Oleh: Ida Raihan | 20 Mei 2013

Pelayanan Yang Membuat Gagal Penjualan (Pindahan Dari Blog Lama)

Semula, ini tentang sebuah perjalanan… sore kemarin ketika aku harus memeriksakan kesehatanku di RST Parung, Bogor. Sebagai staff dari jejaring Dompet Dhuafa, maka jika sakit, kami direkomendasikan untuk ke RST milik sendri. Yaitu Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa (RST-DD).
Gambar diambil dari google
Di antar rekan kerja, Pujiatin dan Biyah, aku yang sudah terlalu sering mengalami masalah pada kepala, disarankan untuk melakukan CT Scan.
Pukul 17:00 kami sudah keluar dari RST, ketika sampai di jalan raya, tak ada satupun taksi yang melintas. Akhirnya kami putuskan untuk naik angkot sampai di Parung. Ternyata di sana pun kami tetap kesulitan mendapat taksi. Kami terus berjalan.
Berhubung perut belum terisi sejak usai sarapan pada sebelas pagi, maka kami putuskan untuk berhenti di warung yang menjual combro.
“Mau kemana, Mbak?” Tanya si penjual. Di sana juga ada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk.
“Ciputat, Bu.” Sahutku.
“Kuliah di sana?”
“Iya.” lalu kepada Puji dan Biyah aku berkata, “Udah hayuk jalan lagi.”
“Nanti apa, aku belum habis.” Sahut Biyah.
“Iya, Mbak dihabisin dulu.” Sahut si penjual lagi. “Nggak perlu buru-buru makannya.”
“Ah… ini sih cuma combro. Biasanya kita makan nasi juga sambil lari, Bu.” Sahutku. Sebagai orang lapangan kita harus siap, dengan keadaan” Lanjutku lebay. Biyah tertawa, mengingati kejadian pada Februari lalu ketika banjir menerjang kota Jakarta. Seorang pemuda sampai melotot memandangi kami yang kelihatan begitu rakus saat sarapan. Bahkan selesai dalam hitungan tidak sampai lima menit. Ketika itu kami sedang menjadi relawan untuk korban banjir di Uki. Ada tujuhratusan kepala yang perlu kami beri bantuan, sedangkan tenaga relawannya hanya sedikit. Jadi kami tidak boleh bersantai ria menikmati sarapan sementara di tempat lain banyak anak dan orangtua tengah kelaparan menunggu kami membagikan makanan.
“Lha ini kok kalian sampai di sini?” Tanya ibu penjual lagi.
“Dari RST, Bu.” Kali ini Puji yang menyahut. Lalu kami sambung-menyambung menyahut pertanyaan-pertanyaan penjual tersebut.
“Ngapain?”
“Periksa kesehatan, sekalian njenguk pasien yang tengah dirawat.” Kami menjenguk BMI Hong Kong yang tengah dirawat di RST karena, menurut pengakuan BMI tersebut, kakinya nggak bisa berjalan dengan normal setelah jatuh karena diorong temannya. BMI asal Palembang ini sudah tiga bula lebih ada di Migrant Institute, untuk mendapat bantuan perawatan medis.
“Kalian relawan DD?”
“Yepz!”
“Pekerjaan mulia yang memuaskan.”
“Yupz! Kami merasa bahagia ketika bisa membantu. Ada kepuasan tersendiri.”
“Itu kepuasan yang tak terbayarkan.” Lanjutnya.
“Yupz!” balasku lagi.
Ketika dua temanku sudah menyelesaikan combronya, kami segera cabut. Satu taksi Blue Bird melintas, tetapi dia menolak kami karena dia mengarah ke Parung sedangkan kami hendak ke Ciputat. Terpaksa kami berjalan lagi. Hingga sampailah kami di depan Ramayana yang tengah mendiskon barang-barang.
“Belanja yuuuuk..”
“Sudah di luar jam kerja kan?”
“Yuuuk.” tak perlu menunggu aba-aba, Tiga Bidadari berlari menuju Ramayana dengan melintasi tambang pembatas kendaraan, dua orang petugas yang menyaksikan kelakuan kami, sempat tertawa melihat itu. Mungkin heran, ada Tiga Muslimah berpakaian anggun, tetapi tasnya ransel semua. Udah gitu nekat menerobos pembatas lagi! Hikz…
“Maaf, Mbak, tasnya tidak boleh dibawa masuk.” Kata salah seorang petugas keamanan ketika kami sedang melihat-lihat sandal dan sepatu. “Silahkan dititipkan sebelah sana.” kamipun melangkah meninggalkan petugas. Sesampainya dikounter penitipan barang, Biyah melepaskan tasnya. Sedang aku coba menawar
“Boleh nggak, nggak dititipkan? Soalnya tasku banyak uangnya.” Ucapku. Semula mereka tidak mengijinkan, tapi aku memaksa karena aku memang paling tidak suka menitipkan tas yang sama sekali tidak mengganggu untuk dibawa. Lebih, lebih hanya karena mereka khawatir terjadi pencurian. Duh… nggak banget. Akhirnya si petugas memanggil security lagi.
“Ada laptopnya?” Tanya security.
“Tidak. tetapi ada uangnya banyak.” Sahutku. Singkat cerita akhirnya aku diijinkan tetapi tidak untuk Biyah. Tas dia tetap ditahan meskipun ada laptopnya.
Di dalam toko berbagai sepatu sedang diskon besar-besaran, aku sama sekali tidak tertarik, sedangkan Biyah dan Puji tampak begitu tekun mencoba dan memilih. Sampai akhirnya jatuh pada pilihan masing-masing.
“Pak, ada yang ukuran 39?” Begitu tanya Biyah pada seorang pria dengan seragam hijau telor bebek dan celana hitam. Seketika pria itu menepuk tangan beberapa kali ke arah dua orang waitress. Waitress datang tanpa senyum.
“Mau yang kayak gini tapi di atas nomor ini, Mbak.” Dengan cemberut dan tampak kesal waitress itu mencari-cari ditumpukan sepatu. Beberapa kardus dilemparkannya dengan kasar. Sebenarnya aku ingin bertanya, lagi capek ya, Mbak? Tapi aku memilih diam dari pada nanti kedengaran atasannya, bisa kena marah dia. Namun akhirnya kami tidak tahan juga menanggapi caranya yang arogan dalam memperlakukan pembeli. Sudah bibirnya bisa dikuncir, tangannya kasar sekali melempar-lempar barang.
“Udah ayuk pergi.” Kataku.
“Yuk, ah..” Sahut Biyah. Kami bertiga memutuskan pergi sebelum sepatu nomor 39 yang dipesan ketemu. Kami itu pembeli, bukan pengemis. Lebih baik tidak jadi mendapatkan barang dari pada diperlakukan seperti pesakitan.
“Ih… padahal warna hitam tadi juga tidak apa-apa, aku ingin membelinya. Tapi witressnya begitu, jadi males banget.”
“Kalo dilaporkan bisa kena pecat dia.”
“Jangan, kasihan dia kalo sampai kehilangan mata pencariannya.”
“Tapi ini sudah kebangetan.”
“Ya sudah biarin saja, dia sudah kehilangan pelanggan.”
“Terkadang jadi pembeli juga harus menekan ego demi melindungi penjual yang dibayar.”
Akhirnya kami memutuskan keluar dengan tetap membicarakan si waitress cantik di Ramayan Parung tersebut. Hingga akhirnya menemukan taxi. Kami meluncur ke swalayan lain untuk mencari Sepatu. Pujiatin mendapatkan dua pasang dengan merk yang sama dengan yang di Ramayana Parung. Sedangkan Biyah, aku tidak tahu persisnya. Kalau tidak salah, dia mendapat sepatu berwarna putih dengan bentuk yang sama seperti di Ramayana Parung.
Untuk Ramayana Parung, sangat disayangkan sekali, seharusnya tiga atau dua sandal kalian laku terjual, hanya karena ketidak ramahan waitressnya, terpaksa harus kehilangan pembeli. Tapi.. yah.. lagi-lagi memnag kembali pada ketentuan. Mungkin belum rizkinya. J


                                                                 Ida Raihan
                                                                 Kramat Jati, Sabtu, 27 April 2013 (15:43)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: