Hanya saja, sabda yang suci jika keluar dari mulutmu, rasanya menjadi ternoda oleh perbuatanmu yang tak sejalan dengan sabda itu sendiri. Baca Lanjutannya…

Oleh: Ida Raihan | 27 Januari 2016

Mungkin Kita Juga Korupsi (?)

image

Gambar diambil dari Google

Bertemu dengan orang-orang baru, di tempat yang baru memang menyenangkan. Apalagi jika kita langsung dipercaya untuk menjadi sahabat yang dia merasa nyaman untuk mencurahkan segala permasalahan hidupnya.

Setiap hari berbagai wajah dengan segala expresinya mudah kita temui dalam kehidupan kita. Apalagi mereka yang dalam kesehariannya melayani orang banyak. Pedagang makanan misalnya. Mereka akan dipertemukan dengan orang-orang dengan berbagai ekspresi tersebut. Meskipun dalam keadaan makan. Ada yang makan sambil bercerita, sambil tertawa. Namun tidak sedikit pula yang makan sambil termenung. Dia menelan habis semua makanan yang terhidang namun seperti tidak menikmati. Hampa. Biasanya yang terakhir ini dilakukan oleh orang yang terlalu stres, baik pada pekerjaannya maupun pada permasalahan kehidupan pribadinya. Baca Lanjutannya…

Oleh: Ida Raihan | 21 November 2015

Kiret, Hal Menakutkan Yang Harus Kualami

“Kiret itu sakityaaa sampek kebubun-ubun.”
“Masya Allah,  sakitnyaa gak ketulungan.”
“Alat dan suaranya itu lho, grrr… grrr… seram.”

Begitu suara yang berhasil saya himpun dari beberapa orang yang pernah dikiret.

Sebagai wanita dewasa yang telah berani memutuskan untuk menikah, seharusnya memang telah siap untuk hal-hal yang paling mengerikan dalam menjalani diri sebagai ibu rumah tangga. Tetapi jika dihadapkan pada istilah kiret, rasanya masih banyak wanita yang belum siap menghadapi berita satu itu. Dan ini harus saya alami. Dokter memutuskan agar saya dikiret pada usia kandungan 11 minggu.

Rasanya kebayang dulu sakit yang padahal tidak terjadi. Sakitnya hanya di awal sehari sebelum kiret dilakukan, karena rahim saya harus dimasukin obat pembuka.

Saya dikiret karena janin saya tidak berkembang, dan terjadi pendarahan pada Senin, 16 November 2015 lalu. Akhirnya setelah sempat dievalusi, Kamis, 19 November 2015 malam saya dikiret di Rumah Sakit Kartika Pulomas.

Dan tak sesakit yang saya bayangkan. Prosesnya begitu cepat. Saya hanya disuruh berganti pakaian, dibawa masuk ke ruang operasi, dipasang selang oksigen dan inpus, diajak bicara, dan tahu-tahu ada yang membangunkan menyampaikan bahwa kiret telah selesai. Subhanallah mengagumkan! Bius total membuat saya tidak sadar saat proses kiret dilakukan. Melenyapkan semua kengerian yang saya bayangkan.

Jadi Ibu, jika engkau hendak melakukan kiret,  tidak perlu takut lagi. Karena proses kiret di jaman sekarang tidak lagi seperti dulu.🙂

Ida Raihan
Kramat Jati, Sabtu, 21 November 2015 (06:33)

Oleh: Ida Raihan | 31 Oktober 2015

MENGINTIP PIKIRAN LIAR IBU HAMIL

image

Photo ambil dari Google.

Waktu masih remaja dulu, saya pernah mendengar bibi berucap,  “Orang kalo lagi hamil pikirannya aneh-aneh membayangkan anaknya.” Seketika piiiran kecil saya ikut melayang bersama pikiran bibi. Ditambah lagi, si dukun yang bakal menangani kelahiran berucap, “Anakmu ukurannya panjang.” Seperti ularkah? Benak saya membatin.

Kini, bertahun-tahun telah berlalu dari kejadian itu. Saya berkesempatan mengalami juga apa yang disebut hamil. Beberapa kali berharap bisa lahir bayi kembar pria yang sempurna. Namun terkadang pikiran liar yang tak diharapkan pun ikut hadir. “Bagaimana jika bayiku kembar siam?” “Bagaimana jika dia cacat? Besar kepalanya?”  Naudzubillah yaa Rabb. Baca Lanjutannya…

Oleh: Ida Raihan | 28 Oktober 2015

DEMI SI BABY SAATNYA PATUH ANJURAN DOKTER

Bagi seorang wanita dewasa, hal yang paling menggembirakan hidupnya setelah menjalani kehidupan rumahtangga adalah, ketika Stick Test pack memberikan dua warna garis merah pada hasil cek testpacknya. Sebagian ibu tidak akan langsung mempercayainya, hingga akhirnya ia dapat diyakinkan oleh seorang dokter. Bahwa, “Anda memang positif hamil.” Baru setelah itu dia akan bersorak, “Alhamdulillah akhirnya aku akan menjadi seorang Ibu.” Terlebih jika kehadiran seorang bayi tersebut telah lama dirindukannya.TP

Bangun dari tidur, Sabtu, 23 Oktober 2015 lalu, setelah malamnya membatalkan pertemuan dengan teman lama karena kondisi badan kurang sehat, dan penasaran dengan kata suami yang memprediksi saya sedang hamil, saya langsung mengambill testpack dari tas yang telah lama dibelikannya. Di kamar mandi saya deg-degan menunggu garis dari testpack yang saya pegang. Garis pertama muncul, pelan merambat ke atas, saya semakin tegang, dan hasilnya, DUA garis merah muncul di stick Testpack yang saya pegang! Dengan sedikit gemetar saya langsung membersihkan diri dan kembali ke kamar, “Mas lihat!” Suami yang masih tidur seketika terbangun.

“Alhamdulillah.” Sahutnya. Baca Lanjutannya…

Awal Agustus 2015 ini, berita tidak mengenakkan datang dari petani tomat asal Garut. Gambar tomat berserakan di pinggiran jalan tersebar bebas di kalangan jejaring sosial. Sebagai warga yang tumbuh besar dari rahim petani saya merasa miris membaca berita tersebut. Sungguh mengenaskan, harga tomat petani kita hanya dihargai Rp 200/kg. Tidak sebanding dengan tomat yang saya lihat beberapa hari sebelumnya di Carrefour Kramat Jati, yang perkilonya Rp 32.000.

Bentuknya tidak jauh beda dengan tomat yang pernah saya tanam ketika masih di kampung bertahun-tahun silam, tetapi ukuran tomat ini sedikit lebih besar dari yang saya tanam maupun yang saya temui di pasar-pasar tradisional.

“Apakah ini tomat import?” Penasaran saya bertanya.

“Ya.” Kata orang yang berdiri di dekat saya, yang saat itu juga sedang melihat-lihat pajangan di Carrefour. Baca Lanjutannya…

Oleh: Ida Raihan | 28 Agustus 2015

ANDAI PARA ADIK TAHU PENGORBANAN KAKAK MEREKA

Di mana-mana orang tua selalu mendidik anak tertua lebih keras dari anak berikutnya. Itu karena mereka memiliki tujuan yang jelas. Agar anak tertua bisa menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Sebagian para kakak berhasil, sebagiannya juga gagal. Dan kesalahannya tidak melulu berada di kakak. Terkadang adik yang lahir di kemudian, yang ada di generasi berbeda, merasa kakaknya terlalu kolot dalam berfikir. Khususnya anak-anak yang mulai tumbuh di zaman kini. Di mana kecanggihan tekhnologi berhasil menyulap sebagian dari mereka abai terhadap sopan santun. Merasa diri paling benar, dan berilmu. Sehingga apapun nasehat seorang kakak dianggapnya sampah yang tidak memberi kontribusi untuk hidup dan masa depannya. Apalagi jika kakaknya tidak berpendidikan. Menasehati dianggapnya merampas atau mengganggu hak asasi. Baca Lanjutannya…

Oleh: Ida Raihan | 29 Juli 2015

Ketika Ego Mendominasi Diri Kita

Pernahkah Anda merasakan tidak enaknya merasa terdzalimi selama berjam-jam? Lima belas jam misalnya? Kita tentu akan merasa sedih, kecewa, dongkol, bahkan marah jika itu kita rasakan. Jangankan sampai berjam-jam, selama sepuluh menit saja rasanya kita ingin protes dengan hal tersebut.

Sebuah kedzaliman kadang terjadi karena sebuah ego yang diperturutkan oleh salah satu fihak. Mungkin kita pernah melakukannya, disadari atau tidak, namun merasa telah melakukan yang benar. Sementara di sisi lain seseorang merasa telah terdzalimi oleh prilaku kita. Semoga itu tidak terjadi.

Tulisan saya kali ini adalah mengulas keegoisan orang ketika melakukan perjalanan. Ada ungkapan yang pernah saya dengar, “Di jalanan, orang selalu merasa benar. Baik yang menabrak ataupun yang ditabrak (jika terjadi kecelakaan). Bahkan terkadang orang yang telah melawan arus sekalipun merasa diri melakukan yang benar.” Hmm… Semoga apa yang saya dengar ini adalah salah. Baca Lanjutannya…

Akhir-akhir ini saya merasa galau dengan kedua blog saya. Blogspot dan WordPress. Bukan tanpa alasan. Semua bermula ketika saya mulai semangat kembali ngeblog dan berniat akan kembali menulis. Masih sama, menulis apa saja yang ingin saya tulis. Keluh kesah, rasa, dan perjalanan.
Saya kembali aktif mengunjungi blog-blog milik emak-emak yang tergabung di komunitas Emak Emak blogger. Dan ternyata, layout blog mereka cantik-cantik, dengan tulisan-tulisan menarik. Sebagian dari Emak-emak ini hanya focus dengan tema tertentu. Dan sepertinya menyenangkan bisa menulis tema yang khusus. Tidak acakadut seperti blog saya yang menuangkan tulisan dalam bentuk apa saja . Saya pun berfikir akan membuat salah satu blog saya untuk mengulas satu pembahasan saja.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang, Selamat Menikmati

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Bagaimanapun Kita Tetap Bagian Dari Sejarah Pribumi Indonesia

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Ceritaku Untuk Dunia

Tulis Apa Yang Kamu Pikirkan, Jangan Pikirkan Apa Yang Akan Kamu Tulis

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 4.830 pengikut lainnya