Oleh: Ida Raihan | 29 November 2014

JUTEK MENYELAMATKAN DARI GANGGUAN PRIA ISENG

Saya masih sangat ingat ketika kali terakhir terkena hipnotis pada Maret 2013 lalu. Waktu itu saya baru turun dari angkot 06 merah Pasar Rebo – PCG (Pusat Grosir Cililitan). Mungkin Saya memang melamun ketika tengah di angkot. Sehingga menarik perhatian  orang untuk iseng. Waktu itu, saya memang sedang ada beban yang lumayan berat.

Saya bahkan sampai tidak mengenali siapa saya, nama siapa, dan sedang ada di mana. Dari mana, mau kemana. Saya hanya mampu terdiam berdiri seperti orang linglung di bawah jembatan layang Pasar Rebo. Sekitar lima belas menit saya mengalami itu. Dan baru tersadar setelah ada seorang pria menepuk lengan dan bertanya, “Neng mau kemana?” mungkin pria itu melihat wajah saya yang tampak linglung dan tidak segera beranjak dari sana, padahal lalu lalang orang telah mengganti wajah-wajah baru yang kemudian kembali menghilang, namun saya masih tetap berdiri di antara kelinglungan diri. Sehingga membuat pria tersebut berniat memberikan bantuan. Pada saat itulah, saya kembali menemukan diri saya.

Hari ini, pagi tadi, pukul 09:00 saya telah sampai di PGC untuk menemui salah seorang teman, untuk menghadiri acara pernikahan kenalan kami. Setelah saya menyebrang dari Jl. Dewi Sartika hingga ke jalan menuju Halim (entah jalan apa, pokoknya menuju Halim aja). Yang banyak angkot warna biru telor bebek ngetem itu, seorang cowok memperhatikan saya dari jarak sekitar dua meter. Saya sempat menatapnya juga, bahkan ketika dia tengah tersenyum kepada saya. Tapi karena dia kagak ganteng, jadi gak ada adegan kayak di film itu ya?
Sialnya nih, entah bagaimana, saya merasa mengenal cowok tersebut. Pria itupun semakin melebar senyumnya. Lalu, menawari saya makan, saya tolak, minum, saya tolak, hingga ke snack, saya tetap menolak dengan alasan sebentar lagi akan makan di pernikahan teman. Saya juga merasa jengah dengannya yang terus-menerus mengaku kenal saya, tetapi saat saya tanya kenal di mana, dia hanya bilang di suatu tempat tetapi tidak ingat. Anehnya saya juga merasa sangat mengenalinya. Tetapi yang lebih aneh lagi, hingga detik ini, saya belum bisa mengingatinya di mana pernah bertemu. Padahal biasanya ingatan saya cukup bagus.
“Di mana rumah sakit Sukamto?” Ini tujuan semula saya mengapa mau mendekati saat ia mengembangkan senyum lebarnya. Teman yang mau jalan bersama saya ke acara nikahan, menunggu di rumah sakit Sukamto.
“Itu sangat dekat.” Katanya sambil menunjuk dengan dagunya. Saya pun mengirimkan pesan WhatsApp ke teman yang menunggu di Sukamto. Pesan bahwa saya akan menemuinya di sana. Dan balasan, “Oke” pun saya terima.
“Jalan ke sana?” Tidak sabar, saya menunjuk jalan yang ia tunjuk.
“Saya anter.”
“Katakan saja di mana?” Saya kesal.
“Sabar apa, makan dulu lah,”
“Tidak.”
“Ya udah yuk kuanter.” Karena merasa kenal, saya pun mengikuti ketika dia berjalan. Saya menduga dia adalah kenalan dari komunitas Ta’aruf. Dan pernah bertemu dengannya di Masjid At-Tin. Sialnya, setelah berjalan beberapa meter, cowok yang di awal telah membuat saya menahan marah ini akhirnya saya damprat juga. Pasalnya, hingga kami sampai ke Pasar Kramat Jati dia masih mengajak untuk terus berjalan.
“Katamu dekat? Kenapa sampai sini??”
“Itu sedikit lagi.”
“Sedikit apa? Dekat itu sepuluh atau dua puluh meter! Bukan dua ratus tiga ratus meter!” Kalo tanduknya tampak, mungkin muka saya sudah serupa jin Ifrit saat itu.
“Ya kan sambil olahraga, jangan marah-marah kenapa sih?” Sahutnya.
“Hei… ini bukan masalah olahraga atau bukan ya? Tetapi waktu saya sudah mepet! Tadi bilangnya dekat! Kalo tahu sejauh ini bukan saya yang kesini! Tetapi dia yang saya suruh datang ke PGC!”
“Ya sudah yuk naik angkot.” Kata cowok itu. Mungkin dia kesal juga diomelin terus sepanjang jalan. Di angkot saya pun masih ngomel-ngomel padanya. Singkat cerita, kami pun sampai di gang RS. POLRI.
“Bang kiri.” Katanya pada sopir angkot.
“Loh kok rumah sakit POLRI? Kan aku tanyanya Sukamto?” Saya mulai curiga. Terlambat memang, tetapi lebih baik.
“Eh iya, masih sana. Jalan lagi, Bang.” Ucapnya pada sopir. Angkot pun kembali melaju, namun belum benar-benar bergerak, seorang wanita yang duduk di sebelah saya berucap, “Lho, rumah sakit Polri itu kan ya rumah sakit Sukamto?”
“Hah.” Saya turun dan berusaha menjauh dari pria tadi. Tapi dia masih mengikuti. WhatsApp saya berbunyi.
Teh di mana? Aku di sekitar angkot pada ngetem (Arah Halim – depan PGC). Sebuah pesan saya terima dari Group WhatsApp.
Masya Allah, Neng… kan Eteh udah bilang mau jemput Neng di Sukamto? Sekarang Teteh sudah di Gapura Sukamto , Neng malah ke PGC. Balas saya. Rasa capek semakin terasa.
Saya pun kembali menoleh pada cowok tadi yang belum mau pergi juga. Justru menawari saya untuk jalan-jalan di sekitar sana. Sial betol!
“Kenapa tadi masih menyuruh angkot jalan lagi, kalo tau ini rumah sakit Sukamto?” Saya semakin galak. Ingin rasanya mendorong tubuh cowok itu hingga masuk got paling hitam yang ada di sana.
“Yak kan situ yang bilang bukan ini.” Cowok itu ngeles.
“Saya kan belum tahu kalo rumah sakit POLRI juga disebut Sukamto!”
“Kamu marah-marah aja sih dari tadi?”
“Kamu tahu nggak saya laper? Kamu tahu bagaimana saya bisa menelan orang?” Lalu saya hentakkan tubuh saya pergi meninggalkannya. Kembali lagi ke jalan Halim untuk mencari teman saya tadi.
Pukul 10:30-an kami sampai di acara pernikahan. Rencana awal untuk datang lebih pagi demi menyaksikan akadnya mempelai, telah terlewatkan. Gagal.
“Hati-hati lho Mbak. Bisa jadi itu hipnotis. Salah satu cara menghipnotis adalah dengan membuat korbannya seperti merasa mengenali pelaku.” Dua orang sahabat yang lebih dulu sampai di acara pernikahan berkata saling menimpali, setelah saya menceritakan pengalaman saya pagi tadi.
“Untung Mbak jutekin, kalo nggak bakal kena tuh.”
“Hahahaha…” kesal saya sudah hilang begitu bertemu dengan teman-teman.
Ida Raihan
Kramat Jati, Sabtu, 29 Nopember 2014 (16:50)
Iklan

Responses

  1. (y) jutek itu emang terkadang penting. apalagi klw sm orh aneh yg sok kenal hehe… mampir ke blogku 🙂

  2. Iya bener Neng Yaya 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: