Oleh: Ida Raihan | 6 Maret 2015

PERJALANANKU BERTEMU SUAMIKU

IMG_1172NAMAKU Ida, aku ingin menikah dengan pria bernama Adi.

Aku adalah seorang admin di sebuah group di Facebook. Sebagai seorang admin yang aktif, aku cukup dikenal oleh ribuan member di group tersebut. Banyak yang menyukaiku, namun banyak juga yang sangat membenciku. Pasalnya aku adalah satu admin yang terkenal sangat jutek dan tegas. Bahkan tidak sedikit yang menyebutku AROGAN.
Ada banyak yang memujiku, namun banyak juga yang mencaciku. Tetapi aku tak pernah pedulikan semua itu. Aku tidak ambil pusing siapa-siapa yang mencaci dan menyerangku. Aku merasa tidak berkepentingan dengan semua itu. Dan aku tetap melakukan apapun yang aku mau.
Hingga suatu hari, tepatnya di bulan September 2014, seseorang tiba-tiba sering muncul di group itu. Komentar-komentarnya berhasil menarik perhatianku. Beberapa berhasil mengusik hatiku. Membuatku merasa tidak nyaman karenanya. Pria baru yang kutemui dengan tidak sengaja di Masjid At-Tin pada 21 September 2014 lalu.
Aku sedih ketika membaca beberapa komentarnya. Aku tidak pernah sesakit itu ketika banyak kritik dan cacian dari banyak orang mengenai postingan atau komentarku. Tetapi aku merasa sedih dan nyeri ketika dia yang mengkritikku dengan caranya yang menyindir itu.
Semua itu terjadi, karena aku sadar benar. Bahwa aku terusik akan kahadirannya. Pria yang sama sekali tidak menyukaiku. Bahkan lebih mendekati, membenci. Jatuh cintakah aku pada pria itu? Benarkah aku bisa jatuh cinta lagi, setelah bertahun-tahun tidak bisa mencintai?
Aku mendengarnya mengenalkan diri sebagai seorang ayah dari tiga putra yang gagal pernikahannya, saat kami sama-sama hadir di sebuah perkumpulan di Masjid At-Tin – Jakarta Timur. Waktu itu aku belum terusik akan keberadaannya. Aku bahkan tidak peduli dengan apa yang ada di hatinya. Tidak peduli dengan ketidaksukaannya kepadaku. Namun entah mengapa, seiring berjalannya waktu, pada pertemuan-pertemuan berikutnya di postingan dan komentar-komentar di group, aku merasakan ada sesuatu yang berjalan salah di hatiku. Menyelusup pelan namun pasti. Membuatku bergetar ketika mengingatnya. Padahal saat itu aku tengah merencanakan untuk menerima pria bernama Adi (Nama lengkapnya Adi W). Pria Jawa Timur yang kuketahui juga menginginkanku namun tidak berani memulai.
Namaku Ida, aku ingin menikah dengan pria bernama Adi. Tetapi Tuhan, mengapa aku terusik atas keberadaan pria baru itu? Pria yang kehadirannya di waktu yang sangat tidak tepat. Di saat aku sedang beradu pendapat dengan pimpinan komunitas untuk memperjuangkan perbantuan dana kepada pihak berhutang di Jawa Tengah.
“Jatuh cintakah aku? Tolong, Tuhan, jangan biarkan itu terjadi padaku. Aku tidak ingin jatuh cinta. Demi Engkau, Tuhan, jangan biarkan hatiku jatuh cinta.” Aku terus merapal doa.
Aku menangis di sepertiga malamku, memanjatkan doa kepada-Nya. Agar Dia menghapuskan rasa cinta ini kepada si pria. Sekali lagi aku tidak ingin jatuh cinta. Karena bagiku, jatuh cinta itu sakit. Dan memang sangat nyeri.
Tanggal, 27 September aku merekomendasikan admin tambahan untuk wilayah Jabodetabek. Pilihanku jatuh pada pemilik nama Daus Dassuy. Semua admin menyetujui, tetapi salah satu Admin lain, Riska, merekomendasikan pemilik nama Khalid Hanafi (Karena Daus Dassuy menolak untuk menjadi admin). Dalam hati aku menjerit, Tuhan…, mengapa harus dia? Ya, pria itu bernama KHALID HANAFI. Melihatnya di grup saja sudah membuatku tidak nyaman. Mengapa harus masuk ke jajaran admin jua? Tetapi apa alasanku menolaknya? Bukankah dia member yang baik dan memang bagus untuk menjadi admin? Pemahaman agamanya lumayan bagus. Dan dari catatannya dia juga memiliki wawasan yang luas. Selain itu, dia juga memiliki pengalaman untuk sebuah pernikahan. Aku tidak memiliki alasan untuk menolak dia masuk ke jajaran admin. Apalagi semua telah menyetujui.
“Baiklah aku akan meminangnya untuk menjadi admin. Setelah itu, aku akan pamitan mengundurkan diri.” Gumamku dalam sendiri (kelak, pengunduranku tidak disetujui oleh ketua).
Bersamaan dengan itu, seorang wanita mengirimiku inbox. Usia 28 tahun. Entah mengapa, tiba-tiba aku menemukan ide untuk meminimalisir hati, agar tidak terganggu dengan keberadaan Khalid.
Jika Khalid sudah menikah, aku pasti aman. Hatiku akan lebih tenang, karena aku tidak mungkin mengharap pria yang telah beristri. Aku berfikir akan menawarkan akhwat 28 tahun itu kepada Khalid.
Sore itu kuputuskan inbox Khalid, karena memang wawancara calon admin adalah tugasku. Tetapi, dia menolak untuk menjadi admin, meskipun telah kuiming-iming untuk menghadiahinya seorang istri.
Aku mencoba melupakan, dengan menyibukkan diri di group. Coba mengalihkan hati dengan mengikuti canda teman-teman. Komentar di postingan-postingan Adi W dan gengnya yang terkadang nyleneh. Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Jikapun sebelumnya aku pernah berkomentar, paling-paling hanya menegur agar mereka memperbaiki postingan atau menyudahi. Karena aku menilai postingan dan komentar-komentar mereka selalu saja penuh dengan canda. Aku benci sesuatu yang kebanyakan bercanda.
“Ada apa denganmu?” Di luar dugaanku, salah seorang sahabat, pria asli Bandung, menyapaku via inbox. Dia adalah sahabat karibnya Adi.
“Maksudnya?”
“Ini bukan Nurul Ikhlas. Setahuku Nurul Ikhlas tidak begitu.” Lanjutnya. Di komunitas tersebut, aku memang dipanggil dengan sebutan Nurul Ikhlas. “Ada apa? Kamu sedang ada masalah?” Saat itu juga airmataku menitik. Ternyata ada yang begitu peka dan peduli terhadapku. Sehingga dia bisa melihat dengan jelas perubahanku. Ya! Mungkin bagi banyak teman, adalah hal yang mengherankan ketika melihatku bisa bercanda dengan teman-teman di facebook. Karena, mereka sudah terbiasa dengan seorang Ida Raihan/Nurul Ikhlas yang judes, cool, dan tegas. Mereka tidak melihat Ida bercanda. Karena Ida memang tidak suka bercanda. Sebagian besar menilai, Ida itu wanita yang misterius. Tidak memiliki cinta di hatinya.
“Aku tidak apa-apa.” Aku mencoba menyembunyikan.
“Tidak mungkin. Kamu berubah. Pasti ada apa-apa.” Katanya lagi.
“Sudahlah. Aku hanya ingin membaur dengan kalian.” Belaku. Namun dalam hati aku merasa salut kepadanya. Begitu besar perhatiannya padaku, sehingga dia tahu perubahanku. Dia seperti membaca usahaku dalam menyembunyikan rasaku. Yang semakin dalam rasa itu coba kusembunyikan, semakin tertekan aku merasakan.
Hingga akhirnya kuputuskan. Aku tidak ingin melihat Khalid lagi dengan kondisi seperti ini. Kuputuskan untuk menutup akun Facebookku, dalam waktu yang aku sendiri tidak tahu.
Tanggal 04 Okt 2014, Sabtu, salah seorang teman, Ariyati namanya, menelepon mengajak datang ke Setu Babakan.
“Ada siapa saja?” Tanyaku.
“Maya Noviarti, Hotib Ahmad, Khalid Hanafi.” Sahutnya. Oh… dia lagi! Aku berseru. Sempat tercenung sebentar. Hingga akhirnya memutuskan, bukankah kau Muslimah Tangguh, Ida? Kau harus melawan rasamu! Ayo temui dia! Jangan menjadikanmu sendiri rapuh seperti itu. Tunjukkan bahwa kau adalah Muslimah Tangguh!
”Okay, aku akan kesana!” itu merupakan pertemuan keduaku dengan Khalid. Hatiku bisa lebih tenang ketika bertemu untuk kedua kalinya itu. Kami hanya membicarakan masalah group. Karena sebelumnya aku pernah melamarnya untuk menjadi admin, maka, pertemuan itu kumanfaatkan untuk menjelaskan apa saja tugasnya admin.
“Kita lihat deh tanggal duabelas.” Sahut Khalid.
Sore kemudian, jelang perpisahan, sekali lagi kutawarkan seorang akhwat untuknya. Kali ini gadis usia 30 tahun. Dan kami sepakat untuk nadhor (bertemu) di tanggal 12 Oktober 2014. Kami komunikasi melalui WhatsApp untuk menyambunginfokan tentang Khalid dan si akhwat.
Tanggal 12 Oktober yang kami tunggu pun tiba. Pertemuan antara aku, si akhwat, pendamping akhwat, dan Khalid telah terjadi. Namun, beberapa jam setelah itu, si akhwat menyampaikan bahwa dia belum siap untuk melangkah dengan Khalid.
“Belum jodoh.” Gumamku. Dan kutawarkan akhwat lain lagi kepadanya. Kali ini gadis usia 27 tahun. Salah satu member yang saat itu hadir di At-Tin. Baik Khalid maupun si wanita sama-sama setuju.
Dua malam kemudian, Khalid baru mengirimkan biodatanya (saat itu dia telah menjadi admin). Namun bersamaan dengan itu, Khalid memintaku untuk membatalkan rencanaku memprosesnya dengan akhwat yang di At-Tin.
“Kenapa?” Tanyaku, sedikit menyesali karena si wanita telah siap menjalani proses dengannya.

“Karena aku ada yang lain.” Sahutnya.
“Bolehkah aku lagi yang membantu prosesmu?” Pintaku. Karena aku sudah bertekad akan melawan rasa di hatiku.
“Tidak. Terimakasih.” Sahutnya. Saat itu juga, aku merasa sedih. Sangat sedih. Mengapa Khalid tidak mengijinkanku untuk memprosesnya? Mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk melanjutkan membantunya? Minimal, biar ada kepuasan di hatiku, karena bisa menaklukkan rasaku? “Dia pasti akan meminta bantuan admin lain.” Aku menduga-duga. Dan keyakinanku jatuh kepada Riska, karena Khalid memang dekat dengan Riska.
Malam itu, pada sepertiga malamku, lagi-lagi aku menangis. “Tuhan, apa maksud-Mu dengan semua ini? Mengapa aku harus jatuh cinta lagi? Tolong Tuhan, jika memang dia bukan yang Kau takdirkan, hilangkan rasa ini. Jauhkan dia dariku sejauh-jauhnya.”

Beberapa hari kemudian, aku memperbarui photo profilku. Photo dengan jilbab biru dengan wajah tertutup masker bergambar kucing. Pada saat itulah seorang pria asal Papua bernama Herman berkomentar, “Nurul Ikhlas/Ida Raihan itu, seorang wanita yang tidak memiliki rasa cinta.” Aku tertawa membacanya. Dan membaginya ke teman-teman di admin.

“Emang bener ya aku tidak memiliki cinta?” Tanyaku kepada mereka.”Sebegitunya. Nggak gitu-gitu juga kali.” Khalid dan beberapa teman muncul di postingan tersebut. Kami mendiskusikan masalah cinta. Lebay memang karena kami bukan anak-anak muda lagi.
Tidak lama kemudian, tepatnya 13 Oktober 2014, Khalid memposting tulisan di group bertema CINTA. Di postingan Khalid tersebut, komentar-komentar  dari puluhan member berlangsung dan memanjang. Aku dan beberapa admin juga hadir di postingan tersebut. Hingga akhirnya sampai pada komentarnya, “Tirulah Ibu Khadijah.” (14 Oktober 2014 – 17:32)
Maka akupun menyahutnya,
“Mas Khalid, kenapa sebagian dari kami belum berani melakukan seperti apa yang dilakukan Khatijah kepada Muhammad, karena: Kami belum serupa Khatijah. Beliau memiliki kelayakan untuk itu. Dari segi keshalihahan, beliau nomor 1. Dari segi akhlak beliau nomor 1, dari segi kekayaan, beliau memiliki semua itu. Dari segi kecantikan, beliau sempurna di kala itu. Lalu apa yang kami miliki untuk bisa ditawarkan? Sebagian dari kami hanya wanita akhir zaman yang, baru mampu meneladani ketaatan beliau. Dan untuk itu kami masih sering tergelincir ke lembah kedurhakaan kepada Rabb kami. Jika kita lihat fenomena pernikahan masa kini yang seolah-olah pernikahan sebagai sesuatu yang layak untuk dijadikan bahan ujicoba, kami pesimis untuk bisa diterima oleh kalian yang menginginkan kesempurnaan. Tetapi ngomong-ngomong Nurul tertantang dengan pernyataanmu, ‘Jika seorang Nurul Ikhlas, melakukan hal serupa apakah seorang Khalid akan menerimanya?’ (14 Oktober 2014 (17:51)

Lalu ke Ratri Yuliestien (salah satu admin juga), yang waktu itu hadir di postingan, saya berkata, “Mbak Ratri Yuliestien, tolong donk lamarkan Khalid Hanafi Untuk Nurul. Terimakasih.” (14 Oktober 2014 – 17:51)

Setelah itu senyap. Setiap pertemuanku dengan Khalid dan teman lainnya hanya membahas masalah group. Ratri menghilang karena kesibukan rumah tangganya. Hingga satu minggu berlalu. Khalid menghubungiku karena ada sebuah masalah di group. Pada beberapa kesempatan dia memang sering meminta bantuanku untuk masalah hal seperti ini, karena dia menganggap aku yang lebih tahu untuk mengatasi permasalahan di group. Setelah perbincangan selesai, kami menutup obrolan. Namun sebelum kami benar-benar mensudahi obrolan WhatsApp tersebut, Khalid masih sempat menulis sebuah kalimat, “Sebenarnya aku sedang menunggu utusan.”

Aku sedikit terkesiap.

“Haha… Ratrie Yuliestin?” Tanyaku, menebak.

“Ya.” Sahutnya.

“Aku mencegahnya untuk melakukan itu.” Sahutku datar. Ya, aku memang meminta Mbak Ratri untuk tidak melakukan permintaanku seminggu sebelumnya. Aku tidak siap untuk ditolak oleh Khalid. Aku tidak siap untuk lebih sakit lagi. Sebagai gantinya, Mbak Ratri menyampaikan ada tiga pria yang menyatakan keinginannya untuk menikah denganku. Dua di antaranya Jawa Timur, dan satu Jawa Tengah.

Selain Mbak Ratri, ada juga Mbak Prita Nurma Sari, dia juga menawarkan tiga orang pria yang menyatakan keinginannya untuk hidup denganku. Satu Jawa Timur, satu Jakarta Timur, dan satu lagi Jakarta Selatan.

“Biar Ida istikharah dulu ya, Mbak. Mungkin yang Jakarta Timur, lebih dekat.” Sahutku tidak yakin.

Tanggal 21 Oktober 2014, tepatnya pukul 22:55, Mbak Ratri Yuliestien menghubungiku.
“Nurul, siap ta’aruf dengan Khalid?”
“Apakah Khalid, mau Mbak? Nurul memang menginginkan Khalid. Tapi takuuut banget. Kalo ingat ini melow mulu. Hikz… Khalid banyak yang suka sepertinya.” Sahutku.
“Walaupun banyak yang suka, tapi mengenai hati, Khalid yang lebih tau. Hatinya ditujukan ke siapa. Nurul siap?” Sahut Mbak Ratri.
Meskipun tidak yakin dan gemetar, akhirnya aku menyahut, “Iya, Mbak.”

Malam itu aku diundang di conference parallel oleh Mbak Ratri. Yang ternyata sudah ada Khalid di sana. Saat itu juga, aku bersujud syukur, ternyata Khalid berkenan ta’aruf denganku.
Kelak Khalid bercerita, bahwa dia pernah mendadak terbangun di tengah malam. Dan saat itu juga dia teringat Nurul Ikhlas/Ida Raihan (berasa kayak Jodha dan Akbar. 😀 ). Sejak itu, dia jadi terpikiran Ida Raihan terus menerus. Dan hatinya mulai terusik. Tumbuh keinginan untuk hidup bersama Ida Raihan (Nurul Ikhlas).
Kata Khalid kepada Ratri (saat Mbak Ratri menanyai kesediaannya untuk dita’arufkan dengan Nurul), “Sebetulnya saya memperhatikan beberapa admin, saya cenderung lebih memilih admin, karena admin saya nilai lebih mengetahui masalah pernikahan dan punya wawasan yang luas. saya memperhatikan nurul ikhlas dia perempuan yang pandai walaupun awalnya saya tidak begitu suka. hingga saat dia menghubungi saya mengajak agar mau jadi admin.
Saya mulai memperhatikan dia dan saya mengetahui bahwa nurul ikhlas suka sama saya. Mungkin hanya feeling.
tapi dikuatkan dengan komen-komen Nurul di grup. dia mencoba mentaarufkan saya dengan seorang member tapi si member ini menolak, dan Nurul mencoba (lagi) untuk mentaarufkan saya (dengan yang lainnya), tapi saya menolak karena hati saya berkata lain. Pagi itu selasa, saya menghubungi Neng Riska minta waktu (untuk bertemu) untuk membicarakan sesuatu berkaitan dengan hati saya. Lucunya sore harinya Neng Nurul melamar saya lewat komen di grup dan di sana ada Neng Ratri. Padahal yang mau saya bicarakan dengan Neng Riska adalah agar saya ditaarufkan dengan Nurul. Ternyata Allah menyayangi saya, tidak perlu menunggu hari sabtu (waktu yang dijanjikan oleh Neng Riska), eh…. sorenya Nurul yang ngomong sendiri.” (20 Oktober 2014 – 22:01)
Ternyata di dalam diam, kami sama-sama berharap satu sama lain.
Dua hari kemudian dia meminta biodata dan photoku untuk dikirimkan ke Ibundanya di Surabaya. Bersyukur, tanggapan mereka positif. Kami terus bertukar informasi satu sama lain (didampingi Mbak Ratri Yuliestin). Hingga 03 Januari 2015, di kantor Migrant Institute Kramat Jati, kami meresmikan pernikahan secara sederhana. KHALID PUN MENJADI MILIKKU. Walhamdulillah… 🙂

NOTE: Ahya, ternyata beliau adalah duda anak satu. Saat perkenalan di At-Tin waktu itu, saya kurang memperhatikan, jadi seperti mendengar duda cerai beranak tiga 😀

Ida Raihan
Kramat Jati, Sabtu, 14 Februari 2015 (18:07)

Iklan

Responses

  1. Duh senengnya :).
    Semoga bahagia, rukun selalu dan tetap sehat. Salam buat Mas Hanafi. Kalau pas kalian ke Surabaya, mampir ya 🙂

    • Aamiin yaa Rahmaan… Insya Allah Bro. Emang Mas Anto di Surabaya?

      • Iya. Sejak Desember kemarin kami di Surabaya.

      • Enakan di Jakarta Bro 😀

  2. Oalah ternyata gt ya. Alasan taaruf dg beberapa orang. Cuma sbg kedok aja agar perasaan ilang. Saya kecewa dg anda. Kupikir admin tuh konsekuen hendak menikahkan membernya. Member bnyk yg lum nikah tp adminnya ngincer yg terbaik bt dirinya sendiri… Saya kecewa karna merasa dipermainkan karna dl kupikir sm2 pernah dekat tp ternyata hanya pelarian. Cih smg nanti di akhirat blh meminta pertanggung jwban ttg itu.

    • Hehe… Masih belum berubah juga ya? Panjang lebar dijelasin diinbox bahwa kita bukan siapa siapa. masih juga gak mudent. Ayo kita tunggu saja pertemuan di akhirat, biar ane bisa mentertawakan ente bersama malaikat yang menonton rekaman kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: