Oleh: Ida Raihan | 10 Oktober 2011

Dia Yang Kutunggu

By: Ida Raihan

 

 

Aku memanggilnya Siti, nama lengkapnya Siti Zubaidah. Wajahnya memang tidak seindah rembulan seperti yang diimajinasikan oleh para pujangga. Namun wajah itu cukup membuatku nyaman jika memandangnya. Teduh. Senyumnya terasa bermadu sekaligus menggemaskan.

“Namanya siapa, Mbak?” kudengar suara kalemnya bertanya pada, Mbak Fitri. Istri Kang Sis, temanku. Anaknya yang berumur satu tahun terlihat usil di pangkuannya. Melihat anak itu aku jadi ingin tertawa mengingat bapaknya yang sembrono.

“Sekarang aku sudah mulai mau beribadah, Mar.” begitu Kang Sis, berkata setahun yang lalu.

Alhamdulillah aku senang mendengarnya, Kang.” Sahutku tulus.

“Anak pertamaku juga kuberi nama Islami.”

“Bagus. Nama adalah doa orangtua. Jadi memberi nama anak harus bagus. Terutama artinya. Agar orang yang memanggilnya juga bernilai doa..” Terangku, sedikit menasehati.

“Betul, Mar. aku pernah mendengar nasihat itu.” sahut Kang Sis bersemangat.

“Lha terus namanya siapa, Kang?”

“Kuberi nama, Musyrikin.”

“Apa?”

“Aku memilih nama sendiri, Mar.” Kang Sis tampak bangga. “Tanpa bantuan orang lain.”

“Nanti kalau anak kedua perempuan, sekalian saja kasih nama Musrikah, Kang.” Kataku .

Insya Allah, Mar.” Sahutnya polos. Aku ingin tertawa, namun juga prihatin. “Oalah, Kang.. Kang. Mbok ya konsultasi dulu sama orang yang ngerti, sebelum memberikan nama.”

“Lho kenapa to, Mar?” Kang Sis tampak bingung.

Sampean tahu ndak apa artinya Musyrikin?”

Ndak. Aku hanya pernah dengar orang mengaji Al-Qur’an itu sering menyebut Muhlisin, Sholihin, Musyrikin. Lha nama Muhlisin sama Sholihin sudah ada yang pakee, sedang Musryikin belum. Ya aku pake saja buat anakku. Sudah ambil dari Al-Qur’an kok masih kamu salahkan to?” mendengar keterangannya itu hampir-hampir tawaku meledak. Namun aku tahu. Aku tidak boleh menertawakannya. Kang Sis masih perlu banyak bimbingan. Dia baru mendapatkan hidayah dari Allah. Jadi harus diberi dukungan.Ada rasa senang di hatiku melihat ia kini semakin baik nilai ibadahnya. Walau sifat sembrononya masih melekat.

“Kamu boleh panggil aku, Mbak Fitri.” Jawaban kalem, Mbak Fitri, menyadarkanku dari lamunan setahun yang lalu. Bayi yang berada di pangkuannyapun telah berpindah ke gendongan Siti.

“Kalau yang ini?” lanjutnya sambil mencubit halus pipi bocah itu.

“Arifin. Muhammad Arifin.” Sahut Mbak Fitri senang.

“Nama yang bagus.” Gumamnya.

“Mas Umar yang memberinya nama.” Terang Mbak Fitri. Ya bayi yang bernama Arifin itu adalah yang dulu diberi nama Musyrikin oleh bapaknya. Aku menggantinya dengan Muhammad Arifin.

“Semoga kelak ia menjadi soleh sepertimu ya, Mar.” begitu Kang Sis berkata setelah kuberitahu arti musyrikin. Yaitu orang-orang musrik.Parapembangkang agama Tuhan.

“Oya?” serunya. Mbak Fitri mengangguk mantap.

“Aku berharap, Mas Umar juga menyediakan nama buat anak kami kelak.” Ucapnya lagi. Diam-diam bibirku menyunggingkan senyum bahagia di balik pintu yang menghubungkan ruang tamu dan dapur ini. Tentu sayang,  aku akan menyediakan nama-nama yang indah buat anak-anak kita kelak. Maka itu, aku menunggumu di kamar.”

Sisa keharuman semalam masih tercium ketika aku memasuki kamar. Kubaringkn tubuhku di ranjang. Aku berharap istriku segera masuk kamar dan mengulang indahnya mereguk kenikmatan beribadah kepada Allah, seperti semalam. Diam-diam aku menyesali diriku sendiri. Kenapa tadi hanya di dalam hati ketika mengajaknya masuk.

Kreeeek…

Aha… akhirnya tanda yang aku harapkan datang juga. Suara pintu yang dibuka secara pelan, dan ditutup secara pelan pula. Itu pasti dia. Meskipun baru kemarin sore dia syah menjadi istriku, namun aku sudah hafal betul baunya. Segera aku pura-pura terpulas. Berharap dia akan mengganggu tidurku, dengan godaan manjanya.

Tapi, ups.. aku tidak boleh lupa siapa istriku. Ia adalah kutu buku asli. Di tangannya telah terpegang sebuah buku tebal entah apa judulnya dan karya siapa. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Karena aku hanya memicingkan sedikit mataku agar dia tidak curiga. Pelan sekali ia taruh bukunya di meja. Lalu duduk di kursi dan mulai membuka buku itu. Duh Sayang, tutuplah dulu bukunya. Aku membutuhkanmu malam ini.

Mungkin dia baru dapat beberapa baris ketika tiba-tiba ia menoleh ke arahku. Melangkah mendekat. Aku semakin penasaran apa yang akan dilakukannya. Akankah dia punyai keberanian untuk membangunkanku? Menggodaku?

Ah… Ternyata dia hanya menarik selimut dan menaruhnya dengan pelan sekali di atas tubuhku sebatas dada. Tak ada pilihan. Akulah yang harus ambil inisiatif. Tak perlu berfikir lagi, ketika ia akan membalikkan tubuhnya menuju bukunya kembali, segera kutarik tangannya dan kubaringkan ia di sampingku.

 

 

*****

 

Usai sholat subuh dan dzikir pagi ini, aku langsung keluar, karena aku harus mengecek motorku. Aku berniat akan membawanya kelilingkotaJogja. Kulihat dia membuka Qur’annya. Aku yakin dia hanya akan membaca beberapa ayat saja. Seperti yang dilakukannya kemarin pagi. Dia belum terbiasa selesai satu juz dalam sekali baca. Bahkan dia mengaku, setahun hanya khatam sekali. Hmm… lebih baik dari pada tidak.

Limabelas menit sudah lamanya aku memeriksa motor. Semua terlihat beres. Kudengar suara percakapan dari dapur. Dan aku tahu itu bukan suara Ummi. Itu suara istriku. Benar sekali, ia pasti hanya akan membaca beberapa ayat saja.

“Kok cepet banget ngajinya?” tanyaku kemarin pagi ketika kulihat ia masuk ke dapur untuk membantu Ummi.

“Yah, orang mertua sibuk di dapur, masak sih menantu mau berlama-lama di kamar?” begitu dia memberikan alasan. Alasan yang cerdas. Yang kemudian ditertawakan oleh kedua orangtuaku. Ummi yang pendiam hanya mesem. Sedangkan Abi langsung tergelak lebar.

Harum masakahn tercium olehku. Kulihat jarum jam, baru menunjuk angka 6, apa yang dimasak mereka pagi ini? Sepagi ini kok bau sedapnya sudah menggugah selera. Penasaran aku melangkah menuju dapur. Namun di luar dugaanku, pemandangan yang ada sama sekali jauh dari dugaanku. Bukan Ummi yang di dapur bersama istriku. Tetapi, Amir adikku.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Aku melotot menyaksikan apa yang kulihat. Istriku merangkul pinggang pria yang sedang menghadap kompor. Keduanya terkejut.

“Hahahaha… jangan salahkan aku, Mas. Mbak Siti yang tiba-tiba masuk langsung mencium pipiku. Dan memelukku dari belakang.” Amir Muhammad, adikku tergelak senang. Sementara istriku dengan wajah pucat kebingungan menoleh antara aku dan dia.

“Mas Umar?”

“Ono opo iki? Isuk-isuk ko wes do ribut ki?”1 Ummi yang sudah ada di belakangku bersama Abi bertanya.

“Amir, Mi, kurang ajar sekali dia.” Aku segera menjawab kesal.

“Kok aku yang disalahkan? Orang aku tidak melakukan apa-apa kok.” Amir membela diri sambil tetap terkekeh. “Siapa sih yang nggk senang, sedang sibuk kerja tiba-tiba dicium dan dipeluk cewek cantik?”

“Tapi dia tidak tahu, kalau kamu bukan suaminya!” Aku kian marah mendengar celotehnya. Sementara istriku yang kulihat telah menangis, bergegas setengah berlari menuju kamar. Ummi dan Abi memberiku isyarat agar segera menyusulnya. Sebelum aku melangkah masih kusempatkan menoleh marah kepada Amir. Yang hanya dibalas dengan kerlingan nakal mata kanannya.

Kudapati Siti, menungkupkan wajahnya di balik bantal. Terisak.

“Kamu sih ceroboh.” Ucapku lirih. Dalam hati, aku sama sekali tidak menyalahkannya. Akulah yang salah. Aku belum pernah menceritakan kepadanya, bahwa aku punya adik laki-laki yang sudah sedewasa diriku. Dengan wajah yang mirip pula. Sudah banyak orang yang salah membedakan antara Umar dan Amir. Usia kami hanya tertaut 1 tahun. Hanya keluarga terdekatlah yang benar-benar bisa membedakan kami.

“Siti sangat malu, Mas.” Ucapnya masih di antara isak.

“Dia tidak akan di sini terus-menerus. Dia akan meninggalkan rumah usai sarapan.”

“Kenapa Mas tidak cerita kalau Mas punya saudara kembar?” tanyanya ketika sudah bangkit dari tengkurapnya. Aku nyengir, menatapnya. Dia cemberut. Namun wajahnya tetap menyenangkan.

“Oi.. pengantin baru! Keluar… jangan ngamar mulu!” suara jelek Amir menggema dari ruang makan. “Nasi goreng berbumbu pelukan mesra sudah siap. Cepetan!”

“Sarapan dulu yuk?”

“Nggak mau!” sahutnya ketus sambil memukulku manja.

“Masakan dia enak loh.” Bujukku.

Dia menggeleng. “Siti mau ke rumah Mbak Fitri saja.”

 

*****

 

Aku tidak mungkin menahan Siti untuk tetap tinggal di rumah selama Amir belum pergi. Sedangkan aku juga tidak jadi membawanya jalan-jalan. Kakakku ada keperluan mendadak, dan membutuhkan kendaraan. Tiada pilihan selain meminjamkan motorku kepadanya. Siti pun pergi ke rumah Mbak Fitri. Tapi ternyata Mbak Fitri membawanya entah kemana. Berkali-kali aku menghubungi HP Mbak Fitri namun tidak bisa. Sedangkan Siti menggunakan simcard baru yang belum sempat kucatat nomornya. Aku mulai kesal.

“Sudahlah Mas. Mbak Siti pasti bisa menjaga diri. Kamu sabar dikit kenapa sih?” Amir yang mendengarku berkali-kali mengeluhkan istriku yang tidak menelepon, akhirnya berkomentar.

“Ini gara-gara kamu, Mir. Dia pergi karena menghindari kamu.”

Lha lak nyalahke aku maneh.”2

“Lha emang kamu salah. Seharus kamu mengingatkannya, bahwa kamu itu bukan Umar.” Sekali lagi Amir tergelak.

“Sekali-kali-lah Mas merasakan manisnya dipeluk cewek.” Sahutnya enteng.

“Kamu itu, seperti tidak mengenal agama saja.” Akhirnya hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Sebentar lagi juga pulang.” Sahut Amir.

“Sok tahu!” gerutuku.

“Mas Umar sendiri yang pernah mengajarkanku untuk tidak selalu gelisah. Pasrahkan semua kepada Allah. Lha sekarang Mas Umar sendiri tidak mengkontrol diri.” Inilah salah satu bagian yang aku senangi dari adik sekaligus sahabatku satu ini. Dia akan dengan mudah mengkritik dan manasehatkanku dengan caranya. Aku diam. Beristighfar dalam hati. Saat itulah kudengar suara cemengkling dari depan rumah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalamwarohmatullah.” Aku langsung menjawabnya. Seraya bangkit dari dudukku, kuisyaratkan agar Amir masuk ke dalam kamar. Agar Siti tidak melihatnya.

“Dari mana kamu?” Kutunjukkan kemarahanku padanya. “Kenapa tidak telepon?”

“Maaf.” Sahutnya lirih.

“Kenapa tidak telepon?” tanyaku lagi lebih tajam dari sebelumnya.

“Sudah. Tapi tidak nyambung.”

“Tidakmungkin. HP-ku dari tadi hidup.”

“Tapi toh nyatanya tidak nyambung.”

“Yakin?” kejarku.

“Mas Umar, kenapa masih tidak percaya pada, Siti?” ia merajuk.

“Kamu boleh Tanya tuh sama, Amir. Berkali-kali HP-ku bunyi dari para penelepon. Tidak satupun panggilan darimu.”

“Tapi Siti tidak bohong. Operator yang menyahut.”

“Oya? Lihatlah kemari.” Kupinta ia menatap wajahku.

“Maaaaas.” Wajahnya semakin cemberut.

“Baiklah. Operator yang jawab. Apa kata operator? Biar Mas datangi kantornya dan bertanya, kenapa HP yang normal dengan pulsa full, dijawab oleh operator? Kenapa orang-orang yang lain tidak dijawab olehnya juga.”

“Siti mau mandi.” Sahutnya masih cemberut. Mencoba mengalihkan topik.

“Jawab dulu. Apa kata operator?”

“Operator bilang, mmmmm.” Menunduk. Melirikku takut. Persis seperti anak kecil, membuat gemas, tapi aku berniat memberinya pelajaran.

“Apa?” kejarku, menghalangi jalannya serta mempertajam tatapanku.

“Dia bilang,” ia meragu.

“Apa? Ketahuankan kamu berbohong?” tantangku.

“Siti tidak bohong. Operator bilang, Maaf pulsa Anda sudah tidak mencukupi.” Ucapnya sambil menerobos pertahananku, kemudian berlari menuju kamar. Membiarkanku melongo, ditertawakan Amir yang rupanya mencuri dengar percakapan kami.

 

 

Cheung Sha Wan, Selasa, 26 Mei 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: