Oleh: Ida Raihan | 29 September 2016

Mau Kerja, Bayar Dulu Tiga Juta

image

Awal tahun kerja sebagai Staff Admin di wilayah Jakarta Timur

Awal tahun 1997, berbekal nekat dan selembar ijazah SD, saya pergi meninggalkan Lampung Utara menuju Cikampek. Itu adalah kali pertama saya meninggalkan Lampung. Tujuan saya hanya satu, CARI KERJA.

Sebagai seorang remaja yang belum genap 17 tahun, saya termasuk beruntung, karena untuk melamar kerja, saya tidak mengalami kesulitan meskipun bersamaan dengan saya para pelamar yang jumlahnya puluhan orang, menenteng ijazah minimal SMA, dan sebagiannya adalah sarjana. Begitu melamar, menjalani test, saya dipanggil dua hari kemudian. Langsung bekerja, tanpa biaya.

Sungguh berbeda dengan zaman sekarang. Pernah suatu hari ketika saya sedang menunggui dagangan, seorang remaja mengenakan seragam hitam putih mendekat. Setelah memesan minuman di warung sebelah, dia duduk di samping saya, seraya mengobrol dengan ibu penjual es, yang juga pemilik kios tempat saya bedagang.
“Berapa di situ Neng?” Tanya pemilik warung.
“Tiga juta.” Sahut remaja tersebut.
“Gaji pertama itu?” Saya menyahut. Merasa takjub dengan apa yang saya dengar. Bayangkan saja. Saya yang bekerja di sebuah kantor selama tiga tahun saja gaji tidak sampai di angka tiga juta. Lha ini anak baru pertama ngelamar dan interview kerja, gaji langsung tiga juta.
“Aduh boro-boro, Tante!” Ibu penjual es yang menyahut. “Itu bukan gaji, tapi bayar mau masuk kerja.”
“Hah? Kok?” Kali ini saya lebih terperangah lagi.
“Dulu si Nur (nama anak dia) juga gitu.”
“Ouw..”
Beda zaman. Mungkin banyaknya pelamar dan sedikitnya lapangan kerja di masa ini yang akhirnya membuat beberapa perusahaan menarik bayaran lebih dulu dari para calon pekerjanya. Entah hal ini sudah berlaku sejak kapan. Yang jelas selama ini setiap kali saya bekerja (di Indonesia), saya belum pernah membayar ke perusahaan tempat saya bekerja, calo, atau sebangsanya.
Sempat memang saya dimintai uang sewaktu saya interview melamar sebagai staff admin di sebuah perusahaan houseware. Tetapi saat itu saya diberi pilihan. Membayar sejumlah uang, atau meninggalkan ijazah asli. Saat itu juga saya langsung berdiri lagi, “Saya kerja mau cari uang, bukan mau bayar.” Ucap saya seraya mengambil berkas saya di hadapan personalia yang melipis dan ganteng.
“Lho?? Mbak bisa diterima kerja kok, cuma bayar segitu saja.” Ucap si personalia saat saya mengemasi barang saya.
“Terimakasih.” Saya langsung keluar ruangan. Memang yang dipinta tidak besar.  Hanya limaratus ribu Rupiah. Tetapi, saya berfikir ini adalah tindakan menyuap, dan saya keberatan karena prinship saya, “kerja untuk mendapatkan uang. Bukan untuk mengeluarkan uang” Inti pertama, saya mau cari uang bukan cari pekerjaan. Akhirnya saya mencari lowongan kerja lagi yang bisa memberi saya uang,  bukan yang meminta.
“Itu Nur bayar segitu sebagai karyawan tetap,  Buk?”
“Boro-boro. kontrak satu tahun doank, Ini hari ini baru dapet kerja lagi.” Sahut ibu penjual es. Memang beberapa bulan terakhir saya lihat anaknya di rumah terus. Dan ketika saya main kemarin sore si bujang tidak tampak.
“Bayar tiga juta juga Tante masuk kerjanya.” Lanjutnya.
Hati kecil saya jadi bertanya-tanya, apakah di negara tetangga, negara lain juga ada praktek semacam ini? Apakah ini diperbolehkan oleh negara dan agama?
Apalagi pekerjaan yang mereka dapatkan juga tidak berlangsung lama. Buktinya, si Nur, setelah selesai kontrak satu tahun, perusahaan tidak lagi memperpanjang kontrak. Artinya tebusan tiga juta itu untuk kontrak kerja satu tahun. Dan ketika melamar lagi di perusahaan lain, lagi-lagi dia harus membayar tiga juta. Miris.

Ida Raihan
Jati Pilar, Kamis, 29 Sept 2016 (08:10)

Iklan

Responses

  1. saya salut sama Mbak Ida yang memilih meninggalkan HRD daripada bayar (nyogok) kerja. Hal itu yang memang harus kita berantas. Btw emang waktu di kantor gaji berapa? #kepo #mautauaja

    • Kesel juga Teh. Orang Ida mau cari duit kok malah suruh ngeluarin duit. Ya udah sopan gak sopan tinggalin aja.

      Setiap tahun beda Teh. Ditahun ke tiga gapoknya 1,8, Ida. Alhamdulillah cukup buat makan sama ngontrak sebulan.

  2. DILEMA, hehehe… Mau cari uang malah dipintai uang. Ohh negeriku,..

    Beberapa teman ketika masuk SATPAM harus membayar dengan jumlah yang lumayan, praktek pencaloan entah apa namanya, sudah menjadi rahasia umum..

    Ehh selamat pagi Kakak…

    • Itulah Dik. Makanya Akak juga penasaran, apa di luar negeri juga ada ya praktek semacam ini. Hikz…

      Pagi juga pengusaha muda yang sukses.

      • Aamiin, Aamiin, terima kasih Ibu pengusaha kaya raya barokah penuh bahagia.. Hahaha..

      • Aamiin yaa Rahmaan. . Makasih Dik Irman. Mau nggak Mbak kenalin akhwat Serang? Sunda. *biar cepet nikah maksudnya 😀

      • Hahaa… Urusan perjodohan ini belom juga selesai ya, sampai kita benar-benar akad…

        Mauu dikenalin, gmna prosedurnya?😂

      • Iyalah. Sampai dirimu udah gak jomblo baru selesai. Kalo Dik Irman yakin mau Mbak kenalin, dia cewek Sunda, tinggal di Serang Banten, nanti Mbak tanyai dia, terus kita ketemuan. Nanti gampang diatur tempat dan waktu ketemunya. 🙂

  3. miris memang jaman sekarang mbak, malah ada yang miminta lebih dari 3 juta bisa sampai puluhan untuk bisa jadi pegawai honorer, daripada uang segitu untuk bayar orang mending buat buka usaha

    • Yupz! Saya juga pasti ogah Mbak Wida, suruh bayar segitu. Jangankan segitu gede, yang gopek aja saya ogah. Hikz…

  4. Saya sebagai HRD merasa malu dengan oknum yang seperti itu mba, wah jadi pengen nulis deh tentang ini. Salam kenal mba IDa ^^

    • Hayuk ditulis atuh Mbak Herva, biar para HRD lain ikut malu dan tidak melakukannya lagi.

      Salam kenal, dan semoga kita bisa membawa perbaikan bagi bangsa kita ini… 🙂

  5. Mau kerja saja pakai uang, nanti kalau kerja trus mikirnya kapan balik modal? Jadi nggak nyaman ah.

    • Nah itu yang ngeri. Lebih-lebih jika itu sampai terjadi pada para pekerja yang tugasnya melayani masyarakat. Bisa-bisa bukan perbaikan masyarakat, yang dipikirkan malah gimana caranya agar modal kembali. Naudzubillah. ..

  6. Saya malah punya kenalan yg harus membayar ratusan juta utk bisa masuk kerja. Hffttt… balik modalnya berapa tahun tuh😂

    • Wow… ngelamar kerja sebagai apa itu? PNS? Wah… wah… mending buat usaha lebih jelas arah dan kehalalannya kalo saya mah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: