Oleh: Ida Raihan | 2 April 2009

Sudah Ikhlaskah Kita?

(Luqman berkata): `Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [QS: Luqman: 16]

BEBERAPA HARI yang lalu, ketika saya sedang membantu mengajar murid les bahasa Inggris di suatu tempat, salah seorang pengasuh murid les datang untuk menjemput anak asuhnya. Sudah lebih dari sebulan saya tidak melihatnya. Dan ketika saya melihatnya sore itu, tubuhnya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya.

“Kamu tahu? Hatiku sedih sekali.” Wanita setengah baya itu berkata.

“Kenapa?”

“Sudah cukup lama aku bekerja. Bertahun-tahun. Aku sudah capek sekali.”

“Engkau tidak sia-sia selama bekerja, Sis (sister). Ada hasilnya bukan? Engkau bisa menyekolahkan anakmu. Engkau bisa menyekolahkan dia hingga university.”

“Ya, anakku adalah satu-satunya harapanku.”

“Dan semua sudah berjalan sesuai harapanmu.”

“Aku masih butuh uang banyak untuk membiayainya lagi. Coba aku dulu tidak membiayai sekolah adik-adikku, tentu aku tidak perlu bekerja sebegini lamanya. Dan tentu aku sekarang sudah tidak perlu lagi ada di sini. Karena aku sudah memiliki uang yang cukup buat anakku.”

“Tidak perlu kamu sesali. Adikmu pasti akan mengingat pengorbananmu.”

“Semuanya tidak berguna. Percuma aku membiayai mereka hingga university.”

“Kenapa begitu?”

“Mereka menikah begitu lulus kuliah.”

“Engkau pahlawan bagi mereka. Mereka tentu sangat mencintaimu.”

“Aku membiayainya supaya nanti dia mendapat kerja yang baik, lalu gantian membantu perekonomian keluarga. Tapi mereka langsung menikah begitu selesai wisuda. Yang perempuan dibawa pergi suaminya, yang pria tinggal bersama istrinya. Aku benar-benar kecewa.”

SECARA NALURIAH, semua orang tentu ingin melihat orang-orang yang kita cintai memiliki masa depan yang baik. Memiliki kebahagiaan dengan kesuksesan di hari tuanya. Ketika kita melihat seolah-olah masa depan mereka tidak jelas kitapun akan meresa gelisah. Sehingga terdorong dalam diri kita untuk berusaha membantu mereka agar bisa berjalan menuju arah sukses. Diantaranya dengan menyekolahkan mereka.

Mahalnya biaya pendidikan, khususnya di Indonesia, membuat banyak orangtua merasa kesulitan untuk menebusnya. Memang banyak yang bisa begitu mudah membiayai anak-anaknya sekolah hingga ke luar negeri. Namun tidak sedikit pula yang akhirnya putus sekolah karena ketiadaan biaya.

Ada yang menyerah. Namun tidak sedikit pula yang tetap ingin memperta
hankan pendidikan orang-orang yang kita kasihi itu, sehingga diantara kita rela banting tulang agar mampu membayar mahalnya pendidikan tersebut. Baik orangtua kepada anak-anak yang dikasihinya, maupun seorang kakak terhadap adik yang dicintainya.

Cuplikan percakapan di atas menggambarkan bagaimana seorang kakak yang ingin tetap melihat adiknya menjadi menusia sukses. Namun sayang sekali, ia harus kecewa diujungnya.

Meskipun sebenarnya adik-adik kita adalah tanggung jawab orangtua, namun peran seorang kakak juga sangat penting dalam membentuk kepribadian adik-adik kita. Dan sebagai seorang kakak, tentu kita juga tidak bisa diam melihat kesengsaraan orangtua dalam mendidik adik-adik kita. Karena itu tidak sedikit seorang kakak yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya, demi membantu mereka.

Sebagai seorang kakak, kita akan turut gelisah ketika mendapati adik-adik kita tidak mampu meneruskan sekolah. Kita khawatir kalau-kalau mendapati masa depan mereka tidak jelas. Karena itu, kita, khususnya yang berasal dari golongan bawah, merasa harus melakukan sesuatu agar mereka tetap bisa bertahan, untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Kita rela bekerja hingga jauh dengan keluarga sekalipun demi masa depan. Bahkan sebagian dari kita rela pergi hingga keluar negeri.

Hal seperti ini sering sekali terjadi di sekitar kita. Bahkan mungkin dialami oleh kita sendiri. Jika semua itu kita jalani dengan ikhlas, demi keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah, Allah akan membalas kebaikan yang kita lakukan dengan kelebihan yang berlipat-lipat.

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. [QS: Az-Zalzalah: 7]

Sabda Nabi: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR.Tirmidzi, hadits hasan shahih).

Namun, terkadang entah kita sadari atau tidak, terselip niat yang salah di hati kita. Sebuah harapan lain. Kita berharap, kelak adik kita menjadi manusia sukses, kita berharap ia bisa membantu kesulitan kita. Setidaknya untuk membantu kedua orangtua kita. Dan ketika semua berjalan tidak sesuai dengan harapan kita, ketika kita merasa, tak mendapat apa-apa dari investasi yang telah kita lakukan, kita merasa sia-sia perjuangan kita. Merasa kecewa, sedih dan menyesal.

Tentu kita harus sadar akan hal ini sejak awal, bahwa, adik-adik kita, atau siapapun yang menjadi tanggung jawab kita, tidak akan selamanya bersama kita. Suatu hari nanti sudah pasti mereka akan meninggalkan kita. Baik menikah atau adanya hal lain. Jika tujuan kita memang investasi, ada baiknya kita sampaikan pada mereka sebelumnya. Namun jika niat kita semula ikhlas untuk membantu mereka, mari, kita kembali meluruskan niat. Khususnya untuk teman-teman yang berada di rantau. Agar hasil dari cucuran keringat yang keluar dari tubuh kita membawa barokah untuk kehidupan saudara-saudara kita. Barokah pada ilmu yang di dapatkan oleh adik-adik atau orang-orang yang menjadi tanggungan kita. Bermanfaat untuk kehidupan dunia hingga akhirat. Dan kita mendapat pahala di sisi Allah.

Jangan sampai apa yang telah kita perjuangkan selama ini sia-sia, atau hanya mendapatkan lelahnya saja karena menyakiti hati yang menerima, dengan cara mengungkit-ungkit apa yang telah kita berikan. Toh semua itu tidak akan mungkin mengembalikan tenaga dan waktu yang telah kita sumbangkan. Percayalah, jika kita ikhlas, Allah yang akan menggantikannya. Kalaupun tidak di dunia, semoga kelak di firdaus-Nya…

Wallahu’alam…

Kamis, 2 April 2009

Iklan

Responses

  1. sepakat baget…nice post…

  2. Syukron ya ukhti, tulisannya sangat berarti, kebetulan peran saya mirip dengan cerita tsb. Memang kurang tepat kalau kita berharap si adik membalas bantuan kita walau hanya dengan sikap atau perilaku ataupun peran. Ketika saya menemukan ketidak sesuaian adik dengan harapan baik prestasi, aktifitas ataupun kreatifitas, ada sedikit kecewa di hati karena dinilai tidak sesuai dengan pengorbanan yang dilakukan. Tapi itulah Cinta, dikala seperti itu yang teringat di pikiranku adalah Ibu. Tidak ada yang lebih besar dari kasih ibu terhadap anaknya, tidak pula ada yang lebih besar dari pengorbanan ibu untuk anaknya. Entah berapa kali aku membuat ibu kecewa, tapi ibu tidak pernah membendungku, bahkan ketika aku tidak sesuai dengan harapan ibu, ibu selalu mengalah selalu tersenyum. Aku… yang hanya sedikit berkorban untuk adik, tentu tidak pantas untuk berkecewa. Itulah cinta…. jangan perah berharap balasan darinya, mending arahkan cinta untuk mendapatkn ikhlas, ketika kita membantu adik, bukankan hakikatnya kita juga membantu ibu? dan semua itu karena Allah. namun kebahagiaan yang luar biasa adalah ketika adik bermanfaat untuk sebanyak2nya umat. Itulah diantara hikmah yang pernah kuterima.

  3. roebyarto said: sepakat baget…nice post…

    Terimakasih banyak Akhy Roebyarto. Semoga bermanfaat.

  4. isnanto said: Itulah diantara hikmah yang pernah kuterima.

    Subhanallah, Walhamdulillah. Semoga Allah membalas perjuangan Akhy Isnan dengan balasan sebaik”nya.Ya, jika saja kita mau mengingati bagaimana perjuangan Ayah-Bunda ~semoga Allah merahmati mereka~ dalam memberi kepada kita. Yang tiada pernah berharap kembali, tentu kita akan malu menghitung apa yang telah kita berikan kepada saudara-saudari kita. Yang tentunya masih sangat sedikit.

  5. Memberi tak harus menerima…

  6. eah,mksih y din

  7. yadiemlzt said: Memberi tak harus menerima…

    Yupz… betul banget. Setuju. ^__^

  8. baimnastyion said: eah,mksih y din

    Ahem…, sama” Kanda Baim. ^__^

  9. secara keseluruhan kita blm bisa iklas sepenuhnya,sering ada ganjalan2 di belakang yang tanpa kita sadari,belajar iklas itu cukup berat,ya mungkin ini kodratnya manusia mungkin..:)

  10. cupluk0025 said: secara keseluruhan kita blm bisa iklas sepenuhnya,sering ada ganjalan2 di belakang yang tanpa kita sadari,belajar iklas itu cukup berat,ya mungkin ini kodratnya manusia mungkin..:)

    Yupz! Dari fakta yang ada, ikhlas itu susah banget.

  11. waduh Qi, makasih diingetin, lagi susah payah belajar untuk ikhlas. Doain ya Q..

  12. nisanajma said: waduh Qi, makasih diingetin, lagi susah payah belajar untuk ikhlas. Doain ya Q..

    Yupz. Ikhlas itu benar-benar sangat sulit. Semoga kita mendapat bantuan dari Allah. Dan menggolongkan kita dalam golongan hamba” Nya yg ikhlas.

  13. aku sepakat…. udah lama ngak buka MP ukti,…maklum ana masygul akhir akhir ini…..Terasa ada secangkir air jernih menyentuh kerongkongan yang kehausan,—

  14. haris122 said: aku sepakat…. udah lama ngak buka MP ukti,…maklum ana masygul akhir akhir ini…..Terasa ada secangkir air jernih menyentuh kerongkongan yang kehausan,—

    Jazakallah khair yaa Akhy Haris.Aha… Berarti dah ketemu dunk makmum subuhnya? Alhamdulillah…

  15. Mencintailah seperti kau tidak pernah dikhianatiMenarilah seolah tak ada orang yang melihat, dan’Memberilah seolah kau tak pernah mengenal menerima

  16. meythree said: Mencintailah seperti kau tidak pernah dikhianatiMenarilah seolah tak ada orang yang melihat, dan’Memberilah seolah kau tak pernah mengenal menerima

    Sanggupkah kita? Adakala bibir mampu mengucapkan ini. Tetapi di masa lain, kita sering menghujatnya. Semoga kita terjaga dari hal-hal yg demikian

  17. memberi dalah cinta…cinta tak pernah berharap pamrih…biarlah setiap pemberian menjadi catatan amal nan indah tanpa embel2 pamrih…

  18. tsabitaadzimatillah said: memberi dalah cinta…cinta tak pernah berharap pamrih…biarlah setiap pemberian menjadi catatan amal nan indah tanpa embel2 pamrih…

    Subhanallah, walhamdulillah… Sejutu sekali Say. Ya.. biarlah Allah yang akan membalasnya dengan keliapan yg lebih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: