Oleh: Ida Raihan | 14 Juli 2012

(Cerpen Jadul) Pengganti

By: Ida Raihan

Sudah menjadi kebiasaan Risma, ketika hendak keluar rumah pamit dulu kepada suaminya. Seperti pagi itu, ia bersiap-siap untuk berangkat menjemput putri tunggalnya yang baru beberapa hari masuk sekolah TK Gama Asih. Yang tidak jauh dari rumahnya. Namun saat ia hendak pamitan, matanya berbenturan dengan wajah sayu seorang pria. Wajah itu pucat seperti tanpa darah. Tubuhnya kurus, rambutnya kusut. Tampak sekali kalau tubuh itu tidak terurus dengan baik.

“Risma?”  Panggil pria itu sambil bangkit dari duduknya begitu ia melihat Risma muncul dari dalam. Risma diam. Ia seperti tidak percaya melihat sosok itu lagi. Kejadiannyalimatahun yang lalu, ketika ia merasa berat untuk berpisah dengan adik iparnya yang sudah dianggap adik kandungnya sendiri. Ketika ia menunggu-nunggu dengan cemas kedatangan suami yang dicintainya. Dan ketika masih merasakan tubuhnya yang lemah paska melahirkan, ketika dilihatnya bayi mungil yang tertidur pulas di sisinya.

“Aku ingin menggendongnya, Mak.”  Ucapnya lirih sambil tersenyum menatap wajah imut bayi yang baru saja diperjuangkannya agar bisa menatap wajah dunia itu.Limatahun yang lalu.

“Tubuhmu masih lemah, Ris.” Kata Bu Rahmah lembut, sambil membantu membetulkan selimut Risma.

“Aku akan membawanya menyusul Kang Kosim, Mak.”

“Kamu jangan banyak berfikir tentang dia dulu. Nanti kalau tenagamu sudah pulih, Emak akan menemanimu nyusul ke jawa.”

“Aku sudah baikan, Mak. Aku sudah bisa berjalan lagi.”  Kata Risma sambil menyibakkan selimutnya, berniat bangkit dari ranjangnya.

“Kamu sebaiknya istirahat Risma, jangan memaksakan diri. Emak tau kamu sangat terpukul mendengar kabar ini. Tapi kamu juga tidak boleh menyiksa dirimu, Ris. Mudah-mudahan saja berita ini tidak benar.”  Ucap Bu Rahmah sambil menahan Risma agar tidak bangun dari ranjangnya.

“Itu tidak mungkin, Mak.Novihafal betul dengan wajah, Kang Kosim. Aku yakinNovitidak mengada-ada.”  Kata Risma di antara rasa sesak yang mendesak dada..

“Tunggulah, Ris. Biar Danang adikmu yang melihatnya kesana.”

“Tidak Mak, biar aku sendiri yang melakukannya.”

“Tunggu sampai kesehatanmu pulih. Dan Emak sama Danang, akan mengantarkanmu.” Bu Rahma tetap bersikokoh untuk tidak melepas Risma pergi sendirian. Terpaksa, Risma mengalah, menuruti anjuran ibunya. Namun, sebenarnya, di balik kepatuhan Risma itu, ada sebuah rencana. Rencana yang tak seorangpun tahu. Kecuali ia sendiri. Risma sudah tidak tahan lagi untuk diam dan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Risma menanti kesempatan agar ia bisa keluar rumah. Maka suatu hari tepatnya hari yang ke duapuluh setelah kelahiran bayinya, saat ibunya sedang pamit ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Risma tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera dikemasinya beberapa kebutuhan bayinya dan dimasukkannya ke dalam tas ransel kecil. Ia segera melangkah sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan keluarganya. Suasana yang sepi sangat mendukung aksinya. Ia terus melangkah hingga sampai di jalan besar dan langsung naik bus umum. Ia sudah tidak perduli lagi dengan resiko yang akan dialaminya. Ia ingin sekali segera menemukan suaminya yang pamitnya hanya pergilimahari untuk mengantar adik perempuannya pulang ke Jawa, setelah satu bulan tinggal bersama mereka.

Setelah sehari semalam dalam perjalanan, akhirnya Risma pun sampai dikotaSolo Jawa Tengah. Ia tidak memperdulikan perutnya yang lapar. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, segera bertemu dengan suaminya. Bermodal alamat pemberian saudara tetangganya, dan bertanya pada orang-orang yang dijumpainya dikotaitu, akhirnya ia pun menemukan sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari bataskota.

Sehari sebelum Risma melahirkan, tetangganya yang bernama Eka kedatangan tamu dari Solo. Eka mengajak main ke rumah Risma. Dan tanpa sengaja,Novisaudara Eka tersebut melihat photo Kosim berdua dengan Risma.Noviheran menyaksikan itu. Akhirnya perempuan itu bertanya.

“Kok photo Mas Kosim ada sama, Mbak Risma?” TanyaNovisambil menunjuk photo Kosim.

“Kamu mengenalnya?” Eka yang bertanya.

“Dia menikah dengan tetanggaku di Solo, dua bulan lalu.”

“Apa?”

Risma mendesah berat mengingati obrolan itu. Ditatapnya rumah bercat abu-abu putih di depannya. Mudah-mudahan berita yang dibawaNovitidaklah benar. Batinnya.

“Mas, jika bayi kita nantinya laki-laki mau dikasih nama apa?” Suara manja itu sangat jelas di pendengaran Risma. Risma juga merasa kenal suara itu. Risma mendekat pada sebuah pohon yang ada di samping rumah tersebut. Darisanaia melihat dua orang sedang duduk di teras rumah. Laki dan perempuan.

“Dewi dan Kang Kosim.” Gumamnya.

“Kalau menurutmu nama apa yang bagus buatnya?” Si pria justru balik bertanya.

“Kok balik tanya sih?” suara si perempuan makin manja.

“Aku berharap bayi kita itu perempuan saja biar secantik dirimu, Lela.”

Lela? Sejak kapan Dewi berubah menjadi Lela? Risma membatin.

“Oya? Lebih cantik mana antara aku dan Risma ?” Perempuan yang dipanggil Lela kembali bertanya.

“Tentu kamu lebih cantik, Sayang,” Suara lembut Kosim memberi jawaban.

“Lantas kanapa Mas Kosim menikahi, Risma ?” Lela cemberut.

“Entahlah, kenapa aku dulu begitu bodohnya memilih wanita itu. Tapi kamu sudah tidak perlu cemburu lagi sayang, karena sekarang aku milikmu.”

“Dulu sewaktu aku masih disuruh pura-pura menjadi adikmu yang bernama Dewi tentu saja aku sering cemburu. Tapi sekarang tidak lagi, karena sudah bisa merebut Kang Kosim kembali.”  Jawab Lela puas. Lalu kedua insan itu sama-sama tergelak bahagia. Nafas Risma bergerak naik turun menahan emosi. Kini tahulah Risma, bahwa ternyata wanita itu bukanlah Dewi yang sebenarnya. Ia adalah kekasih lama suaminya yang mengaku sebagai Dewi. Ingin rasanya ia teriak saat itu, namun ia tidak berdaya, tubuhnya terasa sangat lemas. Akhirnya ia pun hanya bisa menangis dan menjatuhkan tubuhnya di tanah. Bayi yang ada dalam gendongannya pun turut menangis dengan suara keras. Seakan ia dapat merasakan penderitaan ibunya.

Kosim dan Lela sama-sama terkejut begitu mendengar suara wanita menangis tidak jauh dari tempat mereka duduk, sambil menggendong bayi yang menangis pula. Dengan segera keduanya mendekati wanita itu. Dan mereka lebih terkejut lagi ketika melihat wajah wanita itu.

“Risma?” Desis Kosim. Entah mendapat kekuatan dari mana, mendengar namanya disebut, Risma langsung berdiri dan menatap dua orang yang ada di depannya. Ingin ia mencabik-cabik keduanya, namun ia tidak mungkin melakukan itu. Lidahnya serasa kelu, ia seperti tidak bisa berkata-kata lagi. Antara percaya dan tidak, ia melihat suaminya hidup bersama Dewi sebagai pasangan pengantin muda yang sedang berbahagia. Dan itu bukan mimpi!

Risma tidak perduli kalau tangisannya tadi telah mengundang banyak warga yang berdatangan di tempat itu. Matanya menatap kecewa ke arah Kosim dan Lela. Dan tanpa berkata apa-apa, dengan langkah gontai, Risma melangkah meninggalkan tempat itu. Membawa penderitaan yang tak dapat terlukiskan lagi. Impiannya telah hancur. Kosim yang menjadi tumpuan hidupnya telah berkhianat. Bagai orang yang telah kehilangan kesadarannya Risma langsung melanjutkan perjalanannya  tanpa perlu istirahat, ataupun sekedar mengisi perutnya yang lapar. Ia langsung pulang menuju ke tempat asalnya di daerah kopi, Lampung. Dia tidak memperdulikan suara hiruk-pikuk di sekitarnya, pandangannya menatap kosong ke depan. Bibirnya tertutup rapat. Ia ingin menjerit, ingin menangis, namun tidak bisa. Empat bulan Kosim meninggalkannya. Tanpa pernah mengirim berita. Padahal ketika itu Risma sedang hamillimabulan. dan kini, bayi itu telah lahir.

“Apa yang terjadi denganmu, Nduk?” Tiba-tiba seorang wanita tua, yang berada dalam satu bus bertanya. Risma tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan.

“Kemarin sewaktu masih di kapal, saya mendengar tangis bayi dari gendonganmu, tapi sejak itu saya tidak mendengar lagi, cobalah lihat bayimu, Nduk.” Lanjut wanita itu lagi, memandang iba ke wajah Risma. Risma terkejut, ia tidak menyadari kalau ternyata dirinya diperhatikan orang sejak kemarin. Lebih terkejut lagi setelah menyadari bahwa ia sedang menggendong tubuh seorang bayi. Buru-buru dibukanya selimut yang menutupi tubuh anaknya itu.

“Oh, aku belum menyusuinya sejak kemarin! Kamu baik-baik sajakan, Sayang?”  Ucapnya panik. Sambil buru-buru berniat menyusui bayinya. “Kenapa kamu diam saja, Sayang, minumlah, kamu pasti lapar.”

“Nduk,” Panggil Ibu itu lagi. Tiba-tiba airmatanya menetes. Hatinya trenyuh melihat apa yang terjadi di hadapannya. “bayimu sudah tidak bernyawa lagi.”

“Tidak mungkin! Ibu pasti bohong!” Teriak Risma sambil membuka lebar-lebar penutup bayinya. Beberapa orang lainnyapun serta-merta berdiri mendekati mereka.

“Saya tidak berbohong, Nduk. Dia sudah tidak bernafas.”  Ucap wanita itu lagi. Airmata semakin deras mengiringi ucapannya.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin!”

                                                                    ******

Risma terbaring lemah di ranjang rumah sakit di sekitar daerah Raja Basa. Ia menunggu kabar dari dokter. Air matanya tak henti-hentinya mengalir.

“Apa sebenarnya yang terjadi denganmu, Nduk?” Tanya ibu tua yang satu kendaraan dengan Risma tadi. Ibu itu tidak tega melihat Risma yang terlihat sangat tertekan. Sehingga ia dengan ikhlas menolong Risma yang tampak stress berat. Dengan pelan akhirnya Risma menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Sejak kedatangan Dewi yang mengaku sebagai adik suaminya di rumah mereka. Namun ternyata wanita itu bukan bernama Dewi tetapi Lela. Dan ternyata kekasih lama suaminya yang belum putus.

“Sabar ya, Nduk,”  ucap wanita itu sambil mengelus punggung Risma.

“Maaf , siapa orang tua dari bayi tersebut?” Tiba-tiba seorang suster masuk dan bertanya.

“Bagaimana keadaannya suster?” Tanya Risma dan ibu itu hampir bersamaan.

“Bayi ibu sebenarnya sudah meninggal sejak 23 jam yang lalu.” Ucap suser tersebut.

“Apa, Sus?” Risma terperangah. Kepalanya menggeleng tak percaya.

“Sabar, Nduk. Sabar.” Ibu itu berusaha menguatkan. Namun Risma justru menjerit sekuat tenaga.

“Tidaaakk..!” Dan tubuhnyapun kembali terkulai. Tiga jam kemudian, Risma mulai membuka matanya, ditatapnya orang yang ada di sekitarnya. Wajah sembab ibu tua itu yang kali pertama dilihat. Di samping wanita itu berdiri seorang pria muda yang berpakaian sangat rapi.

“Nak Risma,”  panggil wanita itu sambil menggeggam tangan Risma.

Terbayang oleh Risma wajah ibunya, ayahnya, dan banyak orang yang saat itu pasti sedang memikirkan dan mencemaskannya. Airmatanya kembali mengalir. Maafkan Risma, Mak…

“Nak…” Panggil ibu itu lagi. Dipandanginya wajah Risma penuh haru.

“Ibu…”  ingin rasanya Risma meneriakkan kalimat itu, namun entah kenapa suara itu hanya sampai di tenggorokannya. Risma menjadi bingung, begitupun dengan ibu itu. Oh, apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa bicara?

“Nak Risma apa yang terjadi denganmu?”  Tanya si ibu ikut panik.

“Rian cepat panggil dokter!” Perintah ibu itu, pada pria yang sejak tadi hanya berdiri mematung memperhatikan dua wanita itu. Dengan patuh pria yang dipanggil Rian itupun segera belari keluar. Dan tak lama kemudian ia sudah kembali lagi dengan seorang dokter yang langsung mengecek Risma. Setelah selesai mengecek mendadak dokter itu terdiam, yang membuat bingung semua yang ada di ruangan itu.

“Adaapa, Dok?”  Tanya Rian. Setelah mereka keluar dari ruangan di mana Risma berada.

“Kami tidak tahu bagaimana menjelaskannya karena dalam pemeriksaan kami, tidak ada sesuatu yang ganjil terhadap dirinya. Dia hanya tertekan  batin.”

“Tapi kenapa dia tidak bisa bicara?” Tanya Rian tidak sabar.

“Mungkin penderitaan yang dialaminya terlalu menyakitkan. Jika keadaannya sudah membaik, insya Allah ia akan mampu bicara lagi. Berdoalah, Nak..”  Jawab dokter lirih seraya menepuk pundak Rian.

“Mama.” TIba-tiba suara mungil mengagetkan Risma dari lamunan masa lalunya. Perlahan wanita itu menunduk. Jongkok di depan pemilik suara. Disentuhnya kedua pipi anak itu dengan kedua telapak tangannya. Risma tersenyum meskipun kedua matanya masih sembab.

“Mama, kenapa Mama nggak nyusul, Dela?” Tanya bocah kecil usialimatahun itu. “Adatamu ya?” Risma mengangguk. Lalu kedua tangannya digerakkan mengisyaratkan kata maaf. Anak kecil bernama Dela itu mengangguk faham. Melihat cara berkomunikasi keduanya, Kosim sangat terkejut. Ia merasa heran. Kenapa Risma bicara dengan bahasa isyarat?

“Risma?Adaapa denganmu? Apa yang terjadi? Dan Dela, dia.. dia anak kitakan, Ris?”

“Bukan. Dia anak kami.”  Rian yang menyahut.

“Tidak mungkin itu anakmu! Dela adalah anakku dengan, Risma.” Ucap Kosim memaksa.

“Mama? Papa?” Dela menyela. Tatapannya tampak bingung dengan apa yang barusan didengarnya. Buru-buru, Risma menarik Dela ke dalam pelukannya lalu membawanya masuk ke kamar.

“Maaf Mas Kosim, sekali lagi saya tegaskan, Dela bukan anakmu. Dela adalah anakku!” Suara Rian mulai terdengar marah.

“Aku tidak akan mempercayaimu. Dela anakku, dan aku akan mengambilnya sekarang!”  Ucap Kosim ngotot. Sambil melangkah hendak masuk ke dalam.

“Hentikan!” tiba-tiba Risma berteriak dari dalam kamar, menyadari langkah Kosim sudah mendekat. Di antara keterkejutannya dengan suaranya sendiri, perempuan itu kini berdiri di tengah-tengah pintu.

“Risma kamu…?”  Seru Rian tidak percaya.

“Aku bisa bicara, aku bisa bicara, Mas Rian! Aku bisa bicara lagi!” Ucap Risma sangat bahagia sambil memegang kuat kedua lengan Rian yang kini telah berada di depannya. Keduanya berpelukan penuh haru. Pada saat itulah, Kosim mendorong tubuh keduanya dan meraih tubuh Dela. Dela menjerit ketakutan.

“Lepaskan dia, Kosim!” Teriak Rian seketika.

“Aku akan membawanya pergi bersamaku.” Sahut Kosim. Lalu kepada Dela ia berucap, “Tenang Sayang, ini adalah, Papa.”

“Dengar, Kosim, dengarlah,” dengan nafas agak terengah, Risma berucap, “demi Allah, Dela bukan anakmu, bayi kita telah meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari Solo waktu itu.”  Ucap Risma terbata-bata. Kosim tampak bingung. Ia menatap Dela, lalu Risma, lalu Rian.

“Sungguh, Kosim. Apa yang dikatakan Risma adalah benar.” Rian meyakinkan. “Kami bisa mengantarmu ke makamnya jika engkau mau.”

Mendengar penjelasan itu, perlahan Kosim melepaskan Dela. Pria itu terduduk di lantai. Menangis. “Aku sakit-sakitan sejak tiga tahun terakhir. Lela istriku, mengusirku setelah ketahuan selingkuh.”

Risma dan Rian saling pandang, menyimak. Lalu Rian menuntun Kosim untuk duduk di kursi ruang tamu. Pria itu menceritakan semuanya. Dia bermaksud mencari Risma dan ingin kembali kepadanya. Tentu saja sudah terlambat. Risma sendiri tidak menceritakan, bahwa dia hanyalah ibu pengganti bagi Dela, yang ibunya meninggal dunia kala Dela baru berumur dua bulan. Dan keberadaan Dela bisa menggantikan putrinya yang telah meninggal diusianya yang belum genap 20 hari. Biarlah Kosim mengira Dela adalah anak Risma dan Rian. Begitu pikirnya.

Cheung Sha Wan, 2008

Iklan

Responses

  1. cerpen lama mbak ida? sungkem dari blog baru

  2. Hiyuuu.. luama banget. Waktu masih belajar merangkah dalam dunia tulis 🙂

    Blog baru, semangat baru ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: