Oleh: Ida Raihan | 27 Oktober 2013

Umpama Minum Obat, Mati Lampu Sudah Overdosis

<!–[if !mso]>st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
Tidak dapat dielakkan lagi, saat ini PLN adalah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat Indonesia. Bahkan kini PLN telah menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat. Dari kota-kota hinga desa-desa yang paling kampung, seperti di desa Pagar Jaya yang terletak di daerah Tulang Bawang Barat – Lampung. Di daerah ini masuknya PLN memang belum lama. Pada awal 2010. Dan itu sudah merupakan keberkahan bagi penduduk desa tersebut.
Sebelumnya, kebanyakan warga Pagar Jaya hanya menggunakan lampu templon terbuat dari bekas kaleng susu, dengan daya nyala dari minyak tanah. Sejak listrik masuk, kebiasaan itu pun mulai ditinggalkan. Dan warga menyambut senang kehadiran PLN.Karena sejak itu mereka tidak perlu lagi membeli minyak tanah yang persediaanya juga semakin sedikit, dan sulit didapat.
Lampung (Dulu Lampung Utara sejak ada pemekaran jadi berubah, hanya  Lampung), tepatnya daerah Desa Pagar Jaya – Tulang Bawang Barat, menjadi lebih terang dari sebelumnya. Anak-anak yang belajar semakin semangat dengan adanya lampu listrik yang lebih terang. Mereka bisa mengaji tanpa ada khawatiran lagi menyenggol lampu, hingga menumpahkan minyaknya ke meja, ke pakaian, bahkan ke Al-Qur’an itu sendiri. Yang terkadang bisa menyebabkan kebakaran.
Anak-anak yang mengerjakan tugas sekolah juga tidak perlu sibuk lagi menutupi lampu saat ada angin kencang. Berbeda ketika masih menggunakan lampu dari minyak tanah. Anak-anak harus sibuk menutupi lampu agar tak padam saat angin menderu.
Intinya, berkat kehadiran PLN, semua jadi lebih mudah untuk dikerjakan. Dan pertemanan juga semakin meluas. Karena  sejak itu jejaring sosial, dan BLOG juga mulai dikenal di kalangan remaja Kampung.
PLN Yang Kucintai, Tetapi Juga Kubenci.
Saat ini saya bekerja di Jakarta. Tepatnya di daerah Kramat Jati. Setelah menjalani kehidupan di kota beberapa lama, menjadikan saya terbiasa dengan suasana terang. Lampu di kamar saya bahkan tidak pernah mati, kecuali saat saya tinggalkan ke kantor. Ketika malam, saya bahkan tidak mematikan lampu meskipun tidur. Karena saya memang takut terhadap gelap. Imaginasi saya akan membentuk gambaran-gambaran mengerikan ketika berada pada keadaan gelap. Karena itu saya membutuhkan penerang. Dan keberadaan PLN untuk terus terang, sangat saya harapkan.
Saya benci ketika tiba-tiba lampu mati. Tanpa komando, tanpa dipinta. Tanpa peringatan. Apalagi jika pas saya sedang harus mengerjakan tugas yang berhubungan dengan internet. Atau pas sedang mengetik di Microsoft. Rasanya benar-benar ingin menuntut PLN. Karena dengan dadakan mati lampu, saya sering kehilangan pekerjaan yang sudah saya kerjakan berjam-jam, karena saya belum sempat menyimpannya.
Sebagai seorang staff sebuah lembaga sosial yang pekerjaannya berhubungan erat dengan dunia internet dan komputer, saya tentu tidak akan bisa bekerja jika tanpa listrik. Hal yang paling mengesalkan adalah ketika tugas yang harus diselesaikan masih menumpuk. Seperti laporan yang harus diselesaikan. Kirim-kirim email harus segera dilaksanakan, tiba-tiba lampu mati. Sudahlah gerahnya minta ampun karena AC dan kipas tidak nyala, masih ditambah lagi dengan gelap. Masih plus dengan pekerjaan yang menumpuk. Rasanya benar-benar ingin marah-marah kepada PLN. Sudah begitu, ketika ditelepon untuk pengaduan, customer service bawel pula. Komplit sudah derita pengguna.
Tiga Sampai Empat Kali Sehari
Ketika beberapa waktu lalu saya sempat pulang kampung di Lampung sana, saya merasa kelepekan sekali. Ternyata Lampung terasa begitu gelap. Semula saya berusaha bersabar dengan gelapnya keadaan tersebut. Mungkin memang segini jatah listrik untuk masyarakat Pagar Jaya, pikir saya. Saya berusaha menyesuaikan diri.
Tetapi, Olala! Ternyata itu belum seberapa gelap jika dibanding mati lampu. Saya mengira seperti halnya Jakarta, ketika mengalami mati lampu tidak sampai berjam-jam. Tetapi ternyata saya salah. Di Lampung tempat orangtua dan saudara-saudara saya tinggal, ternyata mati lampu sampai berjam-jam. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, matinya tidak cukup sekali dalam sehari. Tiga sampai empat kali. Sudah tak ubahnya sepeerti resep dokter menangani pasien yang sakit parah. Minum obat sehari tiga atau empat kali. Lebih parah lagi, terkadang mati lampu ini overdosis. Jika pelanggan adalah pasien dokter, bisa-bisa mati dadakan karena overdosis. 😀
Hong Kong Selama Tujuh Tahun Hanya Sekali Mati Lampu
Mau tidak mau, terpaksa saya harus membanding negara saya tercinta ini, dengan negara asing yang pernah saya tinggali. Ya, saya dulu pernah tinggal di Hong Kong selama enam tahun. Selama itu pula tak pernah sekalipun saya merasakan adanya mati lampu. Baru memasuki tahun ke tujuh, saya merasakannya. Itupun tidak lama. Hanya satu jam. Dan pemerintah Hong Kong, sudah mengumumkan malam sebelumnya, sehingga warga tahu apa yang harus dilakukan. Menyiapkan air buat mandi dan kebutuhan lain, memasak buat makan siang, dan mengerjakan tugas-tugas yang bergantung pada listrik.
Sekarang, apa yang membedakan negara tercinta kita ini dengan negara tersebut? Mengapa negara tersebut bisa bertahun-tahun tanpa mengalami pemadaman listrik, sedangkan negara kita, pemadaman listrik dilakukan sudah seperti pasien menikmati pil pahit sesuai resep dokter? Apakah ada hubungannya dengan moral para penghuninya?
Saya berharap PLN tetaplah bersih. Menjaga harapan masyarakat untuk tetap mempercayainya sebagai sahabat sehari-hari. Bukan malah sebaliknya, melayani sesuka hati karena merasa dibutuhkan.
Terakhir, sebagai pelanggan, saya sangat berharap di ulang tahunnya yang 68 ini, PLNBersih dapat terwujud. Tanpa ada korupsi dan kolusi.
Ida Raihan
Kramat Jati, Minggu, 27 Okt 2013 (21:35)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: