Oleh: Ida Raihan | 21 Desember 2016

Ketika Harus Melalui Hal Ini Sendirian

Masalah terberat yang dialami oleh ibu baru adalah, ketika harus melalui babyblues sendirian.

image

Di ruang ICU usai sesar

Melahirkan pada Jum’at siang, 11 November 2016, pukul 13:00, dengan proses sesar. Tanpa satupun keluarga yang menemani. Saat para perawat membawa saya masuk ke ruang operasi, saya berusaha menawar, “Apakah bisa menunggu suami saya?”
“Nggak bisa, Bu.” sahut salah satu perawat. “Dia juga lama tidak datang-datang.”
“Dia Jum’atan.” Sahut saya lirih. Dan sudah tidak dihiraukan. Para perawat terus mendorong ranjang di mana saya berbaring. Memakaikan penutup rambut di kepala saya.

Begitu masuk ruang operasi, orang-orang berpakaian hijau bergerak begitu cepat.
“Apakah Dokter Rizal tidak kesini?” Mata saya jelalatan mencari satu-satunya orang yang saya kenali setelah suami saya.

image

Rawat inap bayi

“Kenapa, Bu?” Sebuah suara menyahut.
“Saya mencari dokter Rizal.”
“Iya saya. Pasti kesini dong, kan saya yang akan menangani Ibu.” Sahut suara itu lagi seraya mendekat ke saya. Oh… rasa takut ternyata membuat saya tidak bisa mengenali suara dokter yang selama ini menangani kehamilan saya sejak usia 19 Minggu. Saya sedikit tenang setelah melihat sosoknya mendekat. Mengambil jarum dan menyuntik tulang di punggung saya.
“Ibu kenapa selama ini obat sama vitamin tidak diminum?” tanyanya.
“Kadang diminum kok, Dok.” Sahut saya.
“HB cuma 7 nih. Harus diminum vitaminnya. Kasihan bayinya. ” Sudah terlambat sekarang. Saya sudah ada di meja operasi.

Dua orang di kanan kiri saya memasang alat yang entah apa di kedua tangan saya. Satu lagi memasang alat dihidung. Dua orang (salah satunya dokter Rizal) berdiri di kanan kiri saya menghadap perut saya. Dua orang berada di ujung kaki. Dan satu lagi di belakang dokter Rizal sedang memegang alat yang dalam pandangan saya seperti Ponsel. Sejenak tidak ada suara selain suara berdesir dari alat di tangan kanan saya. Dan tiba-tiba terdengar suara tangis bayi.
“Nah Bu, benar bayinya perempuan.” Kata dokter Rizal seraya langsung memberikan si bayi kepada salah seorang perawat perempuan yang ada di sebelah ujung kaki saya, dan langsung membawanya pergi, keluar ruangan. Namun suara tangisnya masih terus terdengar. Entah rasa apa yang saya alami. Airmata saya mengalir dengan deras. Tetapi saya tidak tahu, itu airmata apa. Yang jelas saya seperti sedang tidak memiliki rasa. Mungkin hati saya ikut terbius oleh obat suntik dokter.
Tidak lama kemudian seorang perawat datang lagi dengan membawa bayi yang telah dibedong.
“Ini ya Bu anaknya perempuan.” Saya diam. Tidak tahu mau berbuat apa. Perawat menempelkan pipi si bayi ke pipi saya dan langsung dibawa pergi lagi. Semua begitu cepat, hanya seperti kelebatan. Airmata saya kembali mengalir deras. Hanya airmata, tanpa suara.

image

Si Cantik di ruang rawat inap

Tidak lama kemudian, alat-alat kembali dilepas. Saya kembali dipindahkan ranjang, dan didorong ke ruang ICU. Bertemu suami di sana. Dan lagi-lagi, airmata saya mengalir deras.
“Kenapa?” Tanya suami seraya mengecup lembut kening saya. “Mas Jum’atan tadi.” Saya hanya membisu. Melanjutkan airmata yang mulai dihapus oleh jemari suami. Yang lagi-lagi tidak saya ketahui itu airmata apa.
“Apakah Mas mengadzani dia?” Itu yang keluar dari mulut saya.
“Iya, sudah tadi.” Sahut suami. Lalu menunjukkan photo-photo yang bayi di handphonenya. Bayi yang begitu montok, putih kemarahan. Para perawat memasang infus cairan merah di tangan kiri saya (tangan kanan sudah ada infusnya). Saya harus ditransfusi karena kekurangan darah. Sabtu pagi, saya dipindahkan ke kamar rawat inap. Di lantai 3. Selama itu pula suami terus mendampingi. Tubuh saya sakit jika dibuat gerak, karena itu saya membutuhkan seseorang untuk membantu. Berayukur tempat kerja suami memberinya kebebasan memilih tidak masuk kerja untuk setia mendampingi saya.

Sabtu itu, Kakak dan adik ipar, Seorang sahabat bersama suami, anak, dan tetangganya datang menjenguk. Begitu juga Dokter Rizal. Hari Minggu saya sudah mulai berlatih untuk berjalan menjenguk anak di ruangannya. Belajar menyusui. Senin sore kami pulang. Lengkap sudah keluarga kecil kami. Ada Ayah, Bunda, dan Anak. Beri kebahagiaan kepada kami dunia akhirat yaa Rabbana…

Babyblues

Sebenarnya sudah beberapa kali saya membaca tulisan mengenai babyblues dan postpartum depression (PPD), tetapi ketika saya mengalami sendiri saya justru tidak menyadari bahwa saya sedang terkena babyblues. Yang saya tahu, saya tidak tahu, saya kenapa.

Di malam pertama kepulangan kami dari Rumah sakit, saya sangat menikmati menjadi Ibu. Menyusui, mencuci popok bayi, semua saya lakukan dengan senang meskipun tengah malam. Saya tetap senang meskipun tidak tidur. Berkali-kali mencuci pakaian bayi. Tanpa tidur. Esok paginya saya siapkan karpet di ruang depan, saya bawa bayi ke depan siapa tahu ada tetangga menjenguk.
Di malam kedua saya mendapati tubuh anak panas, rewel, saya mulai cemas dan merasa betapa tidak mampu mengurus anak. Ingin menangis tetapi saya malu karena ada suami. Namun pagi, ketika suami berangkat kerja, entah kenapa, setiap kali menatap wajah anak, airmata saya kembali mengucur deras. Yang lagi lagi, saya tidak tahu itu airmata apa. Seharian itu saya menangis. Setiap melihat anak, maupun membayangkan.

Sore kemudian, ketika suami menelepon, saya pun kesulitan bicara. Karena dada terasa sebakh dan airmata mengucur deras.
“Ya sudah, Mas pulang.” Ucapnya.

Malam ketiga saya pinta suami membeli alat termometer karena tubuh bayi panas lagi. Saat suami pergi beli termometer itulah saya menangis. Saya peluk anak saya dan mengajaknya bicara. Tangis saya sudah reda ketika suami pulang. Sebisa mungkin saya berusaha menghindarkan wajah dari pandangannya, agar tidak terlihat habis menangis.

Hasil test termometer 36,7 masih normal. Tetapi entah mengapa bayi rewel terus, dan mengejutkan saya ketika mendapati miss V-nya mengeluarkan darah di tengah malam. Terpaksa saya bangunkan suami yang langsung googling.

Keesokan harinya, sesuai jadwal, kami kontrol ke RS lagi. Saya ceritakan semua yang terjadi kepada Dokter Anak yang menangani. Dokter pun menyatakan bahwa anak saya harus dirawat inap. Duh… terasa sakiit hati ini. Tidak rela anak dirawat.

Akhirnya saya menelepon suami yang baru masuk kerja untuk pertimbangan. Suami pun datang. menandatangani persetujuan untuk rawat inap. Setelah itu saya bertemu dokter kandungan untuk kontrol bekas jahitan.
“Itu tidak apa-apa. Karena bayi masih membawa hormon ibunya.” Begitu kata Dokter Rizal ketika saya menceritakan tentang warna kuning di wajah dan tubuh serta darah dari miss V bayi.

Hari itu menjadi hari yang sangat melelahkan, saya harus menyaksikan anak diinfus, menjerit saat di suntik, menangis kejer. Hingga saya harus belanja peralatan perah asi karena saya tidak rela anak diberi susu formula.
Malam itu juga terasa panjang,  karena saya hanya boleh menemani anak hingga jam 19:00. Saya harus kembali tidur tanpa anak setelah tiga malam ada dia. Rasanya begitu hampa dan sakit. Airmata terus mengalir. Berkali-kali saya memohon kepada Allah untuk kebaikan anak saya.  Selama tiga malam kami kembali tidur berdua.

Minggu pagi kami kami diijinkan membawa pulang bayi kami kembali. Saya merasakan kebahagiaan. Apalagi Ibu mertua datang menjenguk dari Surabaya.

Selama seminggu saya dan anak ditemani Ibu mertua. Tetapi begitu Ibu mertua pulang, kami lagi-lagi hanya berdua ketika suami kerja. Entah bagaimana, ketakutan-ketakutan bermunculan. Sepi menyergap, padahal di depan pintu sangat ramai oleh tetangga. Rasanya kami hanya berdua di belantara entah mana. Mellow dan sedih yang entah karena apa mengiringi hari-hari saya. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah grup yang membahas MPASI dan menyusui si Facebook. Saya pun mencoba menceritakan apa yang saya alami. Dari sanalah akhirnya saya peroleh jawaban, bahwa saya terkena Babyblues. Sebuah syndrome yang rawan dialami oleh ibu yang baru melahirkan

Ida Raihan
Jati Pilar, Sabtu, 03 Desember 2016 (13:45)

Iklan

Responses

  1. Mbak Ida makasih sharingnya mbaaaa….
    Ditunggu sharing berikutnya ya mba… πŸ™‚
    Saya sedang menanti kelahiran anak pertama beberapa minggu lagi.
    Jadi artikel pengalaman seperti yang mbak alami sangat bermanfaat sekali buat saya… Semoga dedek dan mbak sehat selalu ya….

    • Iya Mbak Ema. Jadi kita harus cari info biar tahu. Saya sempet bingung, “saya ini kenapa?” baru setelah jumpa group sharing asi banyak Bunda-Bunda yang kasih tau.

      Aamiin yaa Rahmaan. Makasih Mbak Ema. Semoga dimudahkan persalinannya nanti ya. Sehat ibu dan anak.

  2. Kelahiran anak pertama saya juga byk kebingungan pengalaman irangtua atau teman tidak byk membantu waktu itu. semoga makin menikmati kebersamaan bersama buah hati

    • Bersyukur sekarang ada FB Mbak. Bisa gabung group group yang konsen ke sana. Tapi saya juga lambat tahunya. Udah stress panjang dulu baru nemu group. Cara orangtua beda dengan cara merawat bayi sekarang Mbak. makanya kadang malah bisa tambah stress kalo tanya ke mereka πŸ˜€

  3. Saya dulu juga sendirian Mba’, jauh dari mertua dan Mamak. Mertua cuma seminggu di rumah, sementara Ibu tidak bisa datang karena jauh. Duh, setiap hari perasaan cemas datang terus, mungkin juga karena jarang zikir ya, tapi Alhamdulillah tidak sampai kepada yang membahayakan, dan sekarang semua sudah kembali normal. Terus semangat ya Mba’.. πŸ™‚

    • Sama banget kita Mbak. Mamakku juga gak bisa dateng, Ibu mertua jenguk seminggu di sini.

  4. Aku juga dulu stres sendiri… karena waktu si bungsu baru 4 bulan, aku dan bapaknya anak-anak pisah rumah. Lumayan itu, dari berat 67 kg langsung susut jadi 45 kg πŸ˜€ Ida yang ngurus si baby imut sama suami pasti bisa lebih kuat. Semoga semua terlewati dengan bahagia ya, Da. πŸ™‚

    • Yaa Allah! Berat banget pasti itu Mbak. Semoga diganti Allah dengan kebaikan dan kebahagiaan berlipat ya Mbak.

      Iya, Ida bersyukur, meskipun suami kerja berangkat pagi pulang malam tapi beliau sangat memperhatikan kebutuhan kami. Kalo pulang kerja ada saja oleh oleh yang dibawa. Aamiin yaa Rahmaan. Makasih sangat Mbak Retno. Semoga kita semua bahagia.

  5. Peluk mb Ida. Aku jadi terhanyut dalam ceritamu mbak menghadapi hari2 itu. Tetap semangat yaa

    • Alhamdulillah. .. Makasih Mbak Mei. Iya nie butuh dipeluk dan dipuk puk. *saingan sama Dedek bayi donk?. πŸ˜€

  6. Aku kmrn jg 2x ngalamin babyblues mba. Anak pertama ama ank k2. Itu aku ga pengen nyentuh dia sama sekali. Ga pengen nyusuin, ga pengen deket2. Tapi untungnya suami sabaar bgt dan dia yg ambil alih ngurus si bayi.. Tp efeknya aku ga ngasih asi jdnya.. Tp ya sudahlah.. Yg ptg skr babybluesnya udh ilang πŸ™‚

    • Bisa ampek begitu ya Mbak? Syukurlah sekarang Mbak Fanny sudah bisa melewati semua itu. Semoga bahagia seterusnya…

  7. Wah sama mbak. Saya dulu juga kebingungan waktu anak pertama. Dan dulu saya blm akrab dengan internet apalagi fb. Tapi pas sdh anak kedua saya jd santai. Ngurus bayi sendirian tanpa orang tua maupun mertua. Baby blues jg sih sedikit tp gak separah pas anak pertama. Mungkin krn sy sdh lebih paham kali ya bagaimana menghadapi baby blues

    • Berarti Ida masih lebih beruntung ya Mbak, sudah melek internet sehingga bisa dapet masukan masukan dari teman-teman dari maya yang sudah pengalaman.

  8. Semangat mba ida.. Terima kasih sudah sharing.. Ini bisa jadi pengingatku nanti kalau sudah melahirkan… Semoga lekas sembu mba ida dan dedek bayinya…

    • Iya Mbak Mirna. Makasih. Harus banyak banyak cari info mengenai babyblues Mbak. Biar faham. Kasih tahu suami sejak dini atau suruh baca-baca tentang babyblues dan PPD, biar jika istri mengalami hal tersebut dia tahu apa yang harus dilakukan.

  9. Semangat mbak Ida! I know you can do it πŸ™‚
    Tetap jaga kesehatan yaaa…dan enjoy yr motherhood ya πŸ™‚ salam

    • Iya Mbak Dewi. Makasih supportnya.

  10. Semangaaat mba.. Saya jg melahirkan anak pertama sampai ketiga semua sendiri. Dulu tiap x ngerasa baby blue sy selalu makan coklat. Coklat slalu sedia d kulkas. Jangan lupa ambil wudhu jg klo lg perasaan ga menentu. Insya Allah dijaga Allah. Semangat yaaa.. Selamat untuk kelahiran bayi perempuannya.

    • Coklat Mbak? Ida coba deh. Makasih banget tipznya Mbak Fernan. Semoga sehat selalu Mbak dan keluarga.

  11. Semangat ya Mba Ida.. Saya pun sempat baby blues justru pas anak kedua dan berbulan2 setelah lahir. Setiap malam nangis terus tanpa sebab. Rasanya capek badan, capek hati. Lbh baik memang cerita mba, jgn dipendam sendiri. Terutama cerita ke suami.. πŸ™‚

    • Iya Mbak. Ida berfikir, apa iya harus ke psikolog. Kerasa lelah banget bukan karena ngurus bayinya. Tetapi dengan rasa yang menyebalkan ini. Capek dengan pikiran pikiran liar yang buruk. Ugh…

  12. Peluuuuuuk
    Kelahiran anak pertama memang membuat hidup kita tiba2 berubah mbak.
    Mendadak ada suara tangisan bayi dimalam yang tenang dll
    Tapi yakin dengan semangat cinta yang tulus pasti kita bisa lalui

    Saya pernah diposisi itu
    Nangis sendirian tengah malam, karena ditinggal ibu seminggu setelah melahirkan
    Ditambah suami tiba2 kena cacar air tak lama kemudian, wuaaaa itu rasanya campur aduk.
    Dirumah yang sama, ada bayi dan bertebaran virus cacar, gimana gak panik ya

    Sekali lagi
    Peluk mbak Ida

    • Berat ya Mbak. Bersyukur semua telah berlalu ya Mbak. Semoga permasalahan saya juga cepat berlalu.
      Pingiin banget suami ada di rumah terua dalam kondisi begini. Tapi memang gak bisa. Suami harus cari nafkah. Sementara keluarga tidak ada satupun yang bisa menemani.

      • Iya mbak berat memang, tapi yakinaja, kita semua pasti bisa melalui
        Sama mbak, kami di Bogor
        Sementara orang tua saya di Kendari, Mertua di Bali. Keluarga terdekat adalah tetangga hehe. Jadi ya mau gak mau semua dikerjakan sendiri

        Semangat ya mbak

      • Masih mending Mbak ada tetangga. Saya tinggal di kontrakan tetangganya bapak-bapak pegawai pabrik semua. Gak mungkin untuk ngobrol dengan mereka. Jadi carinya ya teman-teman di maya. Hikz…

      • Gpp mbak. Meskipun dunia maya, kita tetap bisa saling support ya

      • Yupz! Teman maya jadi saudara πŸ™‚

  13. Anakku juga pernah mbak..menstruasi pas bayi. Cuma 4 harian..trus ilang sendiri. Untung ada google..jd saya nggak panik.

    • Ida sempet panik la. Kirain effec dari badannya yang panas. Untung suami sigap segera nyaritau di Google.

  14. *Peluk Mba Ida*

    Saya dulu sendirian, Mba. Suami kerja di luar kota, hari kedua melahirkan, saya sudah menjaga 2 anak langsung, si sulung baru 2 tahun. Baby blues menyergap perlahan, haha saya gak mau nyususin si kecil, gak mau gendong karena takut ngelempar si kecil, ya gitu2 lah mba, takut saya mati, takut suami mati, hahaa

    Semoga dengan dukungan suami, semua bisa cepat di lalui ya mba..

    silahkan mba mampir di tulisanku https://tikaajahcukup.blogspot.co.id/2016/05/terbelenggu-kabut-baby-blues.html

    • Hah… lebih berat tu Mbak. Kalo saya ketakutannya lebih pada orang lain. Takut anakku disakiti. Bahkan mertua dan suami sendiri saya curigai. Hikz…

  15. saya terkena juga Mbak, hampir kayak orang gila rasanya. Bingung antara masih nggak enak bodi dan harus adaptasi dengan bayi baru. Suami juga binggung harus nolongnya dari mana…. hahahhaha bener-bener chaos banget deh… tapi untungnya banyak teman dan keluarga yang ternyata memahami dan memberikan pertolongan… ampun deh sejuta rasanya pergantian hormon itu….

    • Beruntung banyak keluarga yang menemani dan bisa ngertiin Mbak Junita. Saya hanya berdua dengan suami, itupun suami berangkar kerja pagi pulang malam ketika orang orang sudah mulai tidur.

  16. Moga baby bluesnya segera berlalu mbaknya tetap semangat dan sehat srlalu

    • Aamiin yaa Rahmaan. Terimakasih banyak Mbak Khairiyah.

  17. pernah mengalami juga, dua kali punya baby,, sekarang saya dan suami mutusin no more baby, cukup dua aja, demi kebaikan πŸ™‚
    dukungan lingkungan emang diperukan ya mbak TFS πŸ™‚

    • Serem ya Mbak. Barokallah ya mbak April. Semoga sukses anak-anak Mbak nantinya. Kami belum mikirin nie, pingin punya lagi atau gimana nanti.

  18. ya Allah, sampai menggenang air di mata saya. yg kuat ya mba.
    you are really a strong woman πŸ™‚

    • Hikz… Hikz… Saya jadi ingin menangis lagi membaca komen Mbaknya. Haha… Padahal udah berlalu. Ah, wanita memang mudah mellow…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Seni Hidup

=Ketidaksempurnaan Itu Cantik=

My Blog

My WordPress Blog

evRina shinOda

CORETAN LAIN BLOG EVRINA

Aksara Nomaden

Merindukan itu nyata. Mengulang kenangan hanya utopia.

TERANG DIARY

catatan sehari-hari terang

Right-Magic!

Merekah kedalaman dalam pikir

FOTOCOPY PERCETAKAN PRINTING MURAH JAKARTA

Percetakan | Fotocopy | Penjilidan | Printing | Desain | Finising| ATK Dll

PERCETAKAN JAKARTA PUTRA MANDIRI

Percetakan, Foto Copy, Penjilidan, Pengetikan, Design Grafhis, Print dan Komputer

Cha Fitoria

Let's Love...

Catatan Kenangan

Serba-serbi jejak yang tertulis

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Bacotan Madi Amplang

karena kamu baca artikel ini,akan aku jadikan kamu istriku

Sandry Boy Sandy

Berpikir Kritis, Menggali Kreatifitas, Tidak Pernah Mengeluh Dan Tetap Semangat, Serta Tetap Tersenyum Meski Tersenyum Dalam Kesedihan

Math on Journey

PMRI Blog: mathematics is all around us

CERITA PRIBUMI

DARI SATU TEMPAT KE TEMPAT LAIN KITA BERCERITA DAN BERKARYA UNTUK INDONESIA

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Perjalanan Menuju-Nya

kugesa ridha-Mu dengan asa yang tak berujung

Cerita Assa

L'amour Va Trouver Sa Place Γ  S'ancrer Par Lui MΓͺme

AMEL OH AMEL

β€œOne day your life will flash before your eyes. Make sure its worth watching.”

%d blogger menyukai ini: