Oleh: Ida Raihan | 7 April 2012

[On The Way Home] Kutemukan Wajah Tuhan

By: Ida Raihan

“Tak ada lagi dirimu.” Rasa sepi mula menyusup meskipun berada di keramain ribuan manusia. Saat seperti itu ingin sekali ditelepon seseorang. Seseorang yang mau menemani perjalanan panjang meskipun hanya berbentuk suara (emang suara ada bentuknya?). Ingin menghubungi teman terdekat yang pernah membantu kesulitan diri ini ketika barumenginjakkan kaki dikotaJakarta, tetapi ingat ia pernah berpesan, tak ingin lagi mendengarku menyebut-nyebut sosok ‘dirimu’. Ingin menelepon sahabat yang yang dulu tempat curhat, tapi ingat dia sudah berucap, ‘Jika kamu masih ingin bersahabat denganku, maka lupakan dia!” Maka sendiri disana, di pojok kapal sambil menyaksikan pulau yang hampir ditinggalkan. Mengingat setahun yang lalu, saat ‘dirimu’ masih menemani perjalananku. Airmata hampir menitik ketika tiba-tiba teringat sebuah firman, ‘Maka di mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.’ [Al-Baqarah: 115]

Seketika aku mendongak. Gelap di depan membuatku yakin di sanalah wajah Allah. Tersenyum menatapku. Dia akan selalu ada untukku. Dia akan selalu menemaniku. Debur ombak menghantam badan kapal. Angin laut kencang menerpa. Begitu kuat, mengibarkan semua pakaianku, hingga aku merasa kwalahan mencegahnya.

“Tidurlah. Selamatkan pikiranmu. Jangan menangis, jangan bersedih. Mimpi indahmu tetap menunggu untuk kau jemput. Jangan lagi mengingat luka yang membuatmu hancur. Allah ada bersamamu. Jangan berharap ada teman lagi. Allah menemani.” Bibir yang kedinginan akhirnya mengalah. Berusaha menundukkan hati. Diikuti langkah kaki menuju ruangan di dalam kapal Ferry. Pilihan hidup, atau tepatnya takdir, memang mengharuskan untuk tidak bergantung atau berharap pada siapapun, mahluk Allah. ketika orangtua merasa khawatir dengan anak perempuannya yang akan menyeberang lautan sendirian, aku berusaha meyakinkan mereka, bahwa semua akan baik-baik saja.

“Perbanyak baca sholawat. Dzikir.” Teringat pesan ibu saat kantuk kembali menjalari syaraf-syarat di kedua mataku. Pesan itu disampaikan beliau ketika kukabari aku akan pulang ke Lampung.

“Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wani’mannasiir..” Bergumam memantapkan hati saat memasuki ruangan seraya menyebarkan pandangan untuk melihat kursi yang kosong. Hampir semuanya penuh, oleh kaum Adam yang sebagiannya sedang ngobrol, sebagiannya lagi pulas. Jam menunjukkan angka 23:20pm. Sebaris kursi yang diapit dua orang pria di depan dan belakang tampak masih kosong.

“Aku lelah, Allah. Aku ngantuk. Hanya ini satu-satunya tempat. Maka jagalah aku.” Gumamku lagi seraya mendekati kursi yang kosong. Akupun duduk disana, pria yang di depanku menatap beberapa saat, aku tidak peduli. Lagi-lagi membaca doa perlindungan kepada Allah.AgarIamenjagaku.

“Hei!” aku hampir kehilangan kesadaran ketika tiba-tiba seorang pria berperawakan kecil hitam membangunkanku. Lalu duduk di barisan kursi di depanku.

“Bagaimana kamu tau aku di sini?” Tanyaku, menatapnya. Dia adalah kondektur bus yang kutumpangi malam itu.

“Aku melihat jilbabmu.” Sahutnya.

“Aku tidak ada teman.”

“Aku menemanimu.” Sahutnya tulus. Kutatap sekali lagi wajahnya. Masih sangat belia. Dari pertama aku memasuki busnya sejak dari terminal Lebak Bulus, pria ini sudah tampak tulus melayani. Dan dia begitu cekatan membetulkan saat bus mengalami kerusakan di jalan.

“Berapa umurmu?” Tanyaku lagi.

“Dua puluh satu, mungkin.”

“Mungkin?”

“Aku lahir tahun 1991.”

“Bulan? tanggal?”

“Tidak tau!”

“Kamu anak jaman sekarang. Bagaimana kamu bisa tidak tau angka kelahiranmu?”

“Ibuku meninggal ketika usiaku 2 tahun. Aku ikut paman. Disekolahkan, tetapi anak paman juga adalima. Jadi enam denganku. Terkadang kami berantem, jadi aku melarikan diri dari rumah.”

“Ayahmu?”

“Dia menikah lagi dengan pegawai negeri.”

“Oh.” Kami mengobrol sambil berjalan menuruni tangga menuju dek bawah. Di mana angkutan umum, dan semua jenis kendaraan berada.

“Aku hidup di jalanan dan bus, sejak usia enam tahun. Tapi aku bisa baca dan menulis alakadarnya.” Lalu panjang lebar ia menceritakan pengalaman hidupnya. Dari mengikuti sopir bus, bantu-bantu. Hingga melamar kerja di perusahaan tempatnya jadi kondektur saat ini. Saat itulah, aku mulai jatuh hati kepadanya. Tepatnya pada perjalanan hidupnya. Aku ingin tahu seluk beluk kehidupan para sopir dan kondektur.

Ide bagus untuk tambahan cerita buat novelku. Aku membatin.

Bintaro, Kamis, 5 April 2012 (22:23pm)

http://qqcakep.multiply.com

https://idaraihan.wordpress.com

Iklan

Responses

  1. Perjalanan yg Sangat menarik,menyentuh dan sekaligus mengkhawatirkan….

    • Alhamdulillah, Bang Djoe, semua berjalan baik diujungnya. Sukses hingga kembali lagi 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: