Oleh: Ida Raihan | 10 Mei 2011

(Cerpen) Sentuhan Luka Raihana

By: Ida Raihan

“Semuanya dusta!” kubanting berkas-berkas yang barusan kubaca. Airmataku sudah mengucur deras sejak tadi. Dadaku terasa panas ketika melihat dua wajah tersenyum manis di sisi masing-masing nama itu.

Namanya Ratih Dewinta, dua puluh tiga tahun. Matanya agak sipit, kulitnya putih bersih. Hidungnya duduk sempurna pada tempatnya. Bibirnya yang mungil agak kemerahan.

Satu lagi Fathimah, dua puluh empat tahun. Kebalikan dari Ratih, Fathimah memilki mata yang lebar dengan bulu yang lentik menghiasi binar bening bola matanya, yang memancarkan aura ketaqwaan. Pada masing-masing nama ada tambahan tulisan, berupa puji-pujian bagi keduanya. Seperti; Cerdas, berprestasi, pandai memasak, penyayang, lemah lembut, dewasa dan penyabar. Dadaku semakin bergemuruh dibakar api cemburu.

Dengan tangan gemetar aku kembali menarik selembar kertas dari laci yang sama. Tumpukan kertas penuh dengan coretan tangan itu menarik perhatianku. Coretan yang asal namun ada keterangan.

Jika aku memilih Ratih, maka aku harus mau mengalah. Pulang ke tanah kelahirannya, di Jawa. Jika Fathimah, maka aku harus mengijinkannya bekerja hingga malam.

Sekali lagi kumasukkan kertas itu ke dalam laci. Mendorongnya dengan kasar untuk menutupnya. Segera aku bangkit dari kursi, berlari keluar ruangan sebelum ketahuan yang punya. Bang Abidin.

“Semua dusta! Ibu dusta! Bang Abi dusta!” aku terus mengoceh semauku. Aku benci semua. Dengan kasar kubanting pintu kamarku. Lalu menelungkupkan wajahku di bantal. Menahan perih dan dongkol.

                                                          *****

“Engkau tahu, Raihana?” tanya Cut Aisy sore ini, ketika aku mendatangi di kamarnya. Kutatap wajahnya yang juga sedang tersenyum menatapku. Gerakan tangannya yang sedang mengganti sarung bantal terhenti. Selalu begitu. Dia akan berhenti bekerja jika sedang bicara dengan lawannya. Pemborosan waktu menurutku, tapi  “Untuk menghargai orang yang sedang bicara denganku.” begitu dia selalu berdalih.

Orang-orang memanggilnya Cut Aisy atau Cut Aisyah. Tapi aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Kak. Bang Abidin yang mengenalkanku dengannya.

“Panggil dia, Kak Aisy.” Begitu dulu, Bang Abi berkata.

“Tolong jangan mengulang, Kak Aisy.” Sahutku memohon.

“Raihana?” kulihat Cut Aisy menyipitkan kedua matanya. Dan itu tidak membuat keanggunannya lenyap. Tapi justru semakin manis. Dia menatapku tidak mengerti. Aku tidak peduli.

Sudah berkali-kali aku mendengar pertanyaan serupa. Dan aku tahu ujungnya juga pasti sama. Aku bosan. Karena kenyataan yang terjadi tidak pernah sama dengan apa yang mereka katakan. Semua dusta!

“Kak Aisy akan mengatakan hal yang serupakan?” tanyaku, mulai sesenggukan.

“Mengatakan apa?” kulihat Cut Aisy semakin bingung dalam ketidakmengertiannya. Ditanya begitu aku semakin terisak. Aku ingat bagaimana dulu ibu menanyakan kalimat itu kepadaku. Aku juga ingat bagaimana Bang Abidin bertanya. Sama persis dengan pertanyaan Cut Aisy tadi.

“Engkau tahu, Raihana?”

“Apa, Bang?”

“Mempertimbangkan kecantikan, atau ketampanan wajah pasangan, memang diperbolehkan.” Ucapnya ketika itu. “Tetapi itu tidak boleh dijadikan patokan utamanya.”

Aku diam. Sebelumnya aku memang bertanya, apakah aku tidak cukup cantik, untuk mendapatkan cinta seseorang yang sangat aku kagumi. Selama bertahun-tahun bahkan. Kuamati wajahku di balik cermin lemari yang tepat berada di depanku. Jarak satu setengah meter. Sementara Bang Abi tersenyum memperhatikan aku.

“Engkau tahu kenapa, Raihana?” lanjut, Bang Abi.

“Inner beauty.” Sahutku. Bukan asal, karena sebelumnya aku sudah sering mendengar orang mengatakan itu.

“Tepat sekali.” Senyum Bang Abi mengembang. Aku senang jawabanku benar.

“Jadi, Raihana tahukan, apa yang harus dilakukan?” tanyanya lagi.

“Akan Ray usahakan, Bang,”

“Apakah selama ini kelakuan Raihan buruk, Kak Aisy?” tanyaku diantara isak. Bayangan Bang Abi telah menghilang dari pelupuk anganku.

Kulihat Cut Aisy menggelangkan kepalanya. “Selama Kak Aisy mengenal, Ray,” kadang dia memang memanggilku dengan sebutan Ray atau Hana saja. “belum pernah Kak Aisy menemukan keburukan, Ray. Ray layak untuk dicintai.”

Tapi mengapa Bang Abi tidak mencintai Ray, Kak? Sudah cukup lama Ray mengharapnya. Kenapa Bang Abi justru akan memilih wanita lain? Perih rasanya kalau aku mengingati itu. Tidak sedikit yang mengatakan aku layak untuk dicintai. Tapi fakta mengatakan lain. Selama ini aku tidak tahu, apa dan bagaimana perasaan Bang Abi padaku. Perhatiannya, kasih sayangnya, ketelatenannya menghadapi kebandelanku. Ah… kiranya semua itu hanyalah bentuk tanggung jawabnya pada ibu, untuk menjagaku. Aku terlalu berharap lebih.

                                                          ******

Jam sudah melampaui pukul tiga dini hari. Namun sedikitpun aku belum bisa melenakan pikiranku. Berkali-kali kupejamkan mata, namun aku tetap gagal untuk melelapkannya. Aku tahu, sebentar lagi ponselku pasti akan berbunyi. Seperti biasa, Bang Abi pasti membangunkanku untuk tahajjud. Dan ini membuat aku selalu bergantung dan berharap padanya. Aku ingin selamanya dialah yang membangunkanku. Tapi, semua itu kini serasa tidak mungkin. Bang Abi akan memilih satu diantara dua wanita berwajah cantik dan anggun itu.

Tiba-tiba, aku kembali teringat pertanyaan Cut Aisy sore tadi. Engkau tahu Raihana? Pertanyaan yang langsung kupatahkan sebelum dia melanjutkan. Bagaimana jika ia bukan bermaksud untuk mengulang pertanyaan Bang Abi, atau pertanyaan ibu? Bagaimana kalau dia hanya akan menyampaikan kabar gembira?Betapa kejamnya aku!

Aku hanya trauma. Trauma dengan ucapan Bang Abi, yang mengatakan bahwa kecantikan bukan utama, tapi kenyataannya, dia mengkoleksi photo-photo wanita cantik! Benar-benar dusta!

“Ibu juga dusta! Dusta! Dusta! Dusta…!”

“Raihana!” terdengar teriakan dari luar. Beriring dengan suara pintu yang diketuk berkali-kali. “Adaapa Raihana?”

Ohaku berteriak tanpa sadar. Perlahan aku bangkit dari ranjangku, lalu mendekat ke pintu.

“Kak Aisy..” bisikku. Mataku mulai berkaca-kaca.

“Adaapa, Ray?” tanyanya. Tangannya dengan cekatan menyalakan lampu kamarku, lalu menyentuh kedua pipiku. Seketika direngkuhnya kepalaku ke dalam dadanya begitu tahu airmataku mulai mengalir. “Kamu mimpi buruk, Raihana?”

Aku menggeleng pelan. Sambil menumpahkan rasa sesak yang mengganjal di dada.

“Akhir-akhir ini, Kak Aisy sering mendapatimu melamun, Ray.” Ucap Cut Aisy lagi. Nadanya seperti bukan pertanyaan, melainkan ungkapan.

“Tidak.” Sahutku pendek.

“Kamu tidak bisa membohongiku, Ray. Kak Aisy mengenal betul dirimu.”

Sekali lagi aku hanya bisa diam.

“Jika kamu punya masalah, ceritakanlah, Ray.”

“Kak Aisy,” agak ragu aku membuka mulut. Kuangkat kepalaku untuk menatap wajahnya.

“Ray masih menganggap Kak Aisy, sebagai kakak Ray,kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, katakanlah, Ray.” Belum sempat aku membuka mulut lagi, tiba-tiba ponselku berbunyi.

“Bang Abi menelepon.” bisikku.

“Angkatlah.” Sahut Cut Aisy tenang. Aku berjalan menuju meja kecil tempatku manaruh ponsel.

“Abang ada kabar gembira buatmu, Ray.” Ucap Bang Abi, begitu aku mengangkat panggilannya. Tidak biasa. Biasanya dia hanya berkata, “Bangun Ray.” Lalu ditutup kembali setelah aku menjawab dengan kata “Ya”.

“Oya? Apa itu?” Seketika pikiranku kembali melayang pada dua sosok cantik yang ada di photo tadi siang.

“Engkau tahu, Raihana?”

Allah, pertanyaan itu lagi…“Apa Bang?”

“Abang akan menikah, Ray.”

“Oya?” berita itu nyata adanya.

“Engkau tahu, Ray? Engkau pasti sangat menyukai wanita pilihan, Abang. Karena, Ray sendiri yang mengatakan bahwa dia wanita yang sangat baik.”

“Oya?” lirih sekali suara ini. Semampu mungkin aku berusaha untuk bertahan, sambil mengira-ngira. Jika aku pernah memujinya, berarti bukan salah satu dari wanita yang ada di photo itu. Siapakah dia?

“Engkau tahu siapa dia, Raihana? Ah… engkau pasti tahu.” Walau aku tidak melihatnya, namun aku dapat merasakan, Bang Abi sedang tersenyum bahagia saat ini.

“Siapa?” aku balik bertanya.

“Dia wanita yang paling dekat denganmu saat ini.” Lanjut Bang Abi. “dekat lahir dan bathin.”

Dekat lahir bathin? Seketika aku menoleh ke, Cut Aisy. Terkejut. Tak ada wanita lain. Hanya dia. Selama ini hanya ada dua wanita yang yang paling dekat bathinnya denganku. Ibu dan Cut Aisy. Sedangkan Ibu berada jauh di Jawasana. Ya, pasti dia.

“Kak Aisy?”

“Ah.. sudah kukatakan, engkau pasi tahu.” Sahut Bang Abi. Nadanya semakin ceria.

“Selamat ya, Bang?” bisikku lirih. Kulihat Cut Aisy memberi isyarat, minta izin keluar kamar. Aku mengiyakan dengan anggukan.

“Kamu menangis, Raihana?”

“Ya.” Sahutku makin lirih.

“Kenapa, Ray? Apakah ini menyakitkanmu, adikku?”

“Tidak, Bang. Ray hanya terharu. Ray bahagia, mendengar berita ini.” Sahutku penuh keterpaksaan, dan… dusta!

“Terlalu lama, Ray, lama sekali Abang mencarinya. Lama sekali Abang memohonkannya. Dan sekarang, Allah mempertemukan kami. Abang yakin, dialah orangnya.”

“Sekali lagi selamat ya, Bang. Ray hanya bisa berdoa. Semoga kalian bahagia.”

“Terimakasih banyak, adikku.”

“Satu lagi,”

“Hmm..,

“Sayangi dia ya, Bang?”

“Tentu, Ray.”

“Dan lagi.”

“Ya?”

“Jangan sakiti dia, Bang.”

Insya Allah, Ray.”

“Dan lagi…” aku tak mampu lagi melanjutkan kata-kataku. Ianya hanya muncul dalam hati, yang kini sedang menganga luka. Aku terluka, karena aku mencintaimu…

 

                                                     Cheung Sha Wan, Minggu 18 Oktober 2009

 

Iklan

Responses

  1. minggu atau Ahad? :-s

    isinya sih klise. tp oke lah…
    poin 7. 😀

    • Minggu dan Ahad 😀

      Baca yang judulnya ‘Dia Yang Kutunggu’ deh. Dijamin ketawa ngakak :-p

  2. menyimak dulu..**

  3. setelah dibaca ini gaya penulisan flp. aktif di flp ya? (saya belum baca profilmu), walao saya gak bisa nulis sastra kayak ida, saya bisa tahu endingnya gak menohok. kalo dimasukin web annida bisa diterima, gak tahu kalo yang lain. saya sering baca karya sastra kompas, penyuka sastra realis-surealis. jadi kalo baca cerpen ida, saya tahu, itu cerpen gaya2 anak2 flp, yang selalu melankolis, permasalahan yang diangkat monoton. sukses buatmu ida. bagus. dikembangin. jangan mau kalah ama tasaro gk, habiburrahman, dll. saya tunggu karya2mu.

    • Terimakasih untuk penilaiannya, Pak Guru Rusydi. Ida sedang belajar membuat tulisan. Berharap sih bisa membuat yang lebih keren dari milik Habiburrahman atau Andrea Hirata 😀

  4. Wah cerpennya sastra banget..
    Iya nih terdeteksi sebagai anak flp.. hehhee

    • He… baguslah udah pada kenal. Dengan demikian gak perlu lagi Ida memperkenalkan diri sebagai anak FLP 😀

  5. cerpennya bagus bisa dibukukan nich 🙂

    • He… makasih makasih makasih… masih belajar 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: