Oleh: Ida Raihan | 20 Mei 2013

Nasi Dan Telor Sangrai (Pindahan Dari Blog Lama)

Kalau lagi banyak makanan, rasanya smeua menumpuk. Bahkan Bebek ala Hong Kong pun ada. Seperti siang ini. Bebek yang dibawa Pak Adi Candra daari Hong Kong. Kehabisan uang dan makanan adalah merupakan siksaan tersendiri bagi seorang perantau. Biasanya aku akan mulai cari pinjeman ke teman-teman ketika uangku sudah benar-benar berada di titik limited. Sekedar untuk menyambung hidup hingga gaji selanjutnya diterima.
Ya, hari ini aku dan rekan-rekan kerja bisa menikmati Bebek Panggang yang dibawa langsung dari Hong Kong. Dengan tiga jenis saus. Saus dengan rasa asam manis, saus manis sedap, dan paste jahe dan daun bawang. Rasanya, yah… lumayan, ada yang bilang eneg, maklum, perut Indonesia. Bisa jadi karena asing dnegan masakan sejenis itu.
Dan itu mengingatkanku pada beberapa malam lalu, aku dan teman kerja berencana akan pergi ke luar untuk mencari makan malam. Aku ingat di dompetku masih ada sisa uang sebesar tujuh ribu rupiah. Maka menunggu teman sholat maghrib, aku yang sedang berhalang dari sholat hanya duduk di depan laptop untuk mengetik sebah naskah.
“Kamu punya uang berapa, Da?” Tanya salah seorang rekan kerja, Pak Nursalim. Beliau adalah orang Crisis Center di Migrant Institute.
“Ada.” Sahutku seraya mengeluarkan dompet dan mengeluarkan isinya. “Tujuh ribu Rupiah.”
“Buat beli beras aja ya?” Kata Pak Nursalim. Biar Ammar masak, kita makan di sini. Aku menyepakati ide tersebut. Di dompet Pak Nur juga ditemukan beberapa ribu yang cukup untuk beli telor. Tidak lama kemudian, Ammar mendatangiku. Dia sudah kembali dari membeli beras dan telor.
“Mbak mau nasi goreng?” Tanyanya.
“Diapain saja, Ammar. Ida nggak rewel kok soal makan.” Sahutku. Tidak ada keinginan untuk sekedar membantu.
“Telornya mau diceplok apa didadar saja.” Lanjutnya.
“Didadar saja kayaknya lebih enak deh.” sahutku. Usai bercakap-cakap dengan Ammar, aku dan teman kerja yang lain, Mbak Fujiatin pergi keluar. Dengan mengendarai motor kantor. Kupinta Mbak Puji untuk mengantarkanku ke Indo Maret yang di dalamnya ada mesin ATM. Setelah itu kami melihat-lihat harga barang kebutuhan. Maklum, di tanggal tua seperti ini, bagi kami, uang sebesar Rp 300 – Rp 600 Rupiah merupakan property yang harus dipertahankan. Maka kamipun pindah ke Alfa Mart. Sebenarnya tidak ada keinginanku untuk membeli sesuatu, mengingat, lagi-lagi aku hanya butuh makan sehari tiga kali untuk bertahan hidup di kota rantau yang tanpa keluarga ini.
Mbak Pujilah yang berniat belanja. Maka akupun mengikutinya melihat-lihat harga barang. Dan ternyata di Alfa Mart ada promosi minyak sayur Rp 19.900 untuk ukuran 2 liter. AKu tidak membutuhkannya karena aku memang tidak pernah masak. Maklum di kostanku tidak boleh memasak.
“Ah.. mungkin di shelter membutuhkannya.” Pikirku. Maka tanpa berfikir lagi, aku langsung mengambilnya. Dan tidak jauh dari tempat tersebut, ada biscuit yang harganya juga sedang turun, maka kuambil sebungkus. Buat ngemil di jalan esok. Pikirku. Karena keesokannya kami akan menghadiri orientasi peserta Amil Zakat di Dompet Dhuafa.
Sesampainya di kasir aku langsung membayarnya dnegan memberikan selembar uang limapuluhan ribu.
“Loh kok kembaliannya segini, Mbak?” tanyaku ketika mendapati kembalian tidak sesuai harapan.
“Iya Mbak, totalnya tadi, sekian.” Kata si kasir. Aku sempat akan menjawab lagi, namun begitu kulihat di belakangku banyak yang mengantri, akhirnya kuputuskan untuk membatalkannya.
“Tadi Mbak, harga minyak lagi promo, jadi Rp 19.900. Tapi di sini digetok Rp 21.500.” Kataku pada Mbak Puji.
“Masak?” balasnya. Kamipun akhirnya pulang setelah membeli papaya buat anak shelter.
Sesampainya di kantor, nasi dan telor sudah mateng. Tetapi,
“Kok rasanya kayak telor bakar?” Tanyaku.
“Ya, kan nggak punya minyak. Tadi ada blueband sedikit buat goreng nasi juga nggak cukup.” Ammar dan Nursalim sahut-menyahut. Wow… makan nasi dan telor sangria nie ceritanya?
Kamipun makan, dengan setengah liter beras dan dua butir telor untuk berlima. Kebersamaan mencipta rasa nikmat meskipun seadanya…



Ida Raihan
Kramat Jati, Kamis, 21 Maret 2013 (16:20)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: