Oleh: Ida Raihan | 26 Mei 2013

Antara 40 Juta Venna Melinda Dan Fakta Pagi Ini

Gambar diambil dari Google

Gambar diambil dari Google

Belum jam delapan ketika Hanphone IT Mobile saya berbunyi pelan pagi ini. Sebuah SMS masuk. Beberapa menit saya masih sempat membiarkan karena kesibukan bersiap-siap untuk pergi ke Depok seperti yang selalu saya lakukan pada Hari Sabtu dan Mingu

“Da maaf, aku kemarin lagi nyuci dan beres-beres rumah jadi gak dengar (panggilan telepon). Aku juga baru SMS kamu (sekarang) karena demi Allah untuk beli pulsa aja (aku) gak mampu. Aku mau narik taxi dulu Senin, supaya anak-anak aku gak seperti sekarang kelaparan!

Usai membaca itu tubuh saya gemetar, mata saya merebak basah oleh airmata yang mulai menyeruak. Tiga tubuh kecil yang tampak ringkih memenuhi ruang benak saya. Anak berumur enam tahun, empat tahun, dan tiga. Di tambah bayi satu setengah tahun yang belum pernah saya lihat. Menahan lapar, mereka pasti sangat menderita!

“Mbak datang kan ke rumah, Bu Dinar?” Saya membalas SMS itu.

“Iya.” Sahutnya. Saya lega karena akan bertemu dengan mereka. Tetapi, Duh Gusti, saya juga belum menerima gaji tuk bulan depan. Sementara di dompet hanya ada sekitar tiga puluh ribu Rupiah. Tak mungkin saya akan memberikan uang yang tinggal itu-itunya kepada wanita, dan ke empat anak yang bernasib kurang mujur itu. Ego diri masih melarang, “jika uang ini diberikan, hari ini dan esok saya mau makan apa?

Sekitar pukul sebalas wanita itu dengan dua orang anaknya datang. Langsung duduk lunglai di karpet, berkali-kali ia menghapus airmatanya setiap kali hendak berbicara.

“Anak-anakku menahan lapar dari kemarin.” Ucapnya sambil menangis. Dia bukan tidak bekerja, dia bahkan menjadi sopir taksi sejak hamil muda hingga kandungannya memasuki usia delapan bulan. Itupun masih disambil dengan membuat kue ketika ada yang memesan. Tetapi sejak dia sering sakit-sakitan, dia tak bisa lagi nyopir dengan maksimal, sehingga otomatis pendapatannya berkurang. Sedangkan hidupnya yang sebagai single parent dengan empat anak yang masih kecil-kecil harus terpenuhi kebutuhannya. Minimal makan sehari-hari.

Pada saat seperti itu, sambil menatap langit-langit ruangan saya teringat pemberitaan di Yahoo. Tentang seorang wanita cantik yang mengaku sebagai wakil rakyat. Wanita cantik yang memberikan syarat 40 juta/bulan kepada suaminya (Atau mantan?) khusus untuk merawat kecantikannya.

Masya Allah!

Tahukah wanita itu, di bumi yang masih sama dengan tempatnya berpijak ini ada wanita dan anak-anak yang mahan lapar dari malam hingga pagi, di lain hari, dari siang hingga malam? Tahukah wanita itu, di tanah yang sama tempatnya berpijak ini, ada wanita dan anak-anak yang hidupnya dipenuhi dengan kesulitan-kesulitan sekedar untuk mencari makan?

“Aku juga membantu Mama mencari bekas-bekas Aqua untuk dijual.” Ucap Key. Anak yang umurnya baru enam tahun. Saya hanya mampu berdiam.

“Ya, aku menyuruh anak-anakku menjadi pemulung.” Ucap Mama Key.

“Nggak papa, Mbak. Yang penting halal.” Saya menyahut.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi? Aku ingin bekerja. Aku mau bekerja apa saja, pembantu, tukang gosok, atau apalah yang penting anak-anakku bisa makan.” Lanjutnya.

“Iya, sabar dulu, Mbak. Kita usahakan.” Sahut Saya menghibur.

Duhai, kenapa bisa negeri yang katanya kaya, masih memiliki rakyat yang sedemikian rupa nasibnya? Betapa tidak adilnya semua ini. Inikah rupamu, Indonesiaku? Sedangkan yang kutahu, kau adalah warisan leluhur yang makmur. Tetapi mengapa begini rupa dirimu kini? Kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya begitu jauhnya. Sebagian mereka begitu mudah mendapatkan berjuta-juta hanya untuk kemolekan tubuhnya, sementara di sisi lain, ada yang sampai muntah darah hanya untuk mendapat seratus dua ratus ribu untuk seluruh kebutuhan. Miris sekali!

Ida Raihan

Kramat Jati, Ahad, 26 Mei 2013 (21:31)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: