Oleh: Ida Raihan | 27 Mei 2012

Wanita Butuh Pengakuan

Oleh: Ida Raihan

Seharusnya sekarang adalah musim semi, pada musim seperti ini biasanya cuaca akan lebih sering hujan. Tapi mungkin karena pengaruh global warming, akhirnya cuaca terus menerus berganti, dari dingin menjadi panas, dingin lagi, panas lagi, lalu hujan. Selalu begitu. Membikin kesehatan sering mengundurkan diri dari badan. Membiarkan tubuh ini melalang buana mencari perlindungan dalam gigilan.

Saya melangkah di bawah terik matahari bersama salah satu teman yang belum lama saya kenal, dan juga baru beberapa waktu saja kami mulai dekat. Namun seolah-olah kami sudah berkawan sejak lama. Saya merasakan kemesraan diantara kami berdua.

“Kenapa ya hidup ini penuh pilihan?” tanyanya setelah bercerita permasalahannya. Dari nada suaranya ada terkandung rasa tidak nyaman disana. Dia yang selalu ceria, kreatif, dan menyenangkan tampak sedang terbebani ketika itu. Jujur saja, saya turut prihatin dengan pilihan hidup yang disodorkan kepadanya.

“Karena hidup ini ditakdirkan penuh warna.” Saya menyahut. “Kalau kehidupan ini hanya dengan satu warna, tentu ianya tidak akan indah. Maka itu banyak pilihan yang ditawarkan untuk kita pilih. Semuanya tergantung pada kita. Kita mau pilih yang indah atau yang busuk. Terserah.”

Beberapa waktu yang lalu (bahkan mungkin hingga kini)Indonesiadiributkan dengan pemberitaan tentang akan diadakannya undang-undang mengenai nikah sirri. Kontroversipun terjadi. Di beberapa media yang saya ikuti, pro dan kontra saling mengeluarkan dalilnya masing-masing. semua bagus dan masuk akal. Tinggallah saya sendiri. Berfikir.

“Pemerintah kek kurang kerjaan saja. Hukum untuk para pezina saja belum turun, eh nikah siri yang jelas-jelas dihalalkan oleh Islam mau diungkit-ungkit.”

Walaupun sebenarnya saya mengakui, dengan pernikahan sirri, wanita akan dirugikan. Khususnya yang bersuamikan bukan orang baik-baik. Dan jika sekarang saya ditanya, maukah kamu dinikahi sirri? Maka, dengan tegas saya akan menjawab, “Tidak akan!”

“Demi Allah, kalau bisa jangan lakukan itu. Mungkin sekarang engkau bisa berkata siap, tapi setelahnya, sakit, sakit sekali, Mbak.” Itu komentar yang keluar dari bibir saya menanggapi pilihan yang tengah di hadapinya. Suatu permasalahan yang melibatkan hati.

Sosok ikhwan yang terlihat taat mendatanginya, dan mengajaknya untuk menyempurnakan separuh dari diennya. Subhanallah… suatu hal yang didambakan oleh akhwat yang telah siap.

Lalu mengapa saya menyarankan untuk tidak menerimanya? Bukankah itu kabar baik? Ya, itu kabar baik. Tentu saya akan sangat bahagia ketika mengetahui teman saya memutuskan untuk menyelematkan agamanya. Namun apa yang menjadi pertimbangan saya adalah, si ikhwan meminta pernikahannya untuk tidak di tunjukkan kepada public (disembunyikan)!

Astaghfirullahal ‘adhiim… mengapa demikian? Padahal teladan terbaik kita, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam sendiri telah mangajarkan:

Dari Amir bin Abdillah RA, dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Umumkanlah pernikahan” (HR. Ahmad)

Pada riwayat lain saya membaca, Anas Bin Malik r.a berkata, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “Walimahlah kamu walau hanya dengan seekor kambing.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dua hadist di atas mengabarkan pada kita bahwa sebuah pernikahan bukan untuk disembunyikan. Tapi harus diumumkan.

Saya jadi bertanya-tanya di sini, jika si ikhwan ingin menjadikan istrinya sebagai wanita simpanan, lalu apa yang memotivasi dia untuk menikah? Jika belum siap menerima keadaan calon istri seutuhnya, apa adanya, mengapa dia tetap menginginkan akhwat tersebut? Mengapa dia tidak mencari yang lain saja? Yang sederajat dengannya agar dia tidak malu jika diketahui umum? Tidakkah ia memiliki hati untuk sekedar rasa kasihan memperlakukan wanita seperti itu? Bagaimana perasaannya jika itu dialami oleh adik, kakak, atau anak perempuannya? Relakah dia?

Untuk Ukhtyku…, percayalah, Allah tidak akan mempersulit langkahmu. Allah pasti akan menolongmu. Pasti ada sosok lain yang siap menerimamu apa adanya di belahan bumi-Nya yang luas ini. Bukan sosok yang malu diketahui oleh umum bahwa engkaulah istrinya.

Pikirkanlah kembali. Mungkin sekarang engkau mampu mengatakan siap, tapi suatu hari nanti, hatimu akan berteriak, berontak meminta pengakuan itu. Kita wanita butuh pengakuan itu, Ukhty. Pengakuan yang syah di mata dunia, dan agama, bahwa kita adalah seorang istri bagi suami. Si dia yang kita cintai. Si dia yang katanya mencintai kita.

Kita wanita meginginkan kehidupan normal selayaknya wanita-wanita lain. Yang bisa bergerak leluasa dengan kebutuhan kita dalam berumah tangga. Bukan dalam kepura-puraan di depan umum demi sebuah nama. Tanpa harus merasa tercekik leher kita ketika seseorang menanyai siapa suami kita. Karena seorang istripun ingin berbangga ketika menyebutkan siapa suaminya…

Ukhty…, kalaupun engkau siap dengan teraniayanya hati dan dirimu, maka, pikirkanlah sosok lain, sosok mungil yang suatu hari nanti terlahir dari rahimmu. Berayahkan pria yang telah menjadi suamimu. Tegakah engkau ketika suatu hari nanti, melihat anakmu tidak berani memanggilnya, ‘ayah’ ketika bertemu di luaransana, saat dia bersamamu, karena ia sudah mendapat pesan, bahwa pernikahan kedua orangtuanya tidak boleh dipublis?

Pada saat itu engkau telah tak banyak bersuara, karena engkau diwajibkan taat kepadanya.

Ukhty…, sebelum semuanya terlanjur, engkau masih memiliki banyak peluang, untuk tidak menjadi pihak yang dirugikan. Untuk memilih bahagiamu sendiri. Menikah secara sempurna, syah pada pandangan agama, syah di mata negara. Kalaupun engkau ingin menjadi penerang, jadilah matahari, bukan sebuah lilin…

Maafkan saya, Ukhty, tulisan ini saya buat bukan untuk semakin membuatmu bingung, tetapi, saya hanya ingin berbagi kata hati. Kepadamu, dan bagi teman-teman yang mau mengambil hikmahnya. Sebagai peduliku akan cintaku kepadamu…

Ida Raihan

http://qqcakep.multiply.com

Cheung Sha Wan, Tuesday, 23 Maret 2010 ( 02:22 am)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: