Oleh: Ida Raihan | 20 Mei 2013

Jakarta Diguyur Banjir (Artikel Pindahan dari Blog lama)

Bismillahirrahmanirrahiim…

Sumpah! This is my first time!

Yeah, my first time!

Ambil dari google.

Kemarin rasanya bersyukur sekali ketika pulang kerja matahari masih menyisakan cerah di permukaan bumi yang kuinjak. Padahal saat itu senja mulai datang.

           “Alhamdulillah hari ini tidak hujan. Kering jemuranku!” Seruku, saat melangkah meninggalkan kantor Migrant Institute bersama atasan, teman, sekaligus tetangga kostan. Biyah Djauhar. Wanita dua puluh enam tahun, yang begitu sabar mengajariku mengenali tugas-tugasku. Kami langsung menaruh tas yang berisi laptop begitu sampai di kostan, lalu pergi mencari makan.


               “Aku tidak berselera makan nasi.” ucapku.
               “Terus?” Tanya Mbak Biyah.
               “Aku mau makan apel saja buat nanti malam.” sahutku. Mbak Biyah mendapatkan apa yang dia cari nasi plus lauk yang dia ingini. Sementara aku mampir ke toko buah dan mendapati barisan apel trigem. Kuambil satu buah.
               “Berapa, Bang?” Pria penjaga toko yang kupanggil dengan sebutan Abang itu mengambil Apel dari tanganku, lalu menimbangnya.

Depan kantor

              “Tiga ribu limaratus, Mbak.” Ucapnya. Hadew.. uangku limapuluh ribuan jew… Akhirnya kuambil lagi jeruh label biru dari dalam kulkas. Jeruk Navel yang kuketahu dari RRC. Abang itu kembali menimbangnya.
              “Enam ribu.” Katanya. “Jadi total sembilan ribu limaratus.”
              Kuulurkan selembar uang berwarna biru. Lalu kami pulang. Di jalanan ada bangkai tikus yang teramat besar. Kulitnya mengelupas menjijikkan. Aku menahan muntah rasanya.

Maghrib tiba, rasanya cepat sekali senja yang cerah menjelma gelap. Aku merasa lapar. Apel dan Navel yang kubeli sore segera kusiapkan. Tapi ternyata perutku hanya mampu menampung Navelnya saja. Sehingga Apelnya belum jadi kumakan.

           Pukul 22:30-an aku berangkat tidur, dan dikejutkan bunyi pukul 04:17 menit.
      “Jemuranku!” aku terkejut. Hujan sudah deras menerjang bumi tempatku berteduh. Sebagian jemuranku tidak tahu kemana. Aku yakin jemuran itu diangkat oleh pemilik kostan. Dan segera mengangkat jemuran yang terdekat dnegan pintu kamar. Alhamdulillah tidk terkena tampias air. Aku lega bersamaan adzan subuh yang berkumandang. Hujan masih deras mengguyur, sangat deras. Bahkan rasanya kehangatan kasur busa yang empuk, guling, selimut, bantal memanggil-manggil agar aku kembali ke peraduan. Tapi, kewajiban memintaku untuk segera mengambil wudhu. Kutunaikan dua rakaat fajar, kulanjut dnegan subuh.
             Usai sholat aku tidak tertarik dengan kehangatan peraduan. Aku membuka NEC Versa 2000-ku. Mengetik. Hujan semakin menggila hingga pukul lima. Masih berlanjut hingga ke pukul 06:00, melaju ke pukul tujuh. Hingga terbentur jam kerjaku pukul 08:00.
              “Mbak Biyah banguuuun… jam delapan!” Aku bingung bagaimana caranya bisa masuk kerja tanpa berbasahria? Tiba-tiba sebuah SMS masuk.
             “Nyonya Ida, Nyonya Biyah, butuh jemputan gak? Berhubung hujannya sangat lebat seperti kumis Pak raden?” Aku tertawa. Dan menyetujui jemputan setelah dibumbui sedikit canda.
            “Oke, tunggu lima belas menit aku ke sana.” Dan ketika aku dan Biyah keluar pintu gerbang, seorang pria dengan jaz hujan warna hitam berdiri dengan dua payung di tangannya. Alhamdulillah.

(Depan kantor)


Tapi, Oh My Allah… banjir sudah meraja di mana-mana! Jalanan yang kami lalui sudah digenangi air! Ini kali pertama seumur hidupku. Kehujanan dan kebanjiran hingga oleh saat menjejakkan kaki di tanah. Tubuh kecil ini serasa mau terbawa air….

Oh, Allah… banjir yang baru setinggi betis saja sudah membuatku kepayahan, lalu bagaimana dengan saudara-saudariku di bagian bumi lainnya sana? Saudara saudari yang rumahnya sampai tenggelam bahkan? Aku sedih memikirkan mereka…

Semoga Engkau selalu menjaga dan memberi ketabahan kepada mereka semua, Rabb…


Kampung Tengah, 17 Januati 2013 (Asar Time, 15:38)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: