Oleh: Ida Raihan | 10 Juli 2013

IJINKAN AKU MENGELUH, SEKALI INI SAJA

Selama lebih kurang tiga jam terjebak macet, rasanya kaki pada pegal, dan tubuhku menjadi panas.

Pukul 20:00 tepat turun dari angkot 06 Kampung Tengah yang tidak jauh dari gang kostanku. Saat itulah kulihat untaian kalung emas tergeletak di tanah dekat dengan penjual Pecel Ayam. Kupungut benda tersebut. Lalu kuambil selembar tissue di meja.

“Bang, jika ada orang yang mencari kalung, tolong berikan nomor HP ini ya?” Pesanku sama si Abang penjual seraya memberikan tissue yang telah kutulisi nomor HP. Aku sengaja tidak memberikan kalung tersebut pada si Abang karena aku belum bisa mempercayainya.

Tidak lama kemudian, Sebuah telepon masuk. “Assalamu’alaikum” Sapaku.
“Mbak kutunggu di tempat pecel ayam!” sahut dari seberang.

“Kenapa saya harus ke sana?” Tanyaku

“Lo yang ngambil kalung anakku kan? Lo siapa?” Tanya dari seberang, sengit.

“Bisa esok saja, Mbak? Saya lagi capek sangat saat ini. Belum mandi, belum sholat maghrib dan isya.” Saya menawar karena memang benar-benar merasa lelah sangat.

“Kenapa harus esok? Kamu mau mungkir? dan bla bla…” Olok-olokan dari suara di seberang.

Males mendengarkan HP kugeletakkan. Akhirnya mati sendiri. Lalu kukirimi dia SMS

“Ibu di mana?”

Balasnya “Gak papa kalung wa you ambil. Wa ikhlas. Tapi you barusan siapa?”

Kesal akhirnya kubalas, “Mau gua buang lagi tuh kalung. Haram gue pegang. Kalung di jalanan dibantu nyelametin malah berlaku kasar!”

Tetapi usai berkirim begitu aku merasa tak tega, maka kususul lagi SMS, “Tunggu di Pecel Ayam, tetapi gua mau sholat isya dulu.” mengesampingkan rasa lelah, akupun segera ambil wudhu untuk sholat maghrib dan isya.

Usai sholat kembali ku SMS, “Udah di Pecel Ayam belum, Mbak?”
Jawabnya, “Udah, Situ Jangan Nipu Saya”

Guuubrak! Makin kesel hatiku. Maka kubalas, “Saya lagi jalan, Tolol!” Dan tak lama kemudian saya muncul di hadapan dua orang wanita dan dua anak kecil. Kupanggil penjual pecel ayam tuk menjaid saksi bahwa aku telah mengembalikan kalungnya.

“Mbak,” Aku berusaha lembut meskipun dongkol. “Kalo saya berniat maling, saya nggak akan meninggalkan nomor HP sama si Abang. Saya bisa aja bawa kalung ini pergi bersama saya tanpa diketahui orang! Tetapi saya bukan maling, karena itu saya meninggalkan nomor HP agar Mbak-Mbak bisa menghubungi saya, dan mendapatkan kembali kalung, Mbak.”

“Iya, Mbak. Tapi Mbak jangan bilang saya tolol donk.” Bantah si wanita.

“Kapan saya bilang tolol?” Tanya saya? “SMS terakhir kan?”

“Iya.” Sahutnya.

“Itu karena Mbak sudah membuat saya marah. Sudah saya jelaskan, saya lelah banget, dan belum mandi, belum sholat. Dan meminta Mbak menunggu sebentar. Tetapi Mbak tidak sabaran. Ini, ambil kalungnya. Dan maafkan saya.” Sayapun mengulurkan tangan tuk menjabat mereka.

“Iya, Mbak. Maafkan kami ya, Mbak. Kami memang tolol, nggak seperti, Mbak. Maaf ya, Mbak. Soalnya kami orang nggak punya Mbak, kalung ini sangat berharga bagi saya.” Ucap salah satu si wanita.

“Sekarang sudah saya kembalikan. Saya pamit. Pesan saya, lain kali hati-hati.” Akupun melangkah pergi. Tapi aku ingin menangis.

Yaa Allah, ternyata berbuat baik itu, terkadang berat. Beberapa kali aku menemukan HP orang, tetapi mereka selalu tersenyum saat kukembalikan. Tetapi malam ini, sepertinya aku kalah terhadap ujian. Fisik yang lelah, membuatku terasa begitu rapuh beserta imannya. Dan akupun benar menangis…

Ida Raihan

Kramat Jati, Sabtu, 06 Juli 2013 (21:56)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: