Oleh: Ida Raihan | 9 April 2014

SAKSI SEJARAH POLITIKKU

ImageBagi kamu yang pernah membaca novelku ‘Cintaku di Negeri Jackie Chan’, mungkin kamu akan mengenal sosok bernama Irhas Mujahid. Sosok yang kukenal di kajian online dari streaming PIP-PKS Japan.
Kami sempat didekatkan oleh Al-Qur’an ketika itu. Hingga kami merencanakan sebuah pernikahan. Namun di kemudian hari, kami dipisahkan oleh politik. Terlalu sakit bukan (sedikit mellow)?

Irhas adalah pendukung fanatik partai PKS (aku belum tahu apa itu PKS waktu itu. Karena memang belum pernah terlibat perbincangan apapun tentang partai), sedangkan aku adalah orang yang belum pernah berpartai sama sekali. Dan saat itu aktif di sebuah komunitas yang anti politik. Sehingga masukan-masukan yang kuterima adalah ‘Jangan berpartai’ (saat itu tahun 2009. Dan karena perbincangan itulah aku mulai sedikit-sedikit tahu apa itu PKS, dan beberapa nama-nama partai lainnya).

Tetapi, sebenarnya bukan itu yang membuatku tidak pernah ikut dalam pemilu. Aku adalah salah satu penghuni Indonesia, yang sudah terlalu kecewa pada pemimpin negeri ini (systemnya barangkali? Entahlah aku juga tak begitu mengerti). Sehingga aku berfikir, terlibat atau tidak terlibat dalam pemilu, tidak akan pernah berpengaruh dalam hidupku. Yang jelas, aku hanya merasakan gagal dalam meraih cita-cita. Dan ini adalah hal yang paling sulit untuk hatiku menerima partai apapun di bumi Indonesia ini. Maka golput adalah pilihan. Selama bertahun-tahun kedewasaanku.

Lima tahun berlalu. Sejak itu pula aku tak pernah lagi bertemu dengan Irhas. Aku masih tak pernah berfikir akan mengikuti jejaknya dalam mendukung sebuah partai. Tak pernah terpikirkan olehku untuk ikut pemilu dan memilih salah satu partai.
Hingga satu minggu jelang pemilu 2014. Aku mulai berfikir, saat melihat fenomena di sekitarku. Aku mulai gelisah namun tetap kuabaikan.

Empat hari jelang pemilu, entah mengapa hatiku terasa begitu tak menentu. Antara sebuah pertanyaan dan keinginan. Haruskah aku ikut melibatkan diri dalam pemilu kali ini? Lalu siapa yang akan kupilih? Masih adakah calon pemimpin negeri ini yang bisa dipercaya memikul amanah rakyat? Tapi, aku ingin berkontribusi untuk Indonesia semakin baik. Aku mencintai Indonesia. Negeriku tercinta.

Hatiku terus berkecamuk. Antara ikut memilih, atau datang saja ke TPS saja untuk menggagalkan suara agar tidak ada yang bisa menyalahgunakannya.

Semakin dekat hari pemilu, hati semakin galau. Beberapa nasehat masuk, perdebatan terjadi. Doa terus kupanjatkan tuk peroleh petunjuk. Kafirkah jika aku ikut memilih dan mendukung partai yang konon katanya masih menggunakan hukum taghut? Lalu bagaimana cara memperbaiki system yang ada di negeri ini, jika tetap membiarkan Indonesia berada di tangan-tangan orang yang belum tepat?

Dan entah mengapa, diam-diam aku mulai tidak menyukai orang-orang yang golput. Akupun terus berdoa meminta pentunjuk Allah.
Hingga akhirnya, hari ini, Rabo,09 April 2014, setelah sehari sebelumnya sempat berdiskusi dengan salah seorang Ustadz yang kukenal di kajian PIP-PKS japan, Ustadz Syaikhul Muqorrobin (Beliau ini satu-satunya orang yang saat ini masih kupercayai sebagai Ustadz) kuputuskan bahwa aku adalah PKS.
Hari ini aku mendatangi TPS 63 daerah Kampung Tengah – Kramat Jati. Untuk memilih PKS.
Semua itu mengingatkanku pada Irhas Mujahid. Pria yang meninggalkanku karena perbedaan pendapat akan sebuah pemilu.

“Irhas Mujahid, di manapun engkau saat ini, semoga kelak engkau tahu, bahwa hari ini, untuk kali pertama dalam hidupku, aku berpartai. Aku telah memilih PKS.”

Ida Raihan
Kramat Jati, Rabo, 09 April 2014 (22:52)

 

Iklan

Responses

  1. saya juga ikut. tapi tak mencoblos partai yg mengusung agamaa. dalam hati saya, partai yg mengusung nama agama sudah gak laku lagi.

    • Kita memiliki hak untuk mensuarakan diri masing”. Jadi santai aja Bro… apapun pilihan kita, semoga itu yang terbaik buat kita dan bangsa 🙂

  2. yaa gitu deh

  3. Bu, boleh saya share artikel ini?

    • Silahkan, Pak. Semoga bermanfaat. Maaf telat balasnya.

  4. Salam kenal Ida… sebelum Pemilu pada saingan memenangkan suara, sekarang para pemimpin partai lagi sibuk kasak-kusuk saling menawar untuk berkoalisi 😀

    • Salam kenal Mbak Swastika.

      Iya, Ida jadi bingung juga akhirnya. Hump…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: