Oleh: Ida Raihan | 10 Juni 2008

Ketika Rasa Itu Hadir

Sudah sepuluh tahun lamanya aku kerja sebagai tenaga didik di tempat ini, sebuah PJTKI yang memproses TKI, laki-laki dan perempuan, untuk dikirim keluar negeri. Selama itu pula aku belum pernah menemui kesulitan yang berarti bagiku. Baik dari rekan-rekan sesama pengajar, dari para staf kantor, ataupun dari murid-murid didikku.

Tetapi sejak dua bulan terakhir ini, aku sering dibuat kesal dan marah oleh pendatang baru yang sedang proses ke Taiwan. Retno namanya. Gadis 21 tahun itu sangat bandel. Beda sekali dengan yang lainnya. Hampir setiap hari aku selalu memarahinya. Seperti hari ini misalnya.

“Kenapa kamu terlambat. Semuanya sudah kumpul, pelajaran sudah seharusnya dimulai. Hanya karena nunggu kamu satu orang saja, pelajaran jadi tertunda.” Tegurku ketika dengan santainya gadis itu masuk kelas.

“Kan belum jam satu Lause.” Sahutnya seperti tanpa dosa sedikitpun.

“Apa salahnya kamu masuk kelas lebih awal dikit? Menghargai yang lainnya?” kataku.

“Tidak bisa gitu Lause. Istirahat adalah hak kita. Kalau waktunya belum habis ya gak boleh dirampaslah. Itu namanya mendzalimi.” Sahutnya yang disambut tawa oleh semua yang ada di ruang kelas kami. Hanya aku saja yg berusaha menahan tawa. Walau sebenarnya hatiku tersenyum juga mendengar jawabannya yang cerdas.

“Sudah cepetan duduk. Awas jika dilain waktu aku menemukanmu terlambat sedikit saja. Aku pasti akan menghukummu.” Ancamku. Sementara ia hanya mengangkat kedua bahunya. Seraya melangkah mennuju kursinya.

Aku tahu, hukuman tidak akan membuat gadis itu jera. Karena hukuman yang kami timpakan kepada murid yang berbuat salah paling-paling hanya disuruh menghafal beberapa lembar bahasa Mandarin saja. Dan gadis itu selalu bisa melewati hukuman dengan mudahnya. Disinilah kelebihan dia. Dia bisa dengan cepat menghafal pelajaran-pelajaran yang aku berikan. Tidak seperti yang lainnya, yang lemot dan pelupa.

Dan siang ini, ketika pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba dua orang staf kantor masuk ke ruang kelas kami. Seperti biasa, setiap dua bulan sekali akan ada pengetesan kelancaran bahasa oleh orang-orang kantor. Jika sudah lancar maka akan dipindahkan ke kelas Lausi Ridwan, kelevel 2.

“Siapa saja yang sudah lancar bahasanya Lause?” tanya Heny. Salah soerang dari kedua Staf tersebut. akupun menyebutkan nomor-nomor yang sudah kuanggap lancar. Diantaranya nomor 255. Retno.

Setelah pengetesan usai, murid yang lulus, ada 8 orang. Retno salah satu diantaranya.

Ketika Retno mengemasi buku-buku pelajarannnya dan mulai melangkah untuk meninggalkan kelasku, entah kenapa, ada sesuatu yang lain aku rasakan di hatiku. Entah perasaan apa itu. yang jelas aku seperti merasa sedih. Gadis itu melangkah paling belakang diantara mereka. Aku hanya mampu memandangi punggungnya saja ketika ia melangkah. Namun ketika ia sudah sampai di ambang pintu, tiba-tiba ia kembali membalikkan tubuhnya, dan menoleh kearahku. Seraya tersenyum. Senyuman yang selalu ia hadirkan dihadapanku. Baik ketika aku sedang memarahinya ataupun menghukumnya.

“Terima kasih banyak atas pelajaran, yang Lause Thomas berikan kepadaku.” Ucapnya.

“Sampaikan dalam bahasa Mandarin.” Sahutku dengan sedikit senyum juga. Senyum yang kata murid-muridku sangat mahal.

“Wew.. gak ada waktu Lause.. bye…” jawaban itu adalah termasuk salah satu kebandelannya. Tanpa merasa berdosa ia melangkah meninggalkan kami. Akupun melanjutkan pelajaran. Tak ada lagi tawa keributan yang biasanya. Yang selalu dipicu oleh gadis itu. Sejak kehadirannya di room ini, hampir setiap hari ia melucu yang memancing teman-temannya untuk tertawa. Yang kadang membuat aku ikut tertawa juga. Meskipun hanya sebatas senyum. Dan setelah itu memarahinya agar diam.

Dan hari ini, sebulan telah berlalu sejak kepindahannya dari kelasku. Aku belum pernah sekalipun jumpa dengannya. Ternyata ia tidak dimasukkan ke kelas Lausi Ridwan. Karena kelas itu sudah kebanyakan murid. Jujur, ternyata aku merinduinya. Tapi aku tidak tahu, ia berada di kelas mana. Untuk tanya keteman-teman dia, gengsi rasanya. Jika aku tanya, mereka pasti akan membenarkan apa yang pernah mereka bicarakan.

“Eh, sejak Retno pindah dari sini, Lausi Thomas seperti kehilangan semangat ngajar ya?” kata Sita.

“Iya. Aku juga merasakan itu.” sahut Dewi.

“Padahal mereka tuh selalu saja berantem. Dan Retno sering banget kena hukum dari Lausi.” Timpal Fitri.

“Tapi sebenarnya Lausi tuh sayang sama Retno.” Kata Sita lagi.

“Wajar saja. Lha wong biarpun Retno cerewet, ia tetap pinter sih.” Sahut Dewi lagi.

“Jangan-jangan Lausi Thomat emang mencintainya.” Fitri yang bersuara.

“Hwahaha.. Lausi Thomas sudah 40 tahun tau. Sementara Retno baru 21. Gak sepadan.” Kata Dewi.

“Tapikan Beliau masih membujang.” Begitulah ucapan yang pernah aku dengar suatu pagi. Beberapa hari setelah kepindahan Retno. Dan pernah juga aku mendengar teriakan , “Woi..!! Kekasih Lausi Thomas ! jangan berdiri disitu dong..!” sambil melempar kertas ke arah Retno yang bediri di depan TV.

“Enak aja manggil orang lo.” Sahut Retno seraya ikut berbaring didekat temannya tadi. Sementara yang lain hanya tertawa.

Aku terus melangkah menaiki tangga menuju kelasku yang berada di lantai tiga. Sudah jam delapan lebih 3 menit.

“Cao an Lause Thomas.” Tiba-tiba suara yang cemengkling itu tersdengar dengan jelas olehku.

“Cao an !” sahutku agak sepontan. “Lo kalau nyapa orang gak perlu teriak gitu apa.”

“Yeee.. sapa yang teriak.” Sahutnya masih seperti dulu. “Lausi kaget ya?”

“Kenapa lo nggak masuk kelas?”

“Ya ini mau masuk.” Sahutnya. Tahulah aku, bahwa ternyata ia berada di kelas Lause Lin Chen. Guru yang terkenal paling galak dan judes. Yang kelasnya berada di lantai 1.

“Kenapa baru turun? Sudah jam delapan lebih.” Kataku.

“Yah, biasa mantan murid Lause Thomas. Jadi suka telat.” Sahutnya enteng. Sambil berlalu menyebrangiku menuju lantai bawah.

“Enak aja lo. Mana pernah Lause Thomas telat.” Aku masih menyempatkan diri untuk menjawabnya. Dan ternyata ia kembali berhenti. Dan menoleh.

“Lha ini apa? Kan sekarang dah jam lapan lewat.” sahutnya. Lalu berlari masuk kedalam kelasnya. Aku tersenyum serta menggelengkan kepala. Memandangi ke
pergiannya. Tiba-tiba, ada bahagia yang menelusup ke dalam hatiku. Mungkinkah aku bahagia karena berjumpa dengannya? Entahlah.. yang jelas, aku jadi berfikir, gadis yang suka membantah itu masuk dalam kelas Lin Chen? Apa nggak sering cek-cok tuh? Pasalnya, tuh gadis punya mulut bawel. Dan Lin Chen sudah terkenal sebagai guru sadis di PT ini.

Akhirnya aku kembali melanjutkan langkahku. Aku sudah telat 10 menit.

“Gimana, ada kendala nggak kalian mengajar murid-murid?” tanyaku pada rekan-rekan pengajar ketika makan siang.

“Nomor 255 itu muridmu ya Thom?” Aha.. aku berhasil. Memang Lin Chenlah yang sebenarnya tujuanku menanyakan ini. Dan kini ia buka mulut.

“Iya. Kenapa?” sahutku.

“Suka banget membantah.” Sahutnya.

“Sering ribut ya?” tanyaku.

“Percuma saja marah sama dia. Kayaknya gak didengarka. Tapi senengnya, dia itu lucu. Dan banyak senyum. Selain itu dia murid yang paling pandai di kelasku sekarang. Kalau disuruh hafalan nggk menjengkelkan.” Panjang lebar Lin Chen menerangkan. Aku tersenyum mendengarnya. Diam-diam aku merasa bangga juga mempunyai murid seperti dia. Dan aku berharap suatu hari ia akan lebih bisa mengkontrol mulutnya.

Satu jam telah berlalu. Waktu istirahat usai. Kami semua kembali masuk ke kelas masing-masing. Kebahagiaan masih terus meliputiku. Dan tidak jarang pula, aku melihat beberapa muridku saling bisik dengan teman yang ada disampingnya. Mungkin mereka heran melihat aku yang terlihat banyak tersenyum hari ini.

Namun mereka akan segera diam jika tertangkap olehku ketika sedang berbisik. Dan itu justru mengingatkan kepada Retno. Dulu gadis itu justru nyengir kepadaku, jika ketangkap sedang berbisik-bisik dengan teman yang duduk di sampingnya. Bahkan kadang sambil menggaruk kepalanya, yang aku yakin sebenarnya tidak gatal.

Pukul lima sore, jam belajar usai. Kami para staf pengajarpun bersiap-siap untuk meninggalkan tempat. Dan ketika aku sudah berada di lantai bawah, tidak sengaja aku mendengar perbincangan dua orang staf yang mengurusi penerbangan, “Ini nomor 255 sudah diberi tahu belum kalau visanya sudah turun. Dan akan diterbangkan dua hari mendatang?”

“Belum. Mungkin sekarang belum ada waktu. Besok pagi saja diberi tahu. Jadi kalau ia perlu persiapan, biar siangnya ia diantar Bu asrama untuk belanja.” Sahut Mbak Heny.

255 mau terbang? Secepat itu? padahal baru sekitar 3 bulan disini? Aku membatin. Betapa beruntungnya gadis bandel itu. banyak yang sudah 6, 7 bahkan satu tahun berada di tempat ini, namun belum dapat job juga.

Motor Honda Yamaha yang aku bawa terus melaju dengan cepat membaur dengan kendaraan lain di jalan Daan Mogot Raya. Aku ingin segera sampai di rumah. Dan segera istirahat. Nanti sore aku akan pergi ke Mall cari hadiah buat Retno. Diam-diam aku merasa sangat bahagia juga. Karena mendengar keinginan Retno akan segera tercapai. Tapi, tiba-tiba rasa sedihpun ikut menyelinap kedalamnya. Itu tidak lain karena aku akan berpisah dengannya. Aku pasti tidak akan mendengar ulahnya lagi. Yang kadang menjengkelkan kadang menggemaskan. Dan aku pasti tidak akn berjumpa lagi dengannya.

Pagi baru menunjukkan pukul 07:10, namun aku sudah sampai di depan pintu gerbang PT Putra Fajar Kencana, tempat dimana aku bekerja. Belum ada yang hadir disana. Kecuali dua orang satpam yang bertugas sejak semalam. Menunggu penggantinya datang. Aku ngobrol dulu dengan mereka. Tidak lama kemudian setelah pintu kantor dibuka oleh tugas piket, aku masuk kedalam. Aku berniat ingin menjadi orang pertama yang memberi tahu kepada Retno bahwa ia sudah mendapat job. Visanya sudah turun dan akan segera diterbangkan. Dan aku akan memberikan hadiahku kepadanya. Aku sudah tidak berfikir lagi untuk malu, jika semua orang tahu, bahwa aku memberi hadiah kepada salah seorang muridku. Sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Aku langsung naik ke lantai satu. Di dalam kelas masih ada beberapa orang murid saja. Sedang kasak-kusuk entah apa yang mereka bicarakan. Jangan harap jika salah satu diantara mereka akan ada murid bandel itu. Ia sudah terbiasa datang telat.

“Cau an Lause..”1 mereka yang melihatku masuk serempak menyapa.

“Yi pai u she u hau, cai nali a?” 2 tanyaku pada mereka. Aku yakin hampir semua murid tahu tentang orang yang bernomor itu. Karena dia memang terkenal sebagai murid yang bandel, namun menyenangkan. Dan sebagian mereka mengenal sebagai murid kesayangan Lause Thomas. Bahkan kekasih Lause Thomas. Yaitu aku. Semua itu tidak lain karena seringnya kami cek-cok.

“Kami tidak mendapatinya sejak pagi tadi Lau se. Bersama tiga orang lainnya.” Sahut salah seorang dari mereka.

“Maksudmu?” tanyaku mulai khawatir.

“Semalam dia berantem dengan ibu asrama.” Sahut murid dengan nomor pin 220 ini.

“Sampai jambak-jambakan rambut loh, Lau se.” Yang lain lagi menimpali.

“Lha masalahnya kenapa emang?”

“Kami tidak tahu Lause. Tahu-tahu ia sudah dibawa ke kantor oleh ibu asrama. Dan dimarahi oleh orang sekantor. Terus orang kantor mengancamnya tidak akan memproses lagi kalau tidak segera minta maaf kepada ibu asrama. Tapi ia tetap tidak segera minta maaf pada ibu asrama. Dan orang kantor memberinya kesempatan hingga pagi ini. Jika hingga orang kantor datang ia belum mendapat laporan, tentang permintaan maafnya pada ibu asrama, maka ia akan dikeluarkan. Tapi ia justru menjawab, lebih baik dikeluarkan. Dan pagi ini, kami sudah tidak mendapatinya.” Panjang lebar 220 menerangkan. Seketika tubuhku terasa lemas. Diam-diam aku menyesali kekerasan gadis itu. Kenapa hanya untuk minta maaf saja ia tidak mau, demi menyelamatkan cita-citanya yang sudah berada diambang keberhasilan? Aku tahu, ibu asrama di sini juga bukan wanita baik. Ia sangat judes. Itu yang sering aku dengar dari laporan murid-muridku. Para guru di sini juga semua sudah tahu itu. karena murid mereka juga sering cerita akan hal itu. tidak ada seorangpun yang dekat dengan ibu asrama. Ibu asrama satu ini sangat keterlaluan.

Yang lebih aku sesalkan lagi, kenapa pihak kantor tidak segera saja kasih tahu kepada Retno bahwa ia telah mendapat job dan visanya telah turun. Sehingga ia bisa mengkontrol dirinya, untuk tidak membantah ibu asrama yang tinggal beberapa hari saja tinggal bersamanya?

Perlahan aku keluar dari ruang kelas Lin Chen, melangkah menaiki tangga atas. Sekali kubuka tasku. Kupandangi kado yang sudah aku bungkus dengan rapi. Kado yang aku beli dengan tanganku sendiri dan kubungkus dengan kedua tanganku pula. Hanya khusus akan aku berikan kepada gadis bandel itu. Kenapa kamu harus kabur Retno?

Tiba-tiba, kedua mataku memanas. Dan.., hei.. ada apa dengan diriku? Kenapa aku merasa sangat kehilangan dia? Kenapa baru sekarang aku memikirkan dia? Apakah aku telah jatuh cinta? Jatuh cinta diusiaku yang sudah 40 tahun? Kepada gadis yang lebih pantas menjadi anakku? Sungguh aku belum pernah merasakan hal seperti ini, kecuali 22 tahun yang lalu..

Kukerjapkan kedua mataku, agar basahnya tidak sampai menetes ke pipi…

1. Selamat pagi, Guru

2. Nomor 255 kemana?

Iklan

Responses

  1. waduh ternyata ibu guru to….pagi bu, maaf saya telat…

  2. wuh kok panjang amat

  3. seepp banget cerpennya, dimuat dimana neh ??

  4. hahaha…akhirnya ngaku juga km qq..kuh..kenapa selama ini di sembunyikan dr aq…??filing benar juga dan akhirnya terbukti…hahahaha…

  5. Nak Kiki, cerpennya dikirim ke media sana, pasi deh banyak yang mau nerima. Bagus sih. Ternyata pinter banget nulis ya?

  6. ugroseno said: waduh ternyata ibu guru to….pagi bu, maaf saya telat…

    Welleh… Kok Bu guru tah? Itukan Pak Thomas. Yeeeeee… Kurang teliti.. Hikz..

  7. paijo2yol said: wuh kok panjang amat

    Hikz.. ciri” org malas mbaca nih…

  8. cewekblora said: seepp banget cerpennya, dimuat dimana neh ??

    Hehe… Makasih byk Mbak Blora. Alhamdulillah dimuat di BI.

  9. Ini kisah sendiri ya Q? berarti aku hrs panggil Bu juga dunk? aku kan umurnya sama kaya Retno (jujur mode on)

  10. cupluk0025 said: hahaha…akhirnya ngaku juga km qq..kuh..kenapa selama ini di sembunyikan dr aq…??filing benar juga dan akhirnya terbukti…hahahaha…

    Yee… Mas Eko kuh gak adil ! Tuh feeling salah lg… Hikz.. Inikan kisah Qq 2001 dl. Wew…

  11. jandra22 said: Nak Kiki, cerpennya dikirim ke media sana, pasi deh banyak yang mau nerima. Bagus sih. Ternyata pinter banget nulis ya?

    Trm kasih byk Bunda.. Cerpen ini sdh dimuat disalah satu koran Indonesia yg ada di HK.

  12. rosyagus said: Ini kisah sendiri ya Q? berarti aku hrs panggil Bu juga dunk? aku kan umurnya sama kaya Retno (jujur mode on)

    Welleh.. Gmn tah Jeng Rosy? Lha Retno itu loh Qq sendiri.. Hikz.. Kikikikik..

  13. ehm…….ceritanya bisa dibuat film nih….siapa tau bisa booming kayak ayat2 cintrong

  14. dimazhe said: ehm…….ceritanya bisa dibuat film nih….siapa tau bisa booming kayak ayat2 cintrong

    Hikz… Bang Dhimas yg jd produsernya ya? Hahaha.. Amiin Yaa Allah…

  15. Nak Kiki, iku introne sing gude-gude nang nduwur ana apa ya? Aduh…… Kumaafkan deh, sama-sama ya, aku juga minta maaf.

  16. jandra22 said: Nak Kiki, iku introne sing gude-gude nang nduwur ana apa ya? Aduh…… Kumaafkan deh, sama-sama ya, aku juga minta maaf.

    Bukan apa” Bunda.. Qq hanya sdg ingin istirahat bentar. nanti insya Allah Qq akan simpan lg tulisan itu… Trm kasih byk ya Bunda… Bunda baiiiiikkkkkkk bgt… Smg Allah SWT melipatkan rahmatnya kpd Bunda Jandra…

  17. he he he he

  18. arriyadl said: he he he he

    Hihihi….

  19. duh enaknya ya yang lagi kebanjiran jatuh cinta………..tema kehidupan kok ga pernah jauh dari cinta ya?tapi makin asyik aja tuh

  20. cewekimanis said: duh enaknya ya yang lagi kebanjiran jatuh cinta………..tema kehidupan kok ga pernah jauh dari cinta ya?tapi makin asyik aja tuh

    Hahahaha… Ajarin Qq cara jatuh cinta yang bener dunk… Hikz…

  21. salam buguru…klau ngajar hati2 naksir muridnya ya…:-)

  22. cakdayat said: salam buguru…klau ngajar hati2 naksir muridnya ya…:-)

    Hikz.. Gmn klo Qq naksir Cak Dayat saja?

  23. Ass, salam kenal dari dari za buat Qq,semoga terus semangat dalam menulis, kayaknya kisah pribadi tu??? sukses ya buat Qq, “selamat menjalankan ibadah puasa ajaa” semoga bulan ini menjadi ladang amal bagi kita semua….a, Amin……n

  24. khaldazayyan said: Ass, salam kenal dari dari za buat Qq,semoga terus semangat dalam menulis, kayaknya kisah pribadi tu??? sukses ya buat Qq, “selamat menjalankan ibadah puasa ajaa” semoga bulan ini menjadi ladang amal bagi kita semua….a, Amin……n

    Syukron katsiira tuk supportnya Ukhty…, Iyu. He…Amiin Yaa Allah… Terimakasih byk atas ucapannya. Amiin yaa Allah…

  25. 祝贺对您为是一个教师, 特殊对您致力。愿望。Congratulation to you teacher, especially for your devoting. Best Wishes.

  26. I m a man who easly to cry..(but no one ever see it) and i almost cried when read dis storyHiks..hiks.. Nice story Mrs.QQ Btw,bacanya kiki or kyu kyu?he2..

  27. loneknight said: 祝贺对您为是一个教师, 特殊对您致力。愿望。Congratulation to you teacher, especially for your devoting. Best Wishes.

    感谢你讲话, sorri for the late replay. Qq just see it now. He…

  28. hokage5056 said: I m a man who easly to cry..(but no one ever see it) and i almost cried when read dis storyHiks..hiks.. Nice story Mrs.QQ Btw,bacanya kiki or kyu kyu?he2..

    Is that really? Oh my God. There are so litle mans like you Mr. Hokage.Thank you very much.Kiu-Kiu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: