Oleh: Ida Raihan | 24 Maret 2009

* Aku, Dia, Dan Arloji Tua.

Semalam ketika aku jalan-jalan di google, aku menemukan sebuah tulisan yang sangat aku kenali di multiplay tetangga. Kubaca. Dan tertawa. Setelah itu aku mengkopynya lalu mempaste ke MW (Microsoft Words) ku. Aku edit kembali. Karena itu adalah tulisanku pada masa-masa awal aku berani menulis dulu. Buanyak sekali kesalahan. Dan setelah selesai edit, inilah dia. Sebuah cerpen.

Aku tidak mengerti kenapa gadis itu selalu memandangku dengan pandangan sinis begitu. Seperti pagi ini misalnya, saat kami berpapasan di depan kelas, aku mencoba tersenyum kepadanya namun tanggapan dia justru seperti melihat ada sesuatu yang najis pada diriku.

“Gue nggak ngerti, Mir, kenapa dia bersikap begitu terhadap gue,” keluhku pada Mira saat kami bertemu di halaman sekolah. Sicewek tomboy yang jadi teman akrabku sejak kecil. Sejak aku menjadi warga Lampung Utara. Sebenarnya gue, elo, bukan bahasa keseharian kami orang Lampung Utara. Tetapi, sinetron dan film remaja yang ditayangkan di teve-teve sedikit banyak telah membuat kami ikut-ikutan logat mereka orang-orang kota.

“Cuek aja lagi, biasa anak orang kaya emang gitu,” sahut Mira santai. Aku seperti nggak bisa menerima penjelasan Mira, karena kalau aku lihat dia juga tidak kaya-kaya amat, orang tuanya sama saja dengan orang tuaku. Sama-sama pemilik toko kelontong di pasar Tulang Bawang. Bedanya ia ditunggui seorang ayah sedang aku tidak. Pasti ada alasan lain yang membuatnya bersikap begitu terhadapku.

Jam dua siang pelajaran usai. Semua siswa-siswi SMK Al-Iman meninggalkan kelas masing-masing. Begitupun aku, Mira serta gadis itu. Kebetulan arah rumah kami sama, sehingga kami naik angkutan sama pula.

Aku tidak tahu apakah ini termasuk dalam rencana Tuhan, atau hanya kebetulan. Kebetulan aku dan Mira masuk ke angkot duluan, dan langsung dapat tempat duduk yang nyaman. Sedang dia yang masuk setelah kami terpaksa berhimpitan di depan pintu dekat kondektur. Sebenarnya aku tidak tega melihat itu, tapi apa boleh buat gadis itu tidak akan mau menerima uluran baikku. Ia lebih baik kesusahan dari pada menerima kebaikan dariku. Itu sering terjadi. Niatku yang tulus ingin membantu, dibalas dengan tatapan sinis penuh kebencian.

Angkutan pedesaan yang kami tumpangi terus melaju dengan cepat. Berpacu dengan keramaian jalan raya Lintas Timur. Ketika angkutan sudah berjalan lebih-kurang satu kilo, mendadak sekali sopir angkut menghentikan mobilnya, sehingga semua penumpang histeris bersamaan dengan terlemparnya tubuh kondektur, keluar dari angkot. Terjerembab di jalanan. Pegangan gadis itupun terlepas. Dan entah malaikat mana yang masuk ke relung hatiku sehingga dengan gerakan reflek aku mengulurkan tanganku menahan tubuh gadis itu, agar tidak ikut terlempar keluar, seperti kondektur, yang kini telah dikerumuni banyak orang, karena langsung tertabrak mobil sedan yang kebetulan berjalan di belakang angkutan yang kami tumpangi.

“Guntur, apakah lo baik-baik saja?” Tanya Mira yang telah berada di dekatku.

“Gue baik-baik saja Mir, terimakasih.” Jawabku sambil menatap gadis itu yang tetap diam membisu. Namun terlihat jelas sekali ada percikan sebening pecahan kaca di kedua bola matanya. Mungkin karena dia syok dengan kejadian yang baru kami alami.

“Guntur tangan lo berdarah,” ucap Mira lagi. Setelah kami turun dari angkot. Aku segera beralih ke tangan yang dimaksud Mira. Ya, pergelangan tangan kiriku berdarah, diakibatkan oleh pecahan kaca dari arloji yang ku pakai. Ada rasa perih yang semula tidak aku rasakan, karena tertutup rasa deg-degan di hati. Aku sudah menjadi seorang pahlawan. Aku baru saja menyelamatkan seseorang. Ya, seorang gadis yang sangat membenciku. Tapi benarkah ia sangat membenciku? Lalu apa arti airmata yang membasahi kelopak matanya itu?

**********

Kupandangi arloji yang tergeletak di meja belajarku. Arloji tua warisan dari kakek yang telah meninggal dunia sepuluh tahun lalu. Kini kaca arloji itu telah hancur membentur dinding besi d
idekat pintu angkutan umum, saat aku mencoba menyelamatkan gadis manis tapi selalu sinis, yang sudah tiga tahun berada di satu ruang kelas denganku. Kini aku tidak bisa lagi mengenakan benda itu, kedua jarum yang selalu menunjukkan waktu kini berhenti sama sekali. Ia tidak mau berdetak lagi. Kehidupannya telah tercabut, demi mempertahankan nyawa gadis itu.

Kulirik jam yang melekat di dinding kamarku sesaat, sudah menunjukkan pukul 07:10 WIB. Buru-buru kusambar tas sekolah dan segera pamit pada ibu. Aku berpacu memburu waktu berlari menuju sekolahku.

Baru saja beberapa langkah aku meimijakkan kaki di halaman sekolah, tiba-tiba aku dengar suara lembut memanggil namaku. “Guntur.”

Jelas sekali itu bukan suara Mira. Suara itu terdengar asing bagiku. Kuhentikan langkahku, dan perlahan kubalikkan tubuhku, untuk memastikan siapa pemilik suara merdu itu.

“Terima kasih.” ucapnya lagi setelah aku menghadapnya. Aku sungguh tidak percaya dengan penglihatan dan pendengaranku. Gadis itu, ya gadis itu memanggilku dan mengucapkan terima kasih padaku. Apakah dia sudah sadar kalau aku ini juga manusia. Yang tidak suka dihadapi dengan sinis?

Aku mengganguk pelan, mengerti apa maksud ucapannya.

“Ambillah,” lanjutnya lagi sambil menyodorkan sesuatu yang dibungkus rapi kepadaku.

“Apa itu?” tanyaku tanpa berniat mengambil pemberiannya.

“Gue tahu, kemarin sewaktu lo menyelamatkan gue, arloji lo membentur pintu besi hingga rusak total, karena itu gue bermaksud menggantinya,” jawabnya kemudian.

Aku terdiam. Aku tidak tahu mesti jawab apa. Selain aku tidak mau membuatnya repot mengganti arloji itu, benda itu juga tidak akan pernah bisa tergantikan. Benda itu adalah milik kakek. Pemberian dari sahabatnya sewaktu masa penjajahan Belanda bertahun-tahun yang lalu. Yang kemudian diwariskan padaku dua jam pada detik-detik akhir hidup beliau.

“Gue tau, elo emang gak bakalan pernah mau nerima apapun dari gue. Terimakasih.” Ucapnya tiba-tiba, sambil berlalu meninggalkanku. Aku sangat terkejut. Aku baru menyadari kalau aku sudah membuatnya kesal dengan diamku. Padahal aku tidak bermaksud cuek terhadapnya. Aku hanya terbengong-bengong.

“Asti tunggu!” panggilku sambil mengejar dan mencegat langkahnya dari depan. Sekilas aku lihat ada butir bening menetes di pipinya.

“Maafin gue,” ucapku tidak tahu lagi harus berbuat apa.

“Kenapa sih lo selalu membenci gue?” tanyanya sambil menyeka airmatanya.

Apa? Aku membenci dia? Apakah aku tidak salah dengar? Bukankah selama ini dia yang selalu sinis terhadapku?

“Apa Asti? Gue benci elo? Apakah gue gak salah dengar Asti? Selama ini gue selalu berusaha baik ama elo. Tapi lo sendiri yang selalu sinis pada gue.” Sahutku membela diri dalam ketidak mengertianku.

Gadis itu terdiam, menunduk, namun airmatanya semakin deras membasahi kedua belah pipinya yang bersih.

Lagi-lagi aku tak tega melihat itu. Tapi apa boleh buat gadis itu bukan muhrimku. Aku tidak halal untuk menyentuhnya. Aku tidak halal untuk menghapus airmata itu.

“Sebenarnya gue ingin jadi sahabat lo, As. Tapi melihat sikap lo terhadap gue selama ini, tak ada keberanian lagi bagi gue untuk ngedeketin lo. Bisakah lo beri alasan, kenapa lo begitu As?” tanyaku hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya.

“Lo gak akan ngerti, Gun,” jawabnya sambil menggeleng pelan.

“Ya. Gue gak ngerti, dan gak akan pernah bisa ngerti kalo lo gak mau ngomong Asti!” aku mulai nggak sabar menghadapi gadis yang ada di hadapanku itu. namunpun begitu, aku tetap berusaha menekan suaraku.

“Asti bicaralah, dimana letak kesalahan gue sama elo. Sehingga gue faham dengan masalah kita,” pintaku lagi setelah aku lihat gadis itu teta
p membisu.

“Lo gak bersalah, Gun. Hanya saja gue ngiri sama lo,”

“Ngiri? Karena apa?” aku mengerutkan dahiku. Merasa aneh dengan jawabannya. Apa yang membuatnya iri?

“Gue ngiri karena menurut ibu gue, sewaktu kita masih kecil dulu, lo lebih disayangi oleh kakek. Lo lebih sering diajak bermain dan jalan-jalan oleh kakek. Lo lebih sering dikasih hadiah oleh kakek. Lo banyak mendapat pelajaran dari pengalaman kakek. Sehingga gue gak pernah bisa mengalahkan lo dalam merebut prestasi di sekolah. Gue benar-benar ngiri sama lo, Gun.” Panjang lebar gadis itu menguraikan alasan atas sikapnya selama ini.

“Tapi kakek gue…

“Abdullah bukan cuma kakek lo, tapi juga kakek gue. Abdullah adalah ayah dari ayah kita.”

“Asti, lo ngomongin apa? Gue nggak ngerti apa maksud lo?” aku masih bingung dengan ucapannya. Bagaimana jalurnya kalau benar kakekku adalah kakek dia? Dan, dia menyebut ayah kita. Siapa yang dimaksud ayah kita? Sementara aku sendiri tidak tahu di mana ayahku kini berada.

“Guntur, sebenarnya lo adalah adik kandung gue, ayah gue adalah ayah lo juga. Hanya ibu kita saja yang berbeda.” Sungguh bagaikan guntur yang menggelegar disiang bolong. Menerjang gendang telingaku.

“Guntur! Asti! cepetan masuk kelas!” tiba-tiba Mira sudah berada di tempat yang tidak jauh dari kami berdiri. Oh… kami sudah terlambat 15 menit! Buru-buru kami masuk ke dalam kelas. Beruntung belum ada guru yang masuk. Di dalam kelas aku lebih banyak diam. Tidak seperti biasa yang selalu banyak bicara. Aku lihat Astipun melakukan hal yang sama. Mira tampaknya mengerti keadaan. Sehingga ia tidak jahil seperti biasa.

Sepulang dari sekolah, bakda sholat dzuhur aku langsung masuk kamar. Dan mengunci pintunya rapat-rapat. Kupandangi lagi arloji warisan kakek yang telah hancur itu. “Kakek seandainya engkau masih di sini, tentu engkau akan menceritakan padaku, tentang semua ini…

Iklan

Responses

  1. …..cerpen yg bagus :-)…..

  2. numpang baca…:Dsambil pesan kopi ama gorengan pisang …

  3. aduh… puyeng euy bacanya.. tak kopas boleh gak nduk??bekgron sama tulisan ne bikin puyeng 😦

  4. indahnyasyahrul said: …..cerpen yg bagus :-)…..

    He.. Makasih Mbak Indah.

  5. khamshe said: numpang baca…:Dsambil pesan kopi ama gorengan pisang …

    Siang-siang mana ada gorengan pisang. Nunggu pagi. Sini duitnya dulu. Hwekekekeke…

  6. wrseno said: aduh… puyeng euy bacanya.. tak kopas boleh gak nduk??bekgron sama tulisan ne bikin puyeng 😦

    Lhah… Qq dadi melu mumet Kang Seno. Biru jare mumeti, putih nggliyeri. Siki ungu jare muyengi. Jian, eram. Lha kudu ngangge warna apa sih ya?

  7. coba kuning deh…

  8. wrseno said: coba kuning deh…

    Kayaknya malah kian silau tu. Tapi cuba nanti jika Qq dah ada postingan baru.

  9. hoohhoohohocrit y bgs,sk aku”tp guntur kek nm cow y hiihh pa mmg co? wewewe.tnyacom”_”

  10. bagus ceritanya..:)

  11. Wah, apik nduk. Melu seneng bisa maca sing apik-apik terus nang kene. Nuwun ya.

  12. baimnastyion said: hoohhoohohocrit y bgs,sk aku”tp guntur kek nm cow y hiihh pa mmg co? wewewe.tnyacom”_”

    Lha itukan emang cowok. Sebagai tokoh utama. Makasih banyak ya Uda, dah mahu baca tulisan Qq. He…

  13. cupluk0025 said: bagus ceritanya..:)

    Terimakasih banyak Mas Eko. ^_^

  14. jandra22 said: Wah, apik nduk. Melu seneng bisa maca sing apik-apik terus nang kene. Nuwun ya.

    Matur sembah nuwun Bunda Julie. Qq belajar dari Bunda. Banyak kata-kata baru yang bisa Qq dapatkan di sana. Bolehkan Bunda?

  15. qqcakep said: Matur sembah nuwun Bunda Julie. Qq belajar dari Bunda. Banyak kata-kata baru yang bisa Qq dapatkan di sana. Bolehkan Bunda?

    Silahkan, silahkan. Mari kita sama-sama belajar.

  16. jandra22 said: Silahkan, silahkan. Mari kita sama-sama belajar.

    Aha… dah diizinkan. Makasih buuuuuanyak Bunda. Kemarin waktu Qq baca di ruang Bunda, Qq catet beberapa. He…

  17. qqcakep said: Lha itukan emang cowok. Sebagai tokoh utama. Makasih banyak ya Uda, dah mahu baca tulisan Qq. He…

    ooo ta kira td guntur itu si Qqixxixxixi

  18. baimnastyion said: ooo ta kira td guntur itu si Qqixxixxixi

    Wexz… ya bukan la. Kan cuma cerpen. Jadi ya tokoh karangan. He…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: