Oleh: Ida Raihan | 30 September 2016

Hati-Hati Wisata Kuda di De Ranch

image

Gambar diambil dari Google

Akhir tahun hampir tiba. Artinya liburan panjang. Pasti banyak keluarga yang telah mempersiapkan diri untuk liburan. Nah, mengenai liburan ini saya ada cerita.

Saya suka kuda. Banyak orang suka kuda. Sejak kecil saya sering bermimpi bisa memiliki kuda putih yang gagah dan kuat. Saya selalu membayangkan bisa kemana-mana dengan menunggangi kuda. Bahkan saya berkeinginan memiliki ternak kuda.
Tetapi itu dulu. Sebelum kejadian 05 Desember 2015 lalu.

Saat itu saya masih bekerja di kantor Migrant Institute. Ranting Dompet Dhuafa yang konsen menangani permasalahan Buruh Migran yang bekerja si luar negeri. Setelah tiga tahun bekerja, itu adalah kesempatan pertama Migrant Institute mengadakan Family Gathering. Pilihan jatuh pada Bandung. Tangkupan Parahu, dan De Ranch, dan floating Market. Jum’at sore kami berangkat dengan empat mobil. Guyuran hujan dan macet mengiringi perjalanan kami. Dan sekitar pukul 20:00 kami baru sampai di Bandung. Makan malam, dan langsung istirahat di hotel yang telah dipesan jauh hari. Dingin langsung menyambut kaki-kaki kami begitu sampai di kamar hotel. Air seperti es, membuat saya tidak berani mandi.

image

Duduk manis di salah satu pojok Tangkuban Parahu

Keesokannya setelah sarapan, kami berangkat ke Tangkuban Parahu. Menikmati pemandangan pegunungan dengan lembah berasap berbau belerang. Sayangnya kami tidak bisa bertahan lama, karena hujan kembali turun. Kami kembali ke mobil,  dan menuju De Ranch. Sampai di De Ranch, kami menyebar ke segala tempat yang diminati. Ada yang langsung menuju ke danau menyewa kapal, ada yang mencari lokasi yang dianggap keren untuk berphoto. Dan ada yang langsung mengikuti anak-anaknya menyewa kuda. Saya dan suami Yang kebetulan sedang memegang camera kantor memilih duduk dulu menikmati susu strawberry dan melon hasil tukar tiket masuk (setiap pembelian satu tiket masuk De Ranch peroleh satu gelas susu yang telah sikemas). Setelah susu habis, baru kami berjalan mencari titik lokasi yang bagus untuk mengambil photo. Saya lebih sering menjadi bintang modelnya karena suami memang tidak suka selfie atau apalah jenis photo photoan. Di Padang rumput, beberapa kuda terlihat santai menikmati rumput. Saya tertarik untuk mendekati kuda yang paling besar. Warnanya memang bukan putih seperti yang saya inginkan. Tetapi kuda ini juga lumayan menawan. Maka mulailah saya berdiri di luar pagar tidak jauh darinya (jarak sekitar satu meter). Dan mulai siap untuk pengambilan photo. Satu dua jepret berhasil diabadikan. Dan saya pun memilih beranjak. Namun, baru dua langkah saya berjalan, tiba-tiba suami saya berteriak seraya menarik tubuh saya, sebelum saya menyadari apa yang terjadi,  saya merasakan sakit yang luar biasa menyerang lengan kanan saya. Banyak orang berteriak dan mendekati. Dan akhirnya saya menyadari, saya telah diserang kuda tersebut dengan cara digigit. Perih dan sakit takterbantahkan. Seorang pria yang sedang menuntun kuda lain, segera mengambil liur dari kuda yang dituntunnya dan mengoles di bekas gigitan di lengan saya. Tetap tidak dapat menghilangkan rasa sakit yang luar biasa. Atas sarannya saya disuruh ke kantor De Ranch untuk meminta pengobatan. Beberapa pekerja membuatkan ramuan dan membungkus luka saya. Masih belum bisa meredakan sakitnya. Pilihan terakhir, dan juga kekhawatiran terkena tetanus, atas ide teman-teman, akhirnya saya diantar ke Rumah sakit terdekat oleh pimpinan Migrant Institute. Dan diobati di ruang UGD. Menurut dokternya, sudah banyak pasien yang datang akibat serangan kuda di De Ranch.

Sungguh sangat disayangkan, De Ranch tempat wisata yang seharusnya menyenangkan,  justru bisa mengubah menjadi ketakutan bagi sebagian orang. Saya dan suami sempat mencari tahu, apakah di sana ada peringatan tertentu. Ya ada. Ada tulisan larangan agar tidak terlalu dekat dengan kuda. Sayangnya plang yang digunakan terlalu kecil dan menempel di pagar, yang tak semua orang jeli untuk memperhatikan. Dari sini, saya berharap fihak De Ranch mau memperbaiki plang peringatan tersebut, mengingati sudah banyak korban gigitan kuda di tempat tersebut.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat para orangtua jika ingin menuruti permintaan anak-anaknya menunggang kuda. Pastikan bahwa si anak benar-benar aman bersama kuda yang jinak lengkap dengan pemandunya. Karena, bekas gigitan kuda tersebut hingga kini masih membekas dan masih sering menimbulkan gatal dan nyeri.

Ida Raihan
Jati Pilar, Jum’at, 30 Sept 2016 (14:36)

Iklan

Responses

  1. Wuih, baru tau kalau kuda juga suka nggigit.. aku takutnya di tendang kalo sama kuda.. jangan-jangan kudanya stres ya mbak, dia merasa gak nyaman jadi tontonan banyak orang..

    • Umumnya gitu ya Mbak. Nyepak. la ini menggigit. Hew… sakitnya udah hampir setahun gak ilang ilang lagi. Kelihatannya sih dia tenang aja waktu saya mau photo Mbak. Tapi kok pas melangkah pergi malah disambar dari belakang. Hikz. ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH – JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

Dari satu tempat ke tempat lain kita bercerita dan berkarya untuk Nusantara

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Mr. Assa

L'amour Va Trouver Sa Place à S'ancrer Par Lui Même

AMEL OH AMEL

“One day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: