Oleh: Ida Raihan | 8 November 2012

Dua Titik Yang Harus Dilalui

Pagi, 03:38. aku dibangunkan oleh suara SMS di ponsel Nokiaku. Dari sahabat lama, yang kan selalu terkenang dalam hidupku. Begitu kubuka, tertera sebuah tulisan, “I hate my self”. Seketika kedua mataku terbelalak.

“Why? Gak boleh, Akhy. Membenci diri sendiri sama saja membenci ciptaan Allah. Hayuk sholat!” Balasku. Aku bermaksud menyampaikan kepadanya, bahwa tubuh ini bukan milik kita, tubuh ini milik Allah yang harus kita jaga. Tubuh ini diciptakan paling sempurna di antara mahluk-Nya. Dia tidak membenci hasil ciptaan-Nya ini. Dia menyayangi. Tapi kenapa kita yang tinggal menikmati justru membenci? Padahal kita tidak akan pernah bisa bersaing dengan-Nya untuk menciptakan hal yang sama. Jika ada yang berusaha menyamai-Nya, itu kafir namanya. Naudzubillah…

Setelah itu aku berusaha memejamkan mata sekali lagi. Aku berniat bangun jam lima karena memang sedang tidak memiliki kewajiban mengerjakan sholat. Tapi, Aku gagal! Pikiranku melayang jauh ke belakang. Satu setengah tahun yang lalu. Ketika selama dua hari penuh mulutku bungkam tanpa ingin dimasuki makanan maupun minuman. Ketika dua hari penuh perutku lapar tapi tidak terasakan. Ketika airmataku menjadi saksi luka oleh pengkhianatan. Ketika tubuh ringkihku menjadi saksi runtuhnya duniaku. Aku membenci, banyak hal. Termasuk diri dan nasib ini. Aku mendzalimi diriku, hingga habis tenagaku. Terkulai di antara remuk redam asaku.

Tapi, dengan telaten, dia berdiri di sisiku. Menjadi penasehat baikku.

Usianya jauh lebih muda, tetapi dia memiliki segudang nasehat untuk membuatku bangkit dari puing-puing keruntuhan ketika itu. Dia jauh lebih muda, tetapi memiliki kepercayaan hidup yang dibagikan kepadaku. Dia salah satu pahlawanku. Aku mengaguminya, mencintainya sebagai saudara seimanku.

Tapi, Yaa Rahman… kini ada apa dengan dia? Aku bahkan ingin menangisinya. Kenapa dia yang dulu menjadi pahlawanku harus mengulang keruntuhanku? Aku tidak rela. Aku mendoakannya agar dia bahagia.

“Ternyata rasa sakit … itu begini.” Aku teringat kalimatnya beberapa bulan yang lalu. Ah.. akhirnya kau mengalami juga apa yang pernah kualaimi…

Aku bangkit dari ranjangku. Mengambil wudhu untuk menjernihkan otakku. Siap menjadi tempat curhat baginya. Tetapi dia diam. Akupun memilih membuka laptopku. Tak ada ketikan yang kuhasilkan. Mengingat-ingat ayat yang melarang manusia berputus asa. Semula yang kuingat adalah Surat Yusuf ayat 81, ternyata setelah kubuka, salah. Lalu coba kuingat-ingat lagi.

Dalam hati bertanya, adakah ini kaitannya dengan putus asa? Mungkin, ini dua hal yang berbeda, Tetapi beberapa hari lalu, sahabatku sempat menceritakan pergulatan batinnya kepadaku. Dan aku tak dapat melakukan apapun untuknya, kecuali doa. Gejolak batin yang disebabkan oleh keinginan dan keadaan yang di luar kehendaknya. Ia juga hampir berputus asa.

 

Maka setelah kubuka-buka, ketemulah Surat Yusuf ayat 87. Bunyinya,

 

…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.
(QS. Yusuf: 87).

 

Ah.. perjalanan manusia, sepertinya memang harus mengalami dua titik. Tinggi dan rendah. Ketika sedang berada di titik tertinggi keimanan, kita mampu memberikan nasehat kepada yang lainnya. Namun ketika berada di tingkat terendah,  kita butuh nasehat. Dari orang yang pernah dinasehati sekalipun, bahkan dengan nasehat yang sama.

 

Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Kariim… Berilah ia kekuatan untuk menjalani ujian yang Kau berikan. Berilah ia cahaya, untuk melangkah menuju kasih-Mu. Kumpulkanlah ia ke dalam golongan orang-orang yang sentiasa mengharap rahmat-Mu. Mengharap pertolongan dari-Mu. Lapangkanlah kesempitannya. Luaskanlah pemahamannya akan kebesaran kasih sayang-Mu. Jadikanlah ia hamba yang selalu taat kepada-Mu. Hamba yang tak pernah berputus asa, dari Rahmat-Mu…

 

 

Ida Raihan

Kramat Sentiong, Kamis, 8 November 2012 (Dhuha Time, 07:25)

https://idaraihan.wordpress.com

http://qqcakep.multiply.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: