Oleh: Ida Raihan | 17 Februari 2012

[Aku Dan FLP] Pertemuanku

Oleh: Ida Raihan

Lahir di keluarga yang suka membaca merupakan sebuah berkah tersendiri bagiku. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan melihat ayah dan ibu membaca buku. Bersyukur sekali, karena kesukaan kedua orangtua itu, menurun kepada kami anak-anaknya. Terutama aku.

Ketika melihat kakak-kakakku membaca buku perjuangan, aku selalu duduk di sampingnya ikut menyimak meskipun ketika itu belum mengenal huruf. Hingga sampai hafal halaman berapa yang bunyinya apa.

Selain suka membaca, aku termasuk pembaca yang memiliki kejelian dalam memperhatikan bentuk tulisan, sehingga ketika aku mulai bisa menulis, akupun sangat suka ikut-ikutan menulis. Menulis untuk diri sendiri dan tak pernah memberikannya kepada siapapun. Jangankan mengirimnya ke media, menunjukkan ke orang lain saja tidak kulakukan. Namun, aku merasa sangat bahagia ketika ada yang menemukan tulisanku tersebut. Membacanya, lalu mengomentari bahwa ia menyukai tulisanku. Aku jadi sering membuat cerita-cerita pendek yang kemudian sengaja kubiarkan tergeletak begitu saja agar dilihat oleh teman lalu dibacanya. 😀

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku telah hijrah ke negaraHong Kong. Tepatnya tahun 2004, aku bertemu dengan dua orang yang berasal dari Jawa Timur. Sundari dan Atik namanya. Kami sangat akrab. Setiap libur jalan-jalan bersama. Memburu tempat-tempat menarik untuk dikunjungi bersama, makan bersama. Kami senantiasa tertawa bahagia.

Hingga suatu ketika, saat kami sedang memesan soto di sebuah taman di daerah Hong Kong, seorang wanita yang tidak kukenali duduk di sampingku, dengan membawa sebuah koran berbahasaIndonesia. Saat itu tahun sudah memasuki angka 2005.

“Boleh aku pinjem korannya, Mbak?” Tanyaku ketika itu. Serta merta perempuan itu mengulurkan korannya kepadaku. Mulailah aku membuka-buka koran tersebut. Dan baru berhenti ketika membaca judul besar-besar berbunyi, ‘BMI Hong Kong Menerbitkan Buku’. Aku terhenyak membaca itu. Nama Wina Karnie dan beberapa temannya disebut-sebut. Juga sebuah komunitas bernama FLP.

“FLP?” Gumamku pelan. Ini pasti berhubungan dengan Pena. Batinku. BMI Menulis… membuat buku… seketika aku teringat dengan hobyku menulis.

Mengapa mereka bisa? Siapa Wina Karnie dan teman-temannya? Bekerja sebagai apa dia di sini? Mengapa bisa membuat buku? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi ruang memoriku. Tak terasa, airmataku menitik oleh rasa yang membuncah di dada. Keinginan yang begitu kuat untuk bertemu Wina Karnie dan kawan-kawannya.

“Aku harus mencari FLP.” Bisikku lagi. “Tapi di mana?”

“Duh… segitu seriusnya, ampek menangis.” Tiba-tiba, Mbak Ati, temanku mengagetkan. Seketika aku mengangkat kepalaku. Menatapnya. Kusadari pandanganku mengabur. Akhirnya, dengan lirih, sambil mengusap airmata di pipi, aku berucap, “Aku juga ingin menulis begini, aku bisa…”

Sore itu juga aku pulang ke rumah. Beruntung sekali si pemilik koran tidak keberatan ketika korannya kuminta. Kugunting potongan berita tersebut, satu yang masih kuingat. FLP. Aku harus menemukannya. Begitu tekatku.

Memasuki 2006, aku yang suka sekali keluyuran ke mall, pantai, dan taman-taman indah bersama Sundari, pergi ke Taman Lai Chi Kok – Mei Foo, Hong Kong. Tanpa disangka-sangka, disanaaku bertemu dengan seorang akhwat shalihah bernama Hartatik. Dialah yang kemudian mengenalkan aku dengan organisasi bernama Majelis Muslimah Mei Foo.

“Dari pada waktu habis untuk bersenang-senang, keluyuran tidak jelas, mendingan bergabung dengan organisasi. Mengisi liburan dengan kegiatan yang bermanfaat. Untuk bekal akhirat.” Begitu kurang lebih Mbak Hartatik menasehati. Aku yang memang tumbuh di keluarga yang relijius, langsung menerima tawaran Mbak Hartatik untuk gabung di Majelisnya.

Tidak lama bergabung dengan majelis ini, aku diangkat menjadi sekretaris organisasi. Sehingga secara otomatis, aku sering mendapat tugas untuk menghadiri rapat-rapat kegiatan yang diadakan oleh berbagai organisasi diHong Kong.

Hingga awal 2007. Sepulang dari menghadiri rapat, aku mampir di kios pelayanan jaringan telepon ‘Peoples’ untuk membayar tagihan bulanan. Pada saat itulah seseorang mengulurkan selembar kertas padaku. biasanya jika mendapatkan kertas seperti itu, aku langsung memasukkannya ke dalam tas untuk dibaca jika sudah sampai di organisasi atau rumah. Tetapi, entahlah, mengapa saat itu mataku langsung saja menatapnya. Dan…

Allahu Akbar!

Di atas kertas selebaran itu, kutemukan sebuah tulisan yang terdiri dari tiga huruf saja. ‘FLP’! Tiga huruf yang selama dua tahun ini mengendap di ruang memoriku. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung mendekati para jilbaber yang salah satunya baru saja mengulurkan kertas tersebut.

“Mbak, ini apa ya?” tanyaku. Hatiku sudah berdebar tidak karuan. Inilah yang kucari-cari selama ini. Di sinilah sosok Wina Karnie yang ingin kutemui!

“Ini FLP, Mbak. Forum Lingkar Pena.” Begitu jawaban salah seorang yang kemudian kuketahui bernama Andina Respati.

“Komunitas kepenulisan.” Yang lain menimpali.

“Apakah aku bisa ikut disana? Saya ingin jadi penulis” Tanyaku tidak sabar.

“Bisa banget, Mbak. Gabung aja.”

“Bagaimana caranya?” Hatiku semakin deg-degan. Lalu mereka, para jilbaber itu, sambung menyambung menjelaskan. Bagaimana agar aku bisa bergabung dengan komunitas mereka, bagaimana agar aku bisa sampai di sekretariatan mereka.

“Tapi…” Bisikku meragu.

“Kenapa, Mbak?”

“Aku tidak memiliki pendidikan sekolah yang cukup.” Ucapku sedih. Takut sekali jika pendidikan akan menjadi masalah untuk komunitas ini. Yang ada di pikiranku ketika itu, seorang penulis haruslah cerdas. Dan, orang cerdas adalah mereka yang sekolahnya tinggi, berpendidikan cukup. Namun, kelak, di kemudian hari, aku tahu bahwa semua itu adalah salah besar. Siapa pun bisa menulis, siapa pun boleh menulis. Apalagi, aku sudah yakin sejak awal, bahwa aku berbakat. Aku mampu. Dan yang terpenting dari antara semua itu, adalah kemauan. Adabakat jika tidak ada kemauan sama saja, nol.

Akhirnya, sore itu aku pulang dengan kegembiraan yang tak dapat kulukiskan lagi. Aku senyum di sepanjang jalan. Ramah pada semua orang. Meyakini, sebentar lagi aku adalah anggota FLP. Aku akan menjadi salah satu dari komunitas penulis itu. Dan aku akan menjadi penulis. Seperti Wina Karnie.

Tiga Minggu kemudian (FLP HK hanya mengadakan pertemuan dua kali dalam sebulan, sehingga aku harus bersabar menunggu selama itu, karena di Minggu ketiga setelah pertemuan itu, FLP mengadakan acara bersama Kang Abik, aku ikut serta menjadi panitia, tetapi belum terdaftar sebagai anggota) aku resmi tergabung dengan komunitas FLP. Tepatnya Minggu, 4 Maret 2007. Bahagiaaa tak terkira.

Untuk bergabung di FLPHong Kong, setiap pendaftar diwajibkan menyerahkan sebuah tulisan. Akupun coba-coba membuat cerpen lagi (kelak di tahun 2010, cerpen pertama yang kubuat sejak bergabung di FLP itu kuikutkan pada lomba menulis cerpen yang diadakan oleh komunitas wirausaha Alif Al-Khairiyah Hong Kong, kerja sama Pro U Media. Alhamdulillah ianya mendapat juara dua). Aku senang tulisanku dibaca oleh teman-teman FLP. Lalu dikritisi. Sejak itu akupun mulai produktif, tulisanku mulai sering dimuat di berbagai majalah dan koran di Hong Kong danTaiwan. Aku juga ditawari untuk menjadi kontributor di salah satu tabloid berbahasa Indonesia di Hong Kong.

Usai pertemuan hari itu, aku pulang dengan membawa banyak buku karya anak FLP. Subhanallah… darisanakuketahui, ternyata di FLP bukan hanya ada Wina Karnie. Tetapi disanaada sosok wanita terkenal yang sudah pernah kubaca profilnya di majalah (Kalau tidak salah ingat di majalah Hidayah), bernama Helvy Tiana Rosa. Ada yang bernama Pipiet Senja, Sinta Yudisia, Asma Nadia, Rahmadiyanti Rusdi, Irfan Hidayatullah, Habibburrahman El-Shirazy, dan banyak lagi lainnya. Yang karya-karyanya sudah bertebaran di mana-mana. Dalam hati aku bertanya, dapatkah kelak aku mengenal mereka? Dekat dengan mereka, lalu seperti mereka?

Maha Suci Allah, yang mendengar impian hamba-hamba-Nya. Impianku untuk bisa bertemu dengan para penulis senior yang kusebutkan di ataspun tercapai. Karena FLP memberiku kepercayaan untuk menemani tamu-tamu yang diundang dariIndonesia. Aku bisa bertemu dengan Kang Irfan Hidayatullah, Kang Abik (bahkan beserta bintang film dan sebagian produser film KCBnya), Mbak Asma Nadia, Mbak Dee (Rahmadiyanti Rusdi). Aku yang menjemput sebagian mereka dari Bandara. Mengantar jalan-jalan di beberapa tempat wisata diHong Kong. dan kembali mengantar ke bandara saat pulang.

Bahkan, aku bisa berkomunikasi dengan Mbak Sinta Yudisia di tengah malam saat kedua mataku sulit terpejam. Beliau tetap membalas SMSku meskipun di jam nyenyaknya orang tidur. Subhanallah…

Aku juga bisa dekat dengan sosok bernama Pipiet Senja. Beliaulah yang memberikan inspirasi bagiku untuk terus semangat dalam menjalani kehidupan ini. Tegar bak karang saat dihadapkan dengan ujian. Menjadi muslimah tangguh yang tidak menyerah dengan segala bentuk cobaan.

Tapi, aku belum pernah bertemu dengan Mbak Helvy Tiana Rosa. Semoga suatu saat nanti… ya.. aku mendamba…

Bintaro, 17 February 2012 (11:50)

Iklan

Responses

  1. hem. diam-diam ikut rupanya…

    • Yeeeee… bukan diem” la. Kan udah diumumin 🙂

  2. Alhamdulillah ,tulisan yang baik ,Hartatik Meifoo ? ,Dia masih di sana ,semoga silaturahmi masih terjalin…aamiin.

    • Kenal Hartatik di mana, Mas Budiman?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: