Oleh: Ida Raihan | 12 Desember 2009

Cemburu Aku Pada Sang Murabbi

Sudah mendekati jam sebelas malam. Mata ini sudah mengantuk tapi karena masih ada tugas yang belum selesai maka aku kembali membuka computer. Menghidupkan YM dalam bayang invisible.

“Salam.” Tiba-tiba seorang sahabat menyapa. Aku tidak tanya mengapa beliau belum tidur. Dan aku juga tidak bertanya di mana beliau. Aku hanya mengira beliau sudah ada di tempat peristiahatannya. Namun…

“Aku masih di sekolah.” Ketiknya setelah beberapa saat kami membicarakan suatu masalah. Pukul 23:06:15.

“Hah??????? Jam segini???????

“Iya. Ada mabit di sekolah.”

“Ya Allah. Berat ya cari nafkah?” tanyaku. Aku mengira karena tuntutan kerjalah beliau hingga malam masih berada di sekolahnya. Aku sedih mengetahui ini. Tapi Rabb, ternyata aku salah. Beliau senang menjalani itu semua.

“Bukan sekedar kerja. Tapi jihad, dakwah. Ada misi, ada nilai-nilai yang ingin kami bangun.” Terangnya. “Menjadi seorang guru selalu mengalir keberkahan, jika kita ikhlas.” Lanjut beliau dalam waktunya yang singkat.

“Doakan agar aku mati dalam kedaan menuntut ilmu atau berdakwah..” Allah, seketika aku merasakan kecemburuan dalam diriku. Beruntung sekali dia yang bisa menjadi guru. Mengajarkan banyak hal yang baru pada murid-muridnya.

Guru adalah orangtua kedua bagi anak-anak didik. Menjadi guru merupakan tugas yang sangat mulia. Di tangannya akan tercipta mahluk yang membentuk beradaban dunia. Atau mahluk yang rusak penghancur segalanya.

Seorang guru mempunyai tugas untuk mendorong anak didik agar mau dan semangat belajar. Seorang guru juga dituntut untuk menjadi manusia penyabar, khususnya dalam menghadapi anak didiknya yang memiliki kemampuan berbeda satu sama lain. Memilki tingkat ketangkasan yang berbeda. Dan seorang guru juga tidak pelit akan ilmu. Tidak takut ilmuya akan habis dibagikan ke murid-muridnya. Jiwanya akan terus terpanggil untuk memberikan pengajaran kepada anak didiknya. Tanpa takut tersaingi oleh yang dididik.

Mengingati ini aku jadi malu pada diri sendiri. Aku ingat ketika masih muda dulu, aku dekat dengan seorang teman yang sangat cantik. Namun soal agama ia sangat minim. Ia tidak pernah memikirkan pakaiannya apakah menarik perhatian para hidung belang atau tidak. Yang penting baginya ia bisa terus tampil cantik dan menarik. Kewajiban lima waktu tidak pernah dikerjakan. Namunpun begitu aku sangat menyayanginya. Dan karena sayangku inilah aku bertekad untuk merubahnya. Aku ingin melihat dia menjadi wanita shaleha. Mulailah aku menyisipkan pesan-pesan akidah dalam setiap pembicaraan kami.

Cara lain yang kugunakan, meminjamkan bacaan Islami kepadanya. Meskipun aku tahu ia tidak suka membaca, aku terus merayunya, menceritakan kisah-kisah menarik dari buku-buku yang kupunya. Dan manfaat-manfaatnya.

“Kamu akan pandai merangkai kata untuk cowok-cowokmu jika kamu suka membaca.” Rayuku dikesempatan lain. Karena selama ini dia selalu meminta aku yang membalas SMS pacar dan teman-temannya. Sebenarnya keberuntungan bagiku, karena aku jadi tahu rayuan-rayuan gombal para pria yang sedang naksir cewek.

Lumayan. Rayuanku berhasil. Temanku jadi giat membaca, giat menuliskan kisah-kisahnya pada diary. Giat menuntut ilmu. Suka bertanya ini itu tentang agama. Dan yang terakhir dia mengubah penampilannya. Baju lebar berpadu dengan jilbab. Subhanallah…

Dan diapun menjadi lebih pandai dalam banyak hal. Masya Allah. Dia balik menasehatiku.

Diam-diam aku iri kepadanya, “Ah.., aku tidak akan cerita buku ini kepadanya. Nanti dia akan semakin pandai dari aku. Sudah dia cantik, shaleha, wawasannya luas lagi. Kebagian apa aku jadinya?” begitu aku berfikir ketika aku mempunyai buku baru yang sangat bagus dan banyak manfaat.

Namun itu tidak berlangsung lama. Baru beberapa jam saja, aku telah merenungi diriku sekali lagi, kenapa kamu berlaku begitu Ida? Penulis bukunya saja menyebarkan ilmunya kebanyak orang. Kepadamu juga. Mengapa kamu tidak mau berbagi? Resahlah aku dengan perbuatan sendiri.

Akhirnya aku menelepon Ustadz di Jakarta. Bermaksud meminta solusi. Istri beliau yang mengangkat. Ceritapun mengalir…

“Mbak nggak boleh begitu.” Kata beliau. “Harusnya Mbak bersyukur karena dengan izin Allah, telah berhasil mengajaknya ke jalan yang benar.”

“Cuba lihat ke saya Mbak,” lanjutnya. “saya guru SD, tapi saya tidak menyesal melihat murid-murid saya menjadi sarjana, menjadi dokter, menjadi pegawai negeri, dan banyak lagi lainnya. Saya justru bangga melihat mereka berhasil Mbak.”

Astaghfirullah… memang berbeda sekali jiwa seorang guru dengan seorang yang sangat awwam seperti Ida…

Aku jadi merasa bangga mengenal sahabatku ini. Yang bersama istrinya berdakwah, berjang untuk mencerdaskan ummat. Aku ingin menjadi sahabat mereka, dunia-akhirat…

Untuk Someone in Jakarta, Syukron katsiira tuk inspirasinya. Uhibbukum fillah.

Sabtu, 12 Desember 2009

Iklan

Responses

  1. Salam Ukhuwah saudaraku..syukron katsiron tulisannya tentang indahnya persahabatan berlandaskan kebaikan..*

  2. nanti di baca. jfs

  3. fatim4h said: Salam Ukhuwah saudaraku..syukron katsiron tulisannya tentang indahnya persahabatan berlandaskan kebaikan..*

    Salam Ukhuwah juga Ukhty, Tepatnya tentang kemulyan tugas seorang guru, Ukhty Fatimah 🙂

  4. halaqahbyu said: nanti di baca. jfs

    Syukron katsiira, AKhy 🙂

  5. Terima kasih untuk berbagi ceritanya, memang persahatan itu indah jika dilandasi dengan kebaikan dan ketulusan

  6. anggraeni81 said: Terima kasih untuk berbagi ceritanya, memang persahatan itu indah jika dilandasi dengan kebaikan dan ketulusan

    Sama” Ukhty Anggraeni. Yupz, sangat sangat indah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: