Oleh: Ida Raihan | 9 November 2012

Dari Dulu si Kaya itu Kuasa, si Miskin Nelangsa

Aku baru keluar dari kamar mandi saat kedua mata ini membentur wajahnya. Terlihat jelas sekali lesu sepulang dari kegiatannya yang sampai malam. Matanya berkali-kali digenangi basah. Tidak tega aku segera mendekatinya.

“Alvin, kamu menangis?”

“Nggak, Mbak.” Sahutnya semakin jelas anak kelas enam SD itu berusaha menahan linangan airmatanya.

“Dengarkan, Mbak, Alvin.” Kataku. “Apapun yang terjadi nanti, tetap sekolah ya? Jangan sampai putus. Alvin harus sekolah. Usahakan untuk terus sekolah. Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar Alvin peroleh beasiswa. Alvin rasakan sekarang? Betapa tidak enaknya menjadi orang miskin.”

“Iya, Mbak.”

“Lihatlah ibu, sudah semakin tua. Balas budi baiknya. Buat ibu bahagia. Alvin harus sukses, Alvin harus jadi kaya agar tidak mengalami hal seperti ini lagi.” dengan menahan airmata pula aku mengatakan semua itu. Rasa perih menusuk-nusuk.

“Iya, Mbak.”

“Terusir, Alvin.” Alvin mengangguk.

Bu Eni namanya, ia ditinggal suaminya ketika kedua anaknya masih kecil. Suaminya meninggal karena sakit. Mau tidak mau, Bu Eni harus berjuang sendirian mengurus anaknya. Atas kebaikan pemilik kostan, Bu Eni diijinkan tinggal selama beberapa tahun tanpa dimintain bayaran. Tetapi itu beberapa tahun yang lalu, sebelum Bu Haji, pemilik kontrakan meninggal dunia. Setelah Bu Haji, meninggal, Bu Eni dimintai bayaran uang kostan oleh anak almarhumah.

Tak menyerah, Bu Eni terus berusaha mencukupi semua kebutuhannya dan kedua anaknya, dengan gaji yang sebenarnya tidaklah cukup untuk kehidupan Jakarta yang serba mahal. Rp 300.000/bulan x 2 (Bu Eni bekerja di dua keluarga sebagai tukang cuci pakaian, yang masing-masing membayarnya Rp 300.000/bln). Dua belas tahun dia mengontrak di sepetak kamar yang cukup untuk satu orang itu.

Karena kamar kostan sebenarnya hanya untuk satu orang, maka, anak Bu Eni yang satu dititipkan pada neneknya. Dan semalam

“Kita tidak ketemu lagi dong, Da.” Ucap Bu, Eni saat aku masuk ke kamarnya. Aku sering masuk ke kamar Bu Eni untuk sekedar ngobrol dan mendengarkan curhatnya. Dalam kesehariannya, terkadang dia hanya sekali makan, seharga Rp 4.000 untuk lauk dan nasi. Bisa dibayangkan, Kawan, di kotaJakarta yang serba mahal ini uang Rp 4 .000 dapat apa? Hanya sedikit nasi dan satu jenis sayur. Tumis buncis barangkali? Belum lagi aku menjawab, Bu Eni sudah melanjutkan, ‘Aku diusir.”

“Ah bercanda.” Aku tidak percaya, secara selama ini pemilik kostan yang keluarganya sudah pada haji itu, sudah akrab dengan Bu Eni. Setiap ada apa-apa mereka mengetuk pintu kamar Bu Eni untuk membicarakan kasus anak kost. Yang belum bayarlah, yang joroklah. Dll.

Bukan hanya aku yang tidak percaya, para tetangga sekitar kamarnyapun tidak percaya dnegan fakta yang ada.

“Iya, aku hanya diberi waktu esok saja. Sabtu sudah harus dikosongkan.” Ucapnya tampak sedih. Aku melotot, demi Allah, sungguh ini seperti mimpi.

“Iya, Da. Aku diusir oleh meraka. Aku sudah harus meninggalkan kamar ini hari Sabtu. Aku mau kemana? Aku bingung sekarang. Kontrakan semua mahal. Hanya di sini yang murah. Kalau gajiku kupakai buat bayar kontrakan di tempat lain, kami mau makan apa?”

Yaa Allah! Kenapa bisa begini? Saat itu juga, aku mulai memutar otak, bagaimana caranya agar bisa membantu Bu Eni. Beberapa teman kuhubungi kalau-kalau ada kontrakan murah. Tapi jawabannya sama. Tidak ada. Kepiting saus Padang, cumi goreng, cah kangkung, yang kubawa jauh-jauh dari Muara Angke, yang telah kuberikan padanya tidak tersentuh. Aku tahu, Bu Eni dan anaknya jarang sekali makan enak. Bisa jadi belum tentu setahun sekali. Karena itu, atas kebaikan sahabat yang tinggal di dekat Muara Angke sana (dia yang bayarin, Kawan. Kalau Ida sendiri bakal mikir membeli makanan dengan ukuran mahal), kubawakan Bu Eni dan Alvin seafood. Tapi bencana yang menimpa mereka, membuat mereka kehilangan nafsu makan. Mereka difitnah oleh pendatang baru. Dan tanpa ampun lagi, tanpa bisa dikompromi lagi, Bu Eni dan anaknya sudah harus meninggalkan kostan ini, pada Sabtu ini.

Yaa Allah, yaa Rabby, di mana keadilan-Mu? Engkau menyaksikan, lihatlah betapa pilu hamba-Mu, yang Kau anugerahi dengan kekurangan. Apakah memang harus begini nasib seorang miskin diperlakukan? Apakah begitu perilaku yang benar bagi orang yang diberi kekayaan? Kuasa yang bisa melakukan apa saja? Kejam.

Periih sekali menyaksikan ini. Tidakkah mereka memikirkan anak yatim yang berada di bawah tanggungannya? Tidakkah mereka membaca hadits nabi yang menggambarkan kedekatannya dengan orang yang memelihara anak yatim? Tidakkah mereka membaca perintah menyayangi anak yatim? Yaa Allah. Hari ini aku benar-benar menangisi. Mengapa ada di bumi ini, keluarga yang berada dalam kekayaan, keluarga yang terpandang kelompok beriman, tega melakukan ini pada janda lemah dan anak yatim? Sungguh aku tidak percaya…

 

 

Ida Raihan

Kramat Sentiong, Jum’at, 09 November 2012 (Dhuha Time: 08:35)

https://idaraihan.wordpress.com

http://qqcakep.multiply.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: