Oleh: Ida Raihan | 11 Juni 2013

Jika Pemimpinnya Saja Sudah Pesimis, Bagaimana Dengan Rakyatnya?

 

Image

Gambar diambil dari google

Di sela-sela memeriksa laporan keuangan yang harus segera dilaporkan, saya mambuka akun facebook yang cukup banyak notifikasi dari group.  Sebelumnya saya memposting sebuah tulisan dengan judul, ‘Calon Suami Bermental Miskin Layak Ditolak’. Sejenak saya tinggalkan, ternyata komentarnya sudah bertambah. Sayangnya komentar di sana berupa perdebatan. Merasa tak cukup ilmu untuk berdebat (selain saya tak menyukai perdebetan) maka saya terselamatkan oleh pekerjaan yang dikejar deadline tersebut.

Windows kembali saya tutup dan kembali fokus menekuni laporan yang harus diselesaikan.

Sekali dua, ketika mata mulai capek menekuni angka-angka di kertas dan monitor komputer, saya masih coba sempatkan membuka postingan lagi. Tersenyum. Hanya itu yang saya lakukan ketika mendapati perdebatan masih berlangsung. Dalam hati membathin, apakah mereka benar-benar membaca dan faham tulisan saya tersebut? Kenapa pandangan mereka seolah-olah saya ini gila harta? Mentuhankan harta?

Yaa Allah!

Adalah salah besar jika menganggap saya dibutakan oleh harta. Menganggap yang pro tulisan tersebut matre. Padahal, point tulisan tersebut bukanlah Kemiskinan, Kekayaan, ataupun kelimpahannya harta. Tetapi lebih pada penataan Mindset seorang pria. Cara berfikir, mengubah pikiran negatif menjadi positif.

Tujuannya, karena di dalam rumah tangga dibutuhkan pribadi-pribadi yang tangguh untuk memimpin sebuah ‘negara kecil’ di dalamnya. Jika pemimpinnya saja sudah pesimis, apa jadinya ‘negara kecil’ tersebut? Bisa jadi yang dipimpin tidak akan mempunyai mimpi! Yang dipimpin tidak akan berani melangkah menuju perubahan! Innalillahiwainnailaihirojiuun… ini benar-benar musibah.

Baru di negara kecil rumah tangga saja sudah tidak berani mimpi untuk maju, bagaimana nanti menghadapi tantangan dari luar? Padahal tantangan hidup di zaman akhir ini, manusia dituntut untuk selalu optimis memandang masa depan. Dan sikap optimis dapat ditemukan pada saat, dia berbicara, pada saat dia berjalan, juga pada saat dia bertindak!

Hmm.. Matre? Benarkah saya ini Matre? Dan mengatasnamakan harta di atas ketaatan? Saya kembali tersenyum. Seketika pikiran melayang kebelakang. Di usia saya sekarang, melampaui masa menuju jauh ke masa kanak-kanak dulu. Sejak kecil saya sudah terbiasa hidup serba kekurangan, yang akhirnya memaksa saya menjelma bak tuyul kecil yang manis. Mencari uang sendiri ketika tubuh ini masih mungil dan butuh asuhan.

Ketika anak-anak kecil lainnya menikmati masa pertumbuhannya dengan bermain, dimusim panen kedelai, sepulang sekolah saya justru menggenggam kantong plastik dan membawa sebotol air minum pergi ke ladang untuk mengais sisa-sisa kedelai dari ladang-ladang tetangga. Dari sana saya peroleh uang yang kemudian saya kumpulkan, untuk kemudian diberikan kepada orangtua ketika mereka membutuhkan dalam keadaan sulit.

Jadi, sekali lagi, salah besar jika banyak yang menganggap saya adalah cewek matrealistis. Apalagi pada keterangan singkat di kotak komentar sudah saya jelaskan bahwa, Kebahagian tidak melulu bisa diukur dengan banyaknya jumlah harta. Karena semua orang juga tahu, bahwa bahagia itu datangnya dari internal, bukan external. Uang, dan harta lainnya hanyalah salah satu pendukung external semata.

Sementara, wanita yang tulus mencintai karena Allah, yang tulus ingin berjuang untuk agama Allah, berapapun rizki yang Allah anugerahkan kepadanya melalui tangan suami, dia akan tetap bahagia dan bersyukur. Karena, BAGI WANITA YANG TELAH MEMUTUSKAN BERUMAHTANGGA KARENA ALLAH, KEBAHAGIAANNYA ADALAH, KETIKA DIA MELIHAT SUAMINYA BAHAGIA HIDUP BERSAMANYA.

Di sini sangatlah jelas, bahwa yang diinginkan wanita dari pria, bukanlah harta berlimpah. Tetapi sikapnya sebagai pemimpin dan menyayomi keluarganya.

Karena perdebatan masih terlihat terus berjalan, saya memutuskan untuk menutup kembali browser, namun sebelum menutup ada satu pertanyaan salah seorang komentator yang mampu menghinotip mata ini

 “Apakah Antum tahu hakikat arti ikhlas, Ukhty?” Sebuah pertanyaan yang belum pernah saya terima sebelumnya. Sejenak saya berfikir, hakikat ikhlas?

Perlahan jari-jari ini mulai bergerak memijit-mijit tombol di laptop jadul yang selama ini setia menemani.

“Menurutku, ikhlas itu, penerimaan” Jari-jari ini mulai membentuk tulisan mengikuti kata hati. “ketika Allah memerintahkan seorang hamba untuk sholat, maka dia melakukannya dengan tulus, ketika Allah memerintahkan seorang hamba sedekah, maka dia sedekah tanpa pamrih. Ketika Allah memerintahkan untuk tunduk, maka sepenuh hati ia tunduk. Wallahua’lam” Begitu saya mengirimkan sebuah jawaban yang saya telisik dari dasar hati yang paling dalam ini. Si penanyapun diam. Atau entah apa yang dia lakukan saya tak ingin lagi memikirkan.

 

 

Ida Raihan

Kramat Jati, Sabtu, 08 Juni 2013 (15:13)

Iklan

Responses

  1. Lho pembahasan yang kemaren itu masih rame ya?
    Sepertinya yang anti itu tidak memahami makna “mental kaya”.

    • Iya, yang di group FB banyak yang tidak terima. Ida dianggap melecehkan dan menghina. Hihi… Lucu. Kalo di WP dan Kompasiana sih aman” saja. Hehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: