Oleh: Ida Raihan | 29 Juli 2015

Ketika Ego Mendominasi Diri Kita

Pernahkah Anda merasakan tidak enaknya merasa terdzalimi selama berjam-jam? Lima belas jam misalnya? Kita tentu akan merasa sedih, kecewa, dongkol, bahkan marah jika itu kita rasakan. Jangankan sampai berjam-jam, selama sepuluh menit saja rasanya kita ingin protes dengan hal tersebut.

Sebuah kedzaliman kadang terjadi karena sebuah ego yang diperturutkan oleh salah satu fihak. Mungkin kita pernah melakukannya, disadari atau tidak, namun merasa telah melakukan yang benar. Sementara di sisi lain seseorang merasa telah terdzalimi oleh prilaku kita. Semoga itu tidak terjadi.

Tulisan saya kali ini adalah mengulas keegoisan orang ketika melakukan perjalanan. Ada ungkapan yang pernah saya dengar, “Di jalanan, orang selalu merasa benar. Baik yang menabrak ataupun yang ditabrak (jika terjadi kecelakaan). Bahkan terkadang orang yang telah melawan arus sekalipun merasa diri melakukan yang benar.” Hmm… Semoga apa yang saya dengar ini adalah salah.
Begitu juga ketika di dalam sebuah angkutan umum, banyak orang yang tidak berani membayar lebih namun menginginkan kenyamanan maksimal. Dan tidak sedikit yang demi mencapai kenyamanan itu mereka merampas hak orang lain. Mengorbankan kenyamanan orang lain. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Mungkin karena orang lain tersebut bukan orang yang dikenalnya? Atau entahlah…

Sebuah pengalaman saya dapatkan ketika saya dan suami pulang dari Surabaya tanggal 25 Juli 2015 kemarin, dengan menumpang bus ekonomi Jurusan Madura – Pulo Gadung. Saya berada satu bus dengan rombongan dari daerah yang berbeda. Dua orang wanita duduk di kursi depan kami. Di bus ekonomi, fasilitas tentulah terbatas. Jarak antara kursi satu dan lainnya tidak seluas kursi di bus exsekutif yang bisa dibuat memanjang ke belakang untuk bersandar. Di bus ekonomi, kursi memang bisa dibikin roboh ke belakang untuk rebahan, tetapi yang duduk di kursi belakangnya akan terganggu. Dua wanita di depan saya ini melakukan hal serupa. Saya yang berada di belakangnya sangat merasa terganggu, maka saya mencoba menawar, “Tolong dong Mbak, jangan dibeginiin kursinya, karena di sini jadi sempit.” Semula wanita ini menerima permintaan saya. Tetapi tidak lama kemudian, usai kami beristirahat untuk sholat asar, kedua wanita di depan kami bertukar tempat satu sama lain. Dan wanita yang duduk di depan saya kembali menurunkan kursinya untuk bersandar, sekali lagi saya meminta hal serupa. Namun di luar dugaan saya, dia malah marah-marah. Dan menyuruh saya melakukan hal serupa.

Saya menoleh yang duduk di belakang saya. Dalam hati saya bertanya, apa iya, saya harus melakukan hal yang dapat membuat orang di belakang saya merasa tidak nyaman karena hak duduknya menyempit atas ulah saya? Maka kepada wanita yang duduk di depan saya, saya berniat berkata, “Jika inginkan kenyamanan bisa tidur leluasa, seharusnya Mbak naik bus exsekutif.” tetapi baru sampai pada kalimat, “Seharusnya Mbak…” lengan saya disenggol sama suami. Meminta saya untuk mengalah. Dengan hati dongkol saya pun diam. Anehnya, wanita ini malah mengabarkan kepada rombongannya bahwa saya marah-marah kepadanya.

Saya tetap diam atas permintaan suami. Tetapi saya tidak habis fikir selama perjalanan itu. Mengapa ada, bahkan mungkin ribuan, orang yang begitu egoisnya mementingkan dirinya sendiri sementara dia abai dengan kesengsaraan orang lain? Di Indonesia ini ada banyak pilihan kendaraan yang bisa memberikan kenyamanan. Jika kemampuan kita membayar memang baru sebatas fasilitas sederhana, mengapa tidak menerima apa adanya? Seharusnya kita bisa menyesuaikan dengan kemampuan diri. Tidak memaksakan kenyamanan diri sendiri dengan cara merampas hak orang lain yang telah dijatah sama dengan kita.

Sungguh, saya prihatin sekali dengan sikap saudara-saudara kita yang masih mementingkan diri sendiri seperti ini. Semoga ke depannya kita bisa lebih peduli, dan bisa menghargai hak orang lain.
Saya jadi bermimpi, jika kelak saya bisa mempunyai perusahaan angkutan umum, maka bus yang ekonomi kursinya akan saya desain yang tidak bisa dibuat rebahan. Agar orang bisa memahami bedanya antara bus ekonomi dan exsekutif. Sehingga orang lebih faham akan hak dan kewajibannya.

Ida Raihan
Kramat Jati, Rabu, 29 Juli 2015 (11:56)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: